Lebaran

Menyambangi Salah Satu Lokasi Penghasil Sarung Termahal Sedunia

Satu sarung songket sutra premium rata-rata dibanderol Rp9 jutaan. Bahkan, ada yang bisa tembus hingga Rp100 juta. Sarung BHS ini memang cocok buat perayaan lebaran para sultan.

oleh Muhammad Ishomuddin
07 Juni 2019, 4:10am

Sarung tenun premium BHS sedang dijemur sebelum dijahit dalam proses akhir produksi. Semua foto oleh penulis.

Salah satu produk fesyen paling serbaguna di Indonesia adalah selembar kain yang dijahit lurus di kedua sisinya, berhiaskan motif kotak atau kembang indah. Kita menamainya sarung. Kalian, khususnya yang tumbuh di lingkungan muslim, bisa mengenakannya untuk ibadah, acara adat, bersantai di rumah, bahkan jadi ornamen hiasan di rumah.

Anak-anak mengenal fungsi sarung yang multiguna sejak dini. Terutama ketika mereka mengubah kain ini menjadi senjata saat perang sarung sepulang salat tarawih di bulan Ramadan. Banyak dari anak-anak itu, seiring dewasa, tetap mencintai sarung sebagai fesyen sehari-hari. Contohnya Fahmi Habsyi, pemuda asal Gresik, Jawa Timur, yang sampai sekarang masih menggunakan sarung termasuk saat nongkrong.

"Kain sarung tenun itu bisa menyesuaikan cuaca. Kalau dipakai siang, panas terik itu enak jadi adem semriwing. Kalau dingin pas malam, sarung itu menghangatkan pas dibuat santai sambil tiduran," kata Fahmi.

Sarung sekilas punya kesan egaliter. Rileks sekaligus cocok dipakai dalam situasi formal. Namun, sarung sejatinya tidak seegaliter itu. Perhatikan saja Ma'ruf Amin, ulama yang akan menjabat sebagai Wakil Presiden Indonesia periode 2019-2024. Kyai Ma'ruf biasa mengenakan BHS, kelas sarung tenun elit dalam kancah 'persarungan'.

Bahan jadi pembeda banderol harga sarung. Bahan tenun erat dengan status sosial di dalamnya. Kita harus ingat, bahwa kehidupan pesantren tersusun atas hierarki, kyai dihormati oleh santri dan warga. Seperti halnya di lingkungan pesantren, biasanya sarung premium hanya dimiliki oleh kiai sebagai pengasuh pondok, gus alias anak kiai, atau ustaz-ustaz senior. Ongkos mengumpulkan sarung elit tak kalah dari biaya yang digelontorkan sneakerhead.

Pasar sarung mewah ini ramai lho. Jangan mengira permintaannya di pasar terbatas hanya karena pembelinya cuma 'sultan' ataupun orang tajir. Kalian bisa dengan mudah menemukan situs online menjual sarung dengan bahan sutra Songket Star Maroko (SSM) atau sutera Samarinda dengan tahun produksi lebih dari lima tahun lalu, nominalnya bisa mencapai angka hingga Rp6-10 juta—dan selalu cepat sold out. Bayangkan, harga dua hingga tiga kali lipat UMR Jakarta itu hanya bisa menebus selembar kain sarung tenun.

Merek yang paling melambangkan status kemewahan tentu BHS dan Lamiri yang konsisten dijual di kisaran harga paling murah Rp1,5 juta hingga belasan jutaan rupiah, sementara setingkat di bawahnya ada merek Atlas, yang lebih populer. Tiga merek itu sama-sama diproduksi di Gresik, Jawa Timur. Semua itu produk perusahaan Behaestex.

1559459013758-DSC07045
Bermacam benang di pabrik tenun Behaestex.

VICE berkesempatan mengunjungi bengkel penenunan BHS di Gresik. Nur Yahya, juru bicara perusahaan Behaestex, menyatakan pengrajin Indonesia konsisten menghasilkan sarung mahal, bahkan bisa dianggap termahal di dunia.

"Karena penduduk muslim Indonesia terbanyak di dunia dan budaya menggunakan sarung juga cuma kita yang punya, memang benar jika sarung disini itu termahal sedunia,” Kata, Nur Yahya saat menemani VICE menelusuri pabrik sarung tenun BHS. "Saya pernah nemu sarung harganya sampai Rp100 juta lebih saat di Festival Sarung Indonesia, karena memang usia sarung dan histori sejarah sarung tenun itu sendiri."

Pertanyaannya, kenapa sarung tenun bisa semahal itu?

Jawabannya diberikan Aris, perempuan 43 tahun yang bertugas sebagai penenun di pabrik Behaestex. Sarung premium macam BHS sudah pasti dibuat dengan cara tenun manual. Pembuatannya makan waktu, namun itu semua terbayar oleh detail motifnya.

"Makin lama pembuatannya makin mahal harganya, satu hari saja cuma bisa dapet dua motif kembangan, jadi satu sarung yang istimewa dengan 10.000 benang itu butuh waktu satu minggu pengerjaan," kata perempuan akrab disapa Bu Aris itu, seraya menenun tiap untaian benang sutra. Banderol sarung premium juga dipengaruhi berat benang yang digunakan, bervariasi antara 6.000 hingga 10.000 benang.

1559459046530-DSC07137
Proses tenun sarung premium

Mulai 1953, pabrik sarung tenun BHS asal Gresik yang dekat dengan wisata religi Malik Ibrahim ini pertama kali beroperasi. Perusahaan ini segera menjadi kebanggan warga Gresik, yang dijuluki ‘Kota Santri’. Kerajinan sarung tenun tentu salah satu penguat simbol itu.

Seni membuat sarung dibawa saudagar berdarah Arab sejak abad lalu ke pesisir Jawa Timur. Lambat laun, banyak desa melahirkan pengrajin sarung tenun ahli di Gresik.

"Saya dari umur 13 tahun sudah mulai belajar menenun dari bapak. Awalnya cuma bisa motif kotak-kotak, sekarang bisa tenun motif yang rumit," imbuh Bu Aris sambil menunjukkan hasil karya sarung tenunnya. "Ini suami saya sendiri loh yang mendesain motif kembangannya. Suami mikir bikin motif, saya yang mengeksekusi.”

Tahapan produsi sarung premium biasanya seperti ini: motif jadi, lalu benang sutra akan digulung sesuai warna yang diinginkan pengrajin. Kemudian motif dituangkan dalam sketsa pensil menjadi kembangan yang dianyam menggunakan tali plastik. Motif tadi lanta ditenun selama seminggu, lanjut ke proses songket untuk menghasilkan detail yang cantik. Di pekan ketiga, petugas pabrik memeriksa kualitas hasil tenun, dilakukan pencucian, sampai pengepakan sarung tenun untuk diedarkan ke seluruh Indonesia.

Pada akhirnya, harga sarung memang tidak egaliter. Namun adanya sarung premium ini tak otomatis memicu munculnya strata. Sarung tetap busana untuk semua. Esai “The Life of Sarung in Indonesia” yang pernah dipublikasikan di laman latitudes.nu, pada Oktober 2010, berhasil menggambarkan universalitas sarung itu secara puitik.

"Jika muncul pertanyaan, mengenai satu hal yang dapat mempersatukan Indonesia sebagai bangsa, barangkali sarung adalah jawabannya. Sarung dapat ditemukan di mana saja di Indonesia."


Simak foto-foto lain proses pembuatan sarung BHS oleh Muhammad Ishommudin dengan scroll ke bawah. Follow jurnalis lepas asal Gresik ini di Instagram.

1559459330066-DSC07117
1559459357562-DSC07327
Sarung yang baru ditenun diangin-angin.
1559459388266-DSC07361
Semua proses pembuatan sarung tenun melibatkan manusia.
1559459428269-DSC07230
Penggambaran motif sarung premium
1559459450213-DSC07396
Setelah semua proses pemeriksaan kualitas, sarung siap diedarkan.