Sejarah Kuliner

Asal-Usul Hidangan Penutup Qatar yang Diduga Lahir dari Pembunuhan dan Perang Tahta

Mitos asal-usul Om Ali sama sadisnya seperti plot 'Game of Thrones'.

oleh Joy Hui Lin; Diterjemahkan oleh Annisa Nurul Aziza
05 September 2019, 12:05pm

Foto ilustrasi Om Ali kuliner khas Qatara dari Getty Images 

Jika berkunjung ke Qatar, jangan lupa mampir ke Ibu Kota Doha untuk mencicipi Om Ali yang disebut-sebut salah satu pencuci mulut paling enak sedunia. Makanan penutup ini berupa puding roti emas creamy disajikan dengan susu hangat dan ditaburi kismis emas serta pistachio.

Bahan-bahan yang digunakan sebenarnya biasa saja, seperti roti mengembang, susu, gula, dan krim ditambah kismis serta buah kering sebagai penghias. Adonannya dipanggang dalam oven sampai warnanya berubah cokelat keemasan.

Negara kecil di kawasan Teluk tersebut memiliki tradisi hidangan penutup yang serupa dengan negara Arab lain. Meski Qatar sudah semakin maju dengan arsitektur dan perencanaan energi ramah lingkungan futuristiknya, pencuci mulut yang berasal dari Mesir bagian bawah ini masih banyak ditemukan di kafe-kafe dan hotel mewah. Pemandu Q-explorer Qatari Abdullah Mohammed memberitahuku Om Ali "juga bisa dimakan buat sarapan."

Namun, asal-usulnya masih simpang siur dan mengandung unsur true crime. Saat ini ada tiga versi berbeda tentang pertama kali Om Ali diciptakan. Satu yang pasti Om Ali berarti “Ibunya Ali”. (Berkat budaya patriarki, nama perempuan yang menciptakan hidangan ini tidak disebutkan dalam sejarah.)

Versi pertama mengisahkan tentang perempuan tua (memiliki putra bernama Ali) yang menyajikan makanan kepada seorang sultan sombong pada abad ke-13 yang melalui desanya di dekat Delta Nil. Tak mau mengecewakan sultan kelaparan itu, dia berusaha keras meracik suatu makanan dari bahan-bahan yang ada di rumahnya. Dan ternyata, sang sultan terpesona karena hidangannya sangat lezat. Dia membawa pencuci mulut tersebut ke kota dan memberi nama Om Ali. Makanan penutupnya menjadi sangat terkenal sejak saat itu.

Kisah keduanya lebih mirip adegan Cersei Lannister. Shajarat Al-Durr (penulis sejarah Suriah memanggil dia “perempuan paling licik pada masanya”) adalah budak yang menikahi sultan. Dia mulai merasakan kekuasaan setelah putranya lahir. Shajarat menggantikan posisi suaminya ketika dia meninggal dunia. Karena situasi politik yang sangat rumit, dia terpaksa harus menikah kembali. Dia kehilangan jabatannya karena perempuan tidak boleh berkuasa saat itu. Shajarat sudah menikmati kehidupan sebagai kepala negara, sehingga dia nekat mengakhiri hidup suami keduanya.

Ketika dia dituduh membunuh suami kedua karena punya istri lain, istri pertamanya—yang dikenal Om Ali dan tidak diakui keberadaannya atas perintah Shajarat—dirumorkan menyuap pelayan untuk membunuh Shajarat di pemandian dengan memukulinya pakai sepatu. (Tidak jelas bagian ini termasuk dari suruhannya atau cuma improvisasi.)

Ada juga yang mengatakan istri pertama mendorong Shajarat dari atas kastil sebagai pembalasan dendam.

Istri pertama merayakan kematian Shajarat dengan menyuruh juru masak berlomba membuat hidangan paling enak. Supaya lebih ekstra, hidangannya dihiasi koin emas.

Kisah tersebut belum tentu benar adanya, dan asal-usul hidangan penutup ini mungkin sengaja tidak diceritakan karena dianggap sepele oleh laki-laki yang menyimpan buku sejarah resmi.

Kita harus “bergerak mundur ke belakang” untuk menavigasi pengetahuan dan sejarah masa lalu. Akan tetapi, Shajarat didiskreditkan setelah dia kehilangan kekuasaannya mirip seperti yang dialami Raja Richard III.

Versi terakhir sama sekali tak ada hubungannya dengan intrik politik dan pembunuhan. Pencuci mulut ini justru berkaitan dengan perempuan Irlandia. Hidangannya mungkin terkenal di Timur Tengah, tetapi bukan berarti tidak melibatkan orang luar.

Khedive Ismail, yang menjadi Khedive Mesir dan Sudan pada 1863-1879, terpikat dengan perawat Irlandia bermarga O’Malley. Beberapa mengatakan orang asli Arab memanggil perempuan itu Om Ali.

1559576575972-om-ali-sheraton-hotel-1
Foto milik penulis

Walaupun hidangannya kini dibuat lebih bervariasi—seperti mengganti puff pastry dengan croissant atau roti roaa dari Mesir dan memakai whipped cream daripada susu kerbau—resepnya tetap sama seperti dulu. Susu kental menciptakan sensasi lumer yang membuat kita tergila-gila.

Tak peduli seperti apa asal-usulnya, kita patut berterima kasih kepada siapapun itu yang telah meminta hidangan penutup lezat ini.

Artikel ini pertama kali tayang di MUNCHIES