Kuliner Asia Tenggara

Ribut Dunia Maya Soal Peringkat Makanan Senantiasa Sukses Mempersatukan Netizen ASEAN

Cuitan akademisi memicu debat basi di Twitter soal konsep absurd ini: mungkinkah kita membuat peringkat rasa 'makanan nasional'? Netizen ribut usai masakan Indonesia dan Filipina dinilai kalah dari negara lain.

oleh Arzia Tivany Wargadiredja
08 Mei 2019, 12:45pm

Rendang (kiri) dari Flickr stu_spivack; masakan adobo khas Filipina dari Wikimedia Commons; dan pho khas Vietnam dari Wikimedia Commons.

Negara anggota ASEAN sulit sepakat dalam banyak isu-isu penting, mulai dari sengketa perbatasan, perlindungan hak asasi manusia, sampai perluasan kerja sama ekonomi. Meski begitu, ternyata mudah saja jika kamu ingin mempersatukan penduduk kawasan Asia Tenggara. Cobalah bikin daftar soal peringkat masakan terenak di kawasan. Enggak pakai lama, si pembuatnya akan bareng-bareng dikecam pengguna Internet se-Asia Tenggara.

Hal itu dibuktikan sendiri oleh Tom Pepinsky, akademisi sekaligus pengamat politik Asia Tenggara dari Cornell University. Akhir pekan lalu, dia menyusun daftar peringkat rasa makanan di kawasan Asia Tenggara, mulai dari yang paling enak sampai yang paling tidak enak, lalu mengumumkannya lewat Twitter.

Kalau niat Pepinsky tidak sedang bercanda, cuitannya terasa ironis. Sebab banyak negara di Asia Tenggara punya citarasa masakan yang mirip-mirip, lantaran penghuninya masih satu rumpun. Masakan Vietnam, Laos, Thailand, dan Myanmar punya kesamaan. Begitu pula Malaysia dengan Indonesia, atau Filipina. Makanya banyak pengguna Twitter sewot melihat peringkat tersebut.

Dalam twit berikutnya, seakan menabur bensin ke atas kobaran api, Pepinsky menambahkan satu kalimat lagi. "Daftar ini secara obyektif sudah benar, tapi mengabaikan faktor kuliner regional dan etnisnya."

Komentar Pepinsky menuai protes dari warganet Asia Tenggara, yang mempertanyakan maksud cuitannya. Protes terbanyak muncul dari warganet Filipina, terutama karena si akademisi menempatkan makanan Filipina di daftar terbawah, alias paling tidak enak dibanding tradisi kuliner ASEAN lainnya.

Tentu saja, netizen asal Indonesia dan Malaysia turut meramaikan perdebatan dunia maya ini. Lebih-lebih karena masakan dari negara serumpun ini dianggap kalah enak dibanding kuliner Vietnam atau Laos. Status Pepinsky sebagai orang Amerika yang berkomentar soal budaya lain ikut disinggung.

Ada juga netizen yang mengajak pengguna Twitter dari Asia Tenggara lainnya bersatu padu, mengabaikan peringkat yang disusun oleh orang "Barat" ini.

Faktor utama yang membuat cuitan Pepinsky problematis, karena ia menyebut istilah "masakan nasional". Konsep ini cukup absurd. Apa itu makanan nasional? Apa tiap bangsa punya makanan nasional yang sepenuhnya berbeda di kawasan Asia Tenggara?

Ribut-ribut kali ini bukan pertama kalinya melibatkan orang Barat yang dianggap "sok tahu" mengenai kuliner Asia Tenggara. Pada 2018, netizen Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei bersatu melawan chef bule yang menasehati peserta acara televisi MasterChef UK asal Malaysia bahwa "rendang itu harus renyah."

Tragisnya lagi, Pepinsky mengabaikan satu faktor penting yang mempersatukan kuliner Asia Tenggara sejak awal: pemakaian rempah-rempah. Semua tradisi kuliner di kawasan melibatkan rempah, hasil bumi yang ratusan tahun lalu memicu kerajaan-kerajaan Eropa menjajah berbagai negara di Asia.

Padahal nih, sebagai akademisi yang mendalami Asia Tenggara, kita boleh dong berharap lebih dari wawasan Pepinsky. Ini bukan semata perkara makanan dari negara mana yang lebih enak.

Fadly Rahman, sejarawan Kuliner dari Universitas Padjadjaran saat dihubungi VICE menyatakan ide mengaitkan kuliner dengan konsep negara-bangsa sejak awal bermasalah. Asumsi macam itu membikin satu budaya merasa lebih unggul dan hegemonik dari budaya lainnya. Imbas yang paling terasa tentu saja saling klaim makanan antara Malaysia dan Indonesia beberapa tahun lalu yang sebetulnya sia-sia belaka.


Tonton dokumenter VICE mengenai pengaruh budaya Tiongkok dalam tradisi kuliner Indonesia masa kini:


"Orang Minang [dari Indonesia] atau Malaysia itu kan satu rumpun. Sama-sama Melayu. Yang terjadi setelah munculnya konsepsi nation state pasca kemerdekaan, lepas dari kolonialisme, mereka jadi mengklaim, saya 'melayu Indonesia', kamu 'melayu Malaysia'. Nah ini ada perpecahan," kata Fadly kepada VICE. "Tanpa disadari oleh masyarakat di kedua bangsa ini, kebudayaan yang mempersatukan mereka akhirnya menjadi terputus."

Faktor kesamaan sejarah dan geopolitik sebagai kawasan yang sama-sama pernah dijajah, kecuali Thailand, tentu seharusnya dipahami oleh Pepinsky. Jadi, kalaupun bercanda, jatuhnya tetap tidak lucu ketika wakil dari bangsa yang pernah terlibat kolonialisme di Asia Tenggara (Amerika Serikat sempat menjajah Filipina lho), tiba-tiba merasa layak menyusun peringkat masakan nasional di kawasan berdasarkan citarasanya.

Senior Pepinsky di Cornell, mendiang guru besar kajian Aisia Tenggara Benedict Anderson yang amat kesohor, menilai batas-batas geopolitik imbas dari kolonialisme berdampak pada urusan masakan. Dalam bukunya Imagined Communities Ben Anderson menyatakan Asia Tenggara dulunya sangat cair dari sisi budaya, termasuk dalam tradisi kuliner. Baru dua abad terakhir, tercipta batas-batas formal karena administrasi kolonial memperkenalkan konsep perbedaan ras dan bangsa penghuni kawasan ini.

Andai Pepinsky ingat kesimpulan seniornya, mungkin keputusan mencuit peringkat rasa "makanan nasional" negara-negara Asia Tenggara itu akan dia pikirkan berulang kali.