Travel

Buruh Bangunan Perempuan Penopang 'Surga' Pariwisata Bali

Berkat ledakan pariwisata Bali bernilai miliaran Rupiah (termasuk proyek Donald Trump yang kontroversial), ratusan kuli bangunan perempuan ikut membanting tulang di bawah sengatan mentari, walau diupah lebih rendah dibandingkan kuli laki-laki.

oleh Jed Smith; foto oleh Angga Pratama
11 September 2017, 7:58am

Fajar menyingsing sepanjang pantai barat Bali, menandakan berakhirnya hari bagi sekitar 60 kuli bangunan perempuan di konstruksi bangunan milik investor asal Singapura yang mereka garap. Pekerjaan mereka belum rampung. Di kamp dadakan itu, berjarak dua menit jalan kaki dari Canggu, para perempuan itu kembali bekerja: menyiapkan makan untuk suami dan anak-anak, yang tinggal bersama mereka di dalam pondok bambu satu kamar.

"Yang paling sulit adalah, saya kadang kecapekan. Kadang saya enggak tahan lagi, saya cuma selonjoran lalu menangis. Kalau sudah begitu, saya terbayang betapa menyedihkannya hidup saya," ujar Made, perempuan 35 tahun, yang yatim piatu sejak berusia tiga tahun.

Hari-hari para perempuan pekerja konstruksi ini panjang dan panas. Made, bukan nama sebenarnya, bekerja tujuh hari seminggu tiga bulan terakhir saat saya menemuinya. Dia bangun tiap pukul setengah empat tiap pagi, supaya sempat membuatkan makanan untuk suaminya, yang juga kuli bangunan, dan untuk anak-anak mereka. Made dan buruh bangunan perempuan lainnya tiba di lokasi bersama-sama, tepat pukul 7. Seharian mereka mengaduk semen, menyeret balok baja, memalu batang hingga menjadi beton, dalam suhu udara 30 derajat celsius.

"Kadang rasanya sedih, tapi saya enggak bisa kerja yang lain. Kalau saya enggak begini, keluarga saya enggak bisa makan," ujarnya.

Beban kerja di konstruksi bangunan dipukul rata. Yang membedakan hanya upahnya: kuli bangunan laki-laki membawa pulang Rp120.000 per hari sedangkan kuli bangunan perempuan dibayar lebih rendah sebesar Rp80.000. Padahal, pekerjaan mereka sama-sama berbahaya. Hanya segelintir peraturan yang mencakup keselamatan kuli bangunan. Sementara kasus kecelakaan kerja di lokasi konstruksi bangunan bukan hal langka. Suami Made, laki-laki yang minta ditulis namanya sebagai Wayan, pernah menyaksikan satu rekannya meninggal akibat kabel lift putus, membuat pria nahas itu tertimpa beton-beton.

Made dan Wayan bilang mereka tidak mau menggunakan nama asli untuk artikel ini, karena takut dipecat akibat membahas standar keselamatan yang tidak mumpuni di lokasi calon resor wisata yang mereka garap. Suami-istri ini berasal dari Singaraja, wilayah miskin di pinggiran Bali. Awalnya Made dan Wayan bekerja sebagai buruh tani. Di akhir musim panen, pekerjaan, biasanya berlangsung tiga hingga lima bulan, mereka pulang selama beberapa hari, menganggur, sebelum memulai pekerjaan selanjutnya. Karena itulah, untuk mengisi waktu, buruh tani itu akhirnya menjajal pekerjaan sebagai kuli bangunan.

Perempuan-perempuan jarang bekerja sebagai kuli bangunan di Indonesia. Namun di Bali, di mana ledakan pariwisata mengubah petak-petak pulau itu, kuli bangunan perempuan menjadi pemandangan umum. Jasa konstruksi bangunan, menurut Made, memberikan penghasilan yang lebih stabil dan dapat diandalkan dibandingkan bertani.

"Kalau jadi kuli bangunan, uangnya aman. Kalau jadi petani, uangnya tergantung panen beras tiap tahunnya," kata Made. "Nah, kalau saya kerja hari ini, saya tahu akan bawa pulang berapa. Kalau bertani enggak pasti."

Di penghujung hari, para kuli bangunan berjalan di pinggir jalan kawasan ramai, dengan para wisatawan yang membelanjakan uang setara yang Made dan suaminya dapatkan per hari, untuk segelas koktail atau semangkuk Acai Berry. Made dan suaminya merenungkan timpangnya taraf kehidupan masyarakat di kawasan wisata selatan Bali yang penuh turis dari dalam maupun luar negeri.

"Di kepala saya, saya mikir 'Oh, begitu kali ya kalau saya punya uang'," ujar Wayan. "Ya buat saya adil saja. Mereka punya uang dan itu, kan, hidup mereka. Karena saya enggak punya uang, ya saya harus kerja. Selama saya bisa kerja, ini semua adil-adil saja."

Di sekitar lokasi pembangunan tempat kerja Made, saya dan fotografer menjumpai pasangan lanjut usia asal Jawa, yang juga meninggalkan bertani untuk konstruksi bangunan. Pekerjaan yang dilakoni Suhita dan Panji, pasangan lansia tersebut, berlokasi di pusat wisata spiritual Ubud. Pekerjaan di Ubud, kata mereka, sangat menguras tenaga. Dampaknya mereka hanya bisa membanting tulang setengah hari saja. Alhasil, upah mereka pun akhirnya berbeda dari standar seharusnya (yang tentu saja kecil itu).

Meski pelbaga komunitas adat Bali memperjuangkan penangguhan (atau malah penolakan) perkembangan resor baru, proyek-proyek konstruksi untuk bisnis pariwisata terus saja menjamur di seluruh Pulau Dewata. Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan rekan bisnisnya di Indonesia, Hary Tanoesoedibjo, sedang dalam proses mengembangkan resor bintang enam kontroversial. Jika terwujud resor dan hotel Trump akan menjadi yang terbesar di Pulau Dewata. Letaknya di kawasan Tanah Lot, dan karena itu warga setempat melawan upaya pembangunannya. Bukan hanya proyek konstruksi Trump yang mengundang penolakan warga atau melibatkan investasi gila-gilaan.

Pengembang-pengembang vila mewah seperti Elite Homes bilang akan menyediakan apartemen dan vila bergaya "neokolonialisme" masing-masing seharga US$875.000 USD (sekitar Rp11 miliar) dan US$6,5 juta USD (setara Rp85 miliar).

Di luar hiruk pikuk investor, dan arus turis pagi hingga malam, Suhita dan Panji tidak mencari kemewahan, sekalipun semua mimpi soal resor surgawi di Bali realisasinya ada di tangan kuli macam mereka. Impian punya rumah berbahan bata, serta ada uang untuk menyekolahkan anak-anak dan cucu-cucu, bagi mereka sudah cukup.

"Sebelumnya orang Indonesia bisa cari makan hanya dari bertani, tapi sekarang kita butuh uang tambahan," ujarnya. "Kami enggak bisa membangun rumah hanya dengan uang dari bertani. Kami pengin rumah dari bata, bukan pondok dari bambu. Kami pengin anak-anak bisa sekolah. Kami enggak sempat sekolah. Kalau cuma bertani, jelas tidak akan cukup."