Penyensoran dan Masa Depan Internet Di Mata Yasmin Green

Yasmin Green merupakan seorang kepala bagian penelitian dan pengembangan Jigsaw, tech incubator yang merupakan anak perusahaan dari induk perusahaan Google bernama Alphabet. Menurut Green, akses terhadap informasi merupakan hak asasi manusia yang...

|
17 Juni 2016, 12:00am

Artikel ini muncul di majalah VICE edisi Juni.

Dua pertiga populasi dunia tidak memiliki akses internet. Rencana ambisius Mark Zuckerberg — CEO Facebook — untuk menghubungkan lima miliar orang dengan dunia internet Google mengharuskan perusahaan swasta dan pemerintah bekerja keras memperluas akses terhadap dunia maya.

Sayangnya, punya koneksi internet tidak menjamin akses ke informasi. Freedom House — organisasi nirlaba Amerika yang melakukan riset mengenai demokrasi, kebebasan berpolitik, dan hak asasi manusia — melaporkan bahwa mosi kebebasan internet ditolak selama lima tahun berturut-turut di tahun 2015, ditandai oleh maraknya penyensoran di negara-negara represif. Sebagai kepala bagian penelitian dan pengembangan Jigsaw, tech incubator yang merupakan anak perusahaan dari induk perusahaan Google bernama Alphabet, Yasmin Green mengembangkan produk untuk mengatasi masalah ini. Kami berbicara dengan Yasmin mengenai masalah-masalah yang mendesak untuk diselesaikan ketika berusaha menghubungkan seluruh dunia dalam internet.

VICE : Jigsaw itu apa sih? Apa yang membuat pendekatan kalian berbeda?
Yasmin Green: Kami menggunakan teknologi untuk menyelesaikan masalah geopolitis, tapi yang membuat pendekatan kami unik adalah dari mana kami sumber inspirasi kami. Inspirasi kami datang langsung dari orang-orang yang berada di garis depan konflik atau penindasan. Guna menangkap berbagai pengalaman manusia dan peran teknologi di dalamnya, proses pembuatan produk kami selalu diawali dengan kunjungan ke lapangan.

Apa itu uProxy?
uProxy adalah salah satu proyek yang kami kembangkan sebagai bagian dari tujuan utama kami : mengakhiri penyensoran yang represif. Pada dasarnya, uProxy itu seperti terowongan yang dibangun untuk menembus firewall suatu negara — perbatasan dunia maya yang dibangun pemerintah — agar warga di negara tersebut memiliki akses ke internet. Sebetulnya sudah ada server-server proxy tersedia, namun uProxy punya karakteristik unik : ia adalah projek sumber-terbuka (open-source) dimana semua orang di dunia bisa menyumbang kode. uProxy juga menggunakan sistem peer-to-peer yang berarti kita bisa memperoleh akses internet gratis dan terbuka langsung dari orang yang kita kenal dan terpercaya, seperti teman atau keluarga. Karena tidak tersentralisasi, uProxy tidak mudah dideteksi. Intinya adalah bagaimana kita bisa memberikan akses internet gratis dan terbuka ke semua orang hanya dengan beberapa klik.

Siapa target populasi uProxy?
Kami ingin membangun sarana yang dapat mewujudkan internet tanpa batas. Kita berada di situasi di mana tiga miliar orang menggunakan internet di tempat yang aman seperti Palo Alto dan Chelsea Market (Amerika) sementara ada tiga miliar orang lainnya yang tidak seberuntung mereka. Mereka mungkin menggunakan internet di daerah yang dilanda konflik dan penindasan serius. Jadi tugas kami adalah memikirkan bagaimana mereka bisa terhubung dengan internet karena konflik dan opresi yang ada di kehidupan nyata mereka, juga akan muncul di dunia daring mereka. Kami di Jigsaw menggunakan pendekatan seperti ini untuk merancang produk untuk orang-orang ini.

Anda berasal dari Iran, apakah ini berpengaruh dalam pekerjaan anda?
Saya pernah tinggal di beberapa lingkungan yang represif, tapi lebih dari itu, darah Iran yang mengalir dalam diri saya membuat hal ini menjadi masalah pribadi karena saya sudah melihat dampak dari pemerintah yang represif terhadap rakyatnya. Pekerjaan saya sangat penting karena bukan hanya mempengaruhi kemampuan seseorang untuk mengakses informasi, tapi juga kemampuan mengakses kultur, cara mereka berkomunikasi dan kehidupan mereka.

Bagaimana anda menentukan daerah mana yang akan dibantu atau konflik mana yang harus didahulukan?
Kami pergi ke banyak tempat untuk memahami apa yang tengah terjadi di lingkungan-lingkungan yang berbeda. Untungnya, teknologi tidak mengenal perbatasan, jadi saya bisa membuat produk untuk seorang pengguna di Iran dan bila produk itu berhasil, produk ini akan menyebar ke bagian dunia yang lain. Salah satu hal yang paling memuaskan dari pengembangan teknologi adalah melihat produk anda tersebar luas.

Apa peran Jigsaw dalam usaha Google untuk menutup kesenjangan dunia maya?
Ada banyak tugas penting yang harus dikerjakan untuk memberi akses ke bagian-bagian dunia yang terisolasi. Pertanyaan yang sama pentingnya adalah : ketika akses sudah ada, lalu apa? Apakah para pengguna tetap aman? Bisakah mereka mengakses internet yang bebas dan terbuka? Atau apakah kondisi dunia nyata mereka yang represif juga menular ke dunia maya? Jigsaw lebih berperan sebagai pelengkap, yaitu untuk memberikan akses internet yang aman.

Ketika dunia menjadi semakin "terhubung", perubahan besar apa yang akan terjadi?
Saya merasa kita akan melihat perubahan besar dalam cara internet digunakan. Kita akan melihat percampuran tantangan-tantangan geopolitis model lama — seperti terorisme — dengan teknologi dan internet. Kita harus siap menghadapi ini baik online maupun offline.

Apa tantangan besar berikutnya yang menghadang kebebasan internet?
Karena internet merupakan hak asasi yang mendasar, akses ke informasi adalah hak asasi yang mendasar. Ini adalah hak asasi semua orang dan kita perlu memberikannya ke mereka.

Pemberitahuan: Jigsaw akan mensponsori sebuah seri untuk VICE News.