Culture

Kisah Pria yang Mengelola Karir Sekaligus Memacari Bintang Sosmed Paling Kontroversial di Indonesia

Oka Mahendra, pemimpin Takis Entertainment, tak peduli pada semua hujatan yang diterima AWKARIN. Semua ini baginya cuma bisnis. "Semua urusan media sosial ini kayak investasi billboard di masa mendatang."

oleh Renaldo Gabriel
01 Desember 2016, 6:59am

Semua foto oleh Rizky Rahadianto.

Catatan Redaksi: Oka Mahendra Putra meninggal 18 Juli 2017 di usia 22. Kami menuliskan obituari untuknya di sini.

Oka Mahendra duduk anteng di belakang mejanya yang awut-awutan. Notifikasi Instagram masuk bertubi-tubi di ponselnya.

Ping. Ping. Ping. Ping. Ping.

Ketika dicek, ternyata notifikasi itu berasal dari salah satu fotonya bersama Karin Novilda, bintang medial sosial paling mengundang kontroversi di Indonesia, yang kebetulan adalah pacarnya. Notifikasi bertubi itu adalah cara lebih dari sejuta follower Karin di Instagram menunjukkan dukungan atas hubungan mereka berdua. Sorotan banyak orang pada hubungan pribadi ini membuat Oka bimbang. Di satu sisi, dia sadar tugas utamanya mengelola karir sang pacar, agar lebih berkibar sebagai sosok AWKARIN. Menjaga citranya sebagai selebriti Internet papan atas di Indonesia. Di sisi lain, Oka merasa mention-mention penggemar Karin, yang ditujukan kepadanya, merupakan pelanggaran privasi. Sulit, baginya, mencari jalan tengah antara menyenangkan hati penggemar Karin sekaligus tetap mempertahankan privasi hidup.


Obituari untuk Oka Mahendra Putra yang meninggal di usia 22


"Dulu gue nggak ada filter-nya. Sekarang mana bisa? Susah deh, sekarang gue bahkan engga bisa foto pakai baju yang sama. Gue engga merasa terganggu, tapi ya jelas gue engga enjoy. I didn't want this, you know?"

"Lo sering posting [di Instagram] engga?" tanya saya.

"Ya, rencananya sih gitu," kata Oka. "Postingan gue lumayan bagus, nih coba lo lihat. Karin bilang gue cuma perlu lebih konsisten di Instagram. Tapi kan, gue nggak mau jadi terkenal. Gue cuma mau jadi kaya."

Tonton VICE Meets AWKARIN di sini:

Oka, 22 tahun, adalah CEO Takis Entertainment—perusahaan dengan pengaruh lebih besar dari yang sekilas terlihat. Perusahaan itu terletak di sebuah unit apartemen setengah kosong di Graha Cempaka Mas, Jakarta Utara. Di temboknya, tergantung papan nama "Takis" dari lampu neon. Ketika Oka memencet tombol lampu, papan nama itu berpendar sesaat, lalu mati. Oka duduk di belakang meja hitam, berlapis kaca, sambil memainkan kartu kredit American Express pada genggamannya. Meja itu dipenuhi gelas-gelas kosong dan asbak berisi puntung rokok. Beberapa ekor semut terlihat berbaris di meja awut-awutan itu.

Di ruang tengah apartemen, semua orang menatap layar. Itu pemandangan yang lazim di kantor ini. Setengah lusin anak muda fokus pada layar laptop, ponsel, kamera digital, dan tablet. Inilah yang tampak ketika media sosial menjadi bisnis, ketika satu-satunya hal yang dijual adalah realita terkurasi dan disponsori banyak produk.

"Salah satu kehebatan Karin adalah, misalkan, sebuah perusahaan ngasih dia tas untuk di-endorse, dia bisa promosiin itu seakan-akan dia engga dibayar," kata Oka.

Ini adalah masa di mana selfie di kamar mandi saja bisa mendapatkan 80.000 likes di Instagram. Masa di mana foto Karin mengenakan kacamata di hadapan foto sandwich raksasa bisa mendapatkan 500 komentar. Foto tersebut diberi keterangan, "im trying to cut down on my fucking swearing. let's see how the fuck it goes. top (it's actually a dress i slip it into my pants lol): @chicotienda." Begitulah contoh pekerjaan Takis dan Karin sehari-hari, membuat iklan sedemikian rupa agar kelihatannya tak di-filter. Lalu penggemar Karin akan berbondong-bondong berkomentar "cantik ka".

"Kita lagi membangun 'billboard'," kata Oka. "Semua urusan media sosial ini kayak investasi billboard di masa mendatang."

Ada masanya karir AWKARIN seakan di ambang kehancuran, beberapa bulan lalu. Postingan Karin menjadi sorotan orang-orang konservatif dan liberal di Indonesia. Komisi Perlindungan Anak Indonesia, September lalu, melaporkan Karin beserta sejumlah selebriti media sosial, ke Kementerian Komunikasi dan Informatika. Konten akun-akun media sosial Karin cum suis dianggap vulgar. Salah satu komisioner KPAI berkata, "Sikap negatif AWKARIN berpengaruh besar pada pengikutnya yang masih anak-anak. Mereka bisa saja mencontoh gaya hidup AWKARIN." Komisioner lain menyatakan, "konten yang diunggah [AWKARIN] itu lebih banyak unsur negatif yang mengganggu proses tumbuh kembang anak." Di tengah perdebatan dan sorotan negatif itulah, Takis menggandeng AWKARIN bermitra bersama. Takis—sebelumnya hanyalah label rekaman kecil—segera berisiko kehilangan bintang terbesarnya ketika kerja sama baru seumur jagung.

Manuver cepat dilakukan. Karin menemui KPAI, meminta maaf secara terbuka, dan berjanji mengubah sikapnya di Internet. Begitulah. Badai kontroversi tiba-tiba selesai. KPAI berhenti mengkritik Karin. Lalu Karin beserta kru Takis melanjutkan hidupnya seperti biasa. Walau begitu, Karin masih menjadi salah satu figur kontroversial di Indonesia. Dia tetap seorang perempuan berpengaruh yang dicintai dan dibenci oleh banyak orang. Merespon cuplikan wawancara VICE Indonesia dengan AWKARIN, salah satu pengguna Internet menjulukinya 'virus'.

Tampaknya, sebelum beranjak terlalu jauh, kita perlu kembali ke satu pertanyaan penting. Bagaimana Oka dan AWKARIN bisa bertemu? Oka memulai karirnya sebagai kepala sebuah bisnis manajemen bakat setelah lulus dari Universitas Seattle, Washington, Amerika Serikat. Dia sempat ngerap memakai nama panggung "Cash", tapi dia selanjutnya ingin fokus pada bisnis hip-hop di Indonesia. Beberapa kali saja Oka bertemu Young Lex, salah satu musisi hip-hop yang juga kontroversial di Indonesia. Keduanya langsung akrab. Mereka mengobrol banyak membahas perusahaan yang sedang dirintis Oka, Takis Entertainment—yang berencana mengembangkan lini bisnis dan merekrut bakat-bakat baru. Young Lex melihat banyak potensi dalam AWKARIN—perempuan muda yang saat itu baru saja jadi topik hangat di media sosial.

Saat itu, banyak orang mencari tahu tentang masa lalu Karin. Mereka menemukan foto-foto Karin—saat itu berumur 18—mabuk-mabukan di bar dan klub di bilangan Jakarta Selatan. Tentu saja tindak-tanduk Karin menyulut persoalan. Young Lex lalu meminta bantuan Oka memperbaiki citra AWKARIN.

"Tugas pertama gue di Takis itu ya benerin hidup Karin," kata Oka. "Lingkungan dia toxic banget. Hidup dia lumayan ancur. Bayangin aja, anak seumur dia dengan penghasilan sebanyak itu, tapi engga punya manajer. Hidup sendirian pula. Dia bisa aja mati."

Pertemuan dengan KPAI merupakan salah satu jurus public relation demi memperbaiki citra buruk Karin. Tak hanya itu, tim Takis memanfaatkan kontroversi yang saat itu masih menjadi perdebatan publik, kemudian merilis video musik bertajuk "Bad" di bulan yang sama. Di video itu AWKARIN ngerap, "I'm a bad girl." Itulah permulaan baru karir Karin, menurut Oka. Karir sebagai megabintang yang tak hanya merambah sosial media, tapi juga bidang lain termasuk musik.

"Hip-hop nggak pernah jadi budaya di sini, engga kayak dangdut," ujar Oka. "Di sini hip-hop engga diterima sebaik di US. Mungkin kedengarannya gila, tapi ini jalan buat hip-hop biar bisa diterima di media mainstream. Ya dengan AWKARIN."

"Karin tuh orang pertama yang punya views sebanyak itu di Youtube. Faktanya nih, kalaupun Iwa K, Saykoji, dan semua orang bikin lagu bareng-bareng, mereka masih engga akan nyampe angka segitu. Tapi ya ini bukan cuma persoalan jumlah views. Ini soal perhatian orang-orang buat hip-hop Indonesia, dan ini hal yang bagus."

Tidak lama setelah video 'Bad' rilis, hubungan Oka dan Karin tak lagi sekadar manajer dan artisnya. Mereka mulai pacaran. Hubungan mereka sekarang menjadi bagian dari konten Instagram AWKARIN. Suka tak suka, kehidupan pribadi Karin sudah tercampur dengan pekerjaan. Hal ini sudah biasa buat Karin. Dulu dia pernah mengunggah video ke YouTube berisi curhatan penuh isak tangis soal putusnya hubungan dia dengan seorang mantan. Video itu mendapatkan ratusan ribu views sebelum akhirnya diset privat oleh Karin.

"Ini masih bikin gue takjub," kata Oka tentang kehidupan onlinenya, ketika kini ikut populer karena dikenal sebagai pacar AWKARIN.

Beberapa hari sesudah wawancara di kantor, saya menemui Oka dan Karin saat sesi syuting video musik di daerah pinggiran Jakarta Selatan. Kami berada di dalam sebuah rumah yang didesain apik, duduk-duduk di dekat kolam renang, sambil membahas masa depan karir bermusik Karin. "Gue mulai ninggalin radio [buat promosi]," kata Oka. "Kayaknya udah lewat aja masanya. Gue juga udah ninggalin TV. Kalau mau lihat konten Karin ya tinggal ke Youtube channel-nya aja."

Ada tiga kamera yang merekam interaksi kami bertiga saat itu. Satu kamera, Oka bilang, untuk vlog YouTube AWKARIN. Satu lagi untuk sesi behind-the-scene. Yang ketiga? Nah, itu saya tidak tahu. Oka bilang dia ingin masuk majalah Forbes dan pensiun di umur 25. Target usia itu artinya tiga tahun lagi dari sekarang. Oka percaya ambisinya bisa terwujud.

Sesi syuting berlangsung hingga larut malam. Mereka harusnya merekam sebuah adegan pesta untuk video klip Karin selanjutnya, 'Candu'. Syuting agak tertahan, menunggu beberapa cameo tambahan datang. Oka dan Karin terlihat tenang-tenang saja walaupun jadwal mereka molor. Tim cameo sedang ngobrol-ngobrol di sekitar lokasi untuk membunuh waktu. Kebanyakan dari mereka adalah fans fanatik Karin. Saya menanyakan alasan mereka bisa begitu cinta pada AWKARIN, selebritas yang kini sangat sering dihujat.

"Dia terus ngomong apapun yang dia mau dan engga peduli orang mau mikir apa," kata salah satu dari mereka. "Menurut gue dia real, engga kayak kebanyakan orang."