Agama

Beginilah Pengalamanku Punya Tetangga Rumah yang Ternyata Islamofobik

Kami sering minum teh bareng, dan aku sering membantu ibunya yang sudah tua. Postingannya di Facebook membuatku bertanya-tanya, apakah selama ini mereka pura-pura baik sama keluargaku?
seperti diceritakan pada Rose Stokes
09 Mei 2020, 7:33am
Nabeelah Hafeez
Foto milik Nabeelah Hafeez

Keluargaku pindah ke Bradford, Inggris, saat aku masih empat tahun. Aku dan ketiga saudaraku lahir di Inggris, sedangkan orang tua kami berasal dari Pakistan. Meskipun begitu, mereka sudah lama sekali pindah ke Inggris. Tak butuh waktu lama bagi kami untuk berteman baik dengan para tetangga di sekitar rumah.

Orang tuaku lantas dekat dengan sepasang suami istri lansia bernama June dan Nigel. Kami sering minum teh bareng saat aku dan saudaraku masih kecil. Hubungan keluarga kami semakin dekat setelah Nigel meninggal.

Ketika kami pindah ke sana hampir 30 tahun lalu, kebanyakan tetangga kami adalah pasutri lansia kulit putih. Demografis telah bergeser seiring berjalannya waktu, dan kini komunitas kami sangat beragam. Kami tidak pernah mempermasalahkan perbedaan. Kami hidup rukun dan saling membantu. Kami semakin sering membantu June semenjak dia menjanda dan kondisi kesehatannya melemah. Dua putra June sudah menikah, dan mereka menjenguknya sekali-sekali. Mereka tak pernah lupa menyapa dan minum teh bersama keluargaku saat pulang ke rumah ibunya.

Dalam ajaran agama Islam, anak harus berbakti kepada orang tua dan bertanggung jawab merawat mereka. Ibu sering menyuruhku memastikan June tidak pernah kehabisan makanan, membantunya berbelanja, membeli obat di apotek, atau membersihkan rumahnya. June adalah teman tertuaku yang paling lucu. Aku suka ngobrol dengannya sambil minum teh. Aku selalu tertarik dengan sejarah dan cerita orang-orang, makanya June sering bercerita tentang masa muda dan pengalamannya selama perang. June menceritakan bagaimana rasanya kehilangan teman terdekat dan keluarga. Dia juga mengajarkanku bikin pai apel dan bubur “yang benar”.

Ketika ayah meninggal, kami memberikan tempat di bagian depan untuk June. Dia datang mengenakan jilbab untuk menghormati agama kami. Sejak itu, June selalu menyalakan lilin untuk ayah setiap ibadah Minggu di gereja. Dia bahkan memberikanku doa-doa Kristen, yang masih aku simpan di dompet sampai sekarang.

Kami sangat terpukul ketika June meninggal. Aku kangen padanya. Aku menghabiskan banyak waktu di gereja, katedral dan tempat ibadah lainnya untuk urusan pekerjaan, tapi aku sebisa mungkin menyalakan lilin buat June. Putranya mengontrakkan rumah June setelah dia meninggal. Kami tetap berhubungan dengan mereka, dan selalu mengabari setiap ada masalah dengan penyewa. Kami akan bercakap-cakap dan minum teh setiap kali mereka berkunjung.

Akhir tahun lalu, saudara perempuanku menyodorkan ponselnya untuk menunjukkan sesuatu. “Sudah lihat ini?” tanyanya. Kami sering memperlihatkan hal-hal lucu atau menarik di internet, makanya aku tidak kepikiran apa-apa saat mengambil HP-nya. Namun, aku kaget bukan kepalang saat melihat tulisan yang terpampang di layar. Putra June kerap membuat postingan intoleransi terhadap lelaki muda Asia, imigran, dan para pengungsi di Facebook. Aku menggulir layar; tidak bisa memercayai penglihatanku. Postingannya makin lama makin parah. Dia tanpa malu memajang postingan Islamofobik, rasis, dan diskriminasi terhadap kelompok minoritas. Dia dengan bangga memamerkan ketidaktahuannya.

Melihat itu, aku merasa kosong karena dikecewakan. Kalian mungkin akan mengira aku terlalu polos, tapi selama ini aku berasumsi kebaikan keluarga kami akan memiliki pengaruh pada mereka. Dia memang mirip pendukung Brexit yang anti-imigran, tapi aku kira jalinan pertemanan kami akan mengubah pandangannya. Ternyata tidak.

Jujur saja, aku tidak bisa berhenti memikirkan ini. ‘Kenapa harus kaget? Seharusnya aku tidak kaget,” batinku. Tapi tetap saja aku terkejut, karena aku berharap situasinya akan berbeda. Dan harapan mampu menyingkirkan sinisme.

Aku awalnya marah, geregetan ingin mengomentari postingannya. Namun, aku langsung sadar itu takkan berarti apa-apa untukku. Aku langsung keluar dari media sosial, dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengenang masa-masa indah kami dengan keluarga June. Aku khawatir akan mempertanyakan ketulusan mereka. Namun pada akhirnya, aku tidak tahan melakukannya juga. Aku tidak bisa berhenti mengenang saat-saat kami minum teh di ruang tamu. Apakah mereka tulus saat itu? Apa yang ada di pikiran mereka tentang keluargaku?

Aku masih ingat June pernah melontarkan kata-kata rasis atau yang terlalu menggeneralisasikan sesuatu. Aku menghadapinya dengan sabar, dan berusaha membantunya melihat dari sudut pandang lain. Ucapannya tidak terasa jahat. Aku mengira — dan masih berharap — dia mengatakan hal tersebut murni karena ketidaktahuan. Aku tahu jauh di dalam lubuk hatinya, June orang baik dan dia adalah temanku. Namun, postingan anaknya membuatku bingung.

Aku terkadang bertanya-tanya apa jadinya kalau kami bertemu lagi. Sulit bagiku untuk melupakan semuanya. Mungkin aku akan tetap ramah kepada mereka, dan mengajaknya minum teh. Aku bisa belajar dari orang tua yang selalu siap mengulurkan tangan mereka dan membantu orang lain. Aku tahu aku akan berusaha mengesampingkan ini.

Pada saat bersamaan, aku berharap kebaikan kami akan menyingkirkan pandangan mereka yang penuh kebencian. Tapi aku tak yakin itu akan terwujud. Walaupun begitu, aku siap memberikan ruang berkomunikasi jika seandainya suatu saat nanti mereka berubah pikiran. Satu yang pasti, aku takkan pernah berhenti menyalakan lilin untuk June ketika mengunjungi gereja.

Kalian bisa mendengarkan kisah Nabeelah di podcast United Zingdom BBC Sounds.

@NabeelahMH

Artikel ini pertama kali tayang di VICE UK

Iklan