Coronavirus

Dari 'Flu Spanyol' Sampai 'Virus Cina', Ada Sisi Gelap di Balik Penamaan Pandemi

Penamaan virus ini, dilakukan secara sadar atau tidak, melibatkan rasisme dan stigmatisasi. Donald Trump, dalam dokumenter VICE, menyeret istilah Cina ke virus COVID-19 dengan tujuan negatif.
23 Maret 2020, 6:15am

Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dalam jumpa pers akhir pekan lalu saat membahas perkembangan pandemi COVID-19 di negaranya yang menewaskan lebih dari 300 orang, tak lagi menyebut virus pembawa penyakit itu sebagai 'Virus Corona'. Sebagai gantinya, Trump memilih istilah berikut: "Virus Cina".

Tindakan Trump itu ternyata diikuti oleh politikus AS lainnya, terutama dari Partai Republik yang menyokong sang presiden. Salah satu Ketua DPR Amerika dari Partai Republik, Kevin McCarthy, menyebut virus tersebut sebagai "Coronavirus dari Cina." Adapun senator asal Arizona, Paul Gosar, sempat dikutip media menamainya "Virus Wuhan". Bahkan ada beberapa politikus mengikuti langkah netizen yang mengolok-olok virus ini sebagai "Kung Flu".

Di Indonesia, kondisinya setali tiga uang. Tagar #VirusChina sempat trending di akhir pekan, dan netizen yang memakai tagar tersebut sejak Senin (23/3) pagi memunculkan tagar lain yang jelas-jelas rasis untuk mengolok pemerintahan Jokowi: #AnjingPeking.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sejak lama tidak mendukung penamaan virus memakai istilah yang populer di masyarakat. Dalam setiap pengumuman ataupun rilis resmi, WHO memilih istilah ilmiah virus atau bakteri yang memicu penyakit menular. Alasannya jelas: istilah-istilah di atas, sekalipun niatnya tidak rasis, bisa memicu stigma tertentu. Makanya, kalau mau akurat, Virus Corona ini sebut saja SARS-CoV-2. Sementara penyakit yang ditimbulkan adalah COVID-19.

Tahukah kalian kalau flu Spanyol yang sangat mematikan di Abad 21 bahkan tidak berasal dari Spanyol, dan sebenarnya dinamai begitu gara-gara propaganda Jerman, Prancis, serta Inggris dalam situasi politik panas karena Perang Dunia I? Malah, bisa dibilang Spanyol saat itu negara Eropa satu-satunya yang jujur kalau terjadi pandemi flu parah, sementara tetangganya yang lain sibuk menyensor informasi supaya warga tidak panik.

Hal yang sama terjadi pada Virus Corona baru ini, yang muncul di Tiongkok, tapi nyatanya mampu bermutasi untuk menjangkiti semua manusia di berbagai negara. Pandemi, seperti yang sekarang kita alami, adalah momen untuk semua negara bahu membahu mengantasi penularannya. Bukan momen saling memecah belah. Kalian boleh rasis terhadap bangsa tertentu, tapi virus tidak mengenal perbedaan ras, lebih-lebih warna kulit.

"Oleh karena itu, memberi nama virus dengan label lokasi tertentu itu sangat keliru dan tidak sepatutnya dilakukan," kata Robert Redfield, Kepada Pusat Penanganan Penyakit Menular AS.

Tradisi penamaan virus dengan lokasi tertentu, jika dirunut dari sejarahnya, selalu dimulai oleh propaganda politikus. Praktik ini pertama kali dilakukan oleh petinggi Rusia pada 1495, ketika mendengar wabah sipilis merebak di Polandia. Rusia kemudian menyebar pamflet dan rumor, menyebutnya "Pageblug Polandia".

Sebaliknya petinggi Polandia berusaha menampik citra buruk, kemudian memberinya nama "Penyakit Jerman". Beberapa waktu kemudian, pemerintah Prancis dan Italia saling menamai virus sesuai negara yang mereka benci. Padahal intinya, ini penyakit kelamin menular dan tak ada hubungannya sama lokasi manapun. Siapa saja bisa kena raja singa kalau "mainnya" tidak bersih.

Tonton dokumenter kami soal sisi gelap penamaan pandemi dan virus di tautan awal artikel

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News