ravepasar 6
Raja Kirik menghibur pengunjung Ravepasar. Semua foto dalam artikel ini diabil dari situs resmi Ravepasar, oleh Satria Prabawa.
Festival musik

Kegaduhan Ravepasar Adalah Bukti Bali Punya Kancah Musik Eksperimental yang Panas

Meski sempat dihentikan aparat saat festival separuh jalan, Ravepasar membuktikan generasi baru komunitas musik bawah tanah Bali sedang panas-panasnya dan layak dapat perhatian kita semua.
22 Januari 2020, 11:50am

Ratusan orang tumpah ruah di LaLa Land Creative Studios, sebuah gedung ruko dua lantai yang disulap menjadi saksi pagelaran perdana Ravepasar, sebuah perayaan seni multidisiplin dan lintas genre, menampilkan nama-nama seniman terpanas di komunitas bawah tanah Bali saat in: Denpasar Kolektif, Orbitware, Morbid Education, Rollfast, Advark, dan masih banyak lagi.

Di lantai atas, ada DJ booth yang menghibur mereka yang ingin berjoget, dan persis di ruang sampingnya terpampang sebuah instalasi seni. Kegaduhan sesungguhnya berada di bawah, sebuah space luas beratap tinggi yang menyerupai gudang.

Bali Era 90'an Adalah Surga Yang Kita Rindukan

Di sekitar ruangan, tertata karya fashion dari desainer-desainer lokal. Namun perhatian penonton sedang tertuju ke panggung. Dihiasi berbagai lampu sorot dan layar LCD raksasa di latar, duo experimental Senyawa hendak memulai set mereka.

Tidak sampai beberapa menit, satu per satu mic di panggung dimatikan, dan Senyawa pun mendadak turun panggung. Ratusan pengunjung kebingungan. Beberapa saat kemudian, Ican Harem, seorang seniman dan salah satu penggagas Ravepasar, menjelaskan bila acara harus dihentikan atas desakan polisi.

Ican menjelaskan kurangnya pengalaman mereka sebagai organizer dan miskomunikasi antara pemilik tempat dan pihak otoritas sebagai penyebab penghentian acara. Insiden ini menjadi pukulan bagi komunitas musik Bali. Namun Ican merasa Ravepasar bukanlah sebuah kegagalan.

Ravepasar berhasil membuktikan bahwa pengadaan sebuah acara musik dan seni dengan produksi maksimal di Bali bisa dilakukan secara DIY, tanpa sponsor ataupun campur tangan korporat.

"Menurut aku ini pembuktian dan studi kasus buat kita semua," ujar Ican pada VICE. "Toh mungkin mengundang band sekelas Senyawa atau Raja Kirik dan mengakomodir mereka tanpa harus mengemis sama sponsor masif."

Sentimen ini salah satunya muncul akibat terbatasnya ruang bagi komunitas kreatif Bali untuk mengekspresikan diri di tengah industri pariwisata Pulau Dewata yang mengedepankan beach club-beach club komersil yang diperuntukkan bagi turis asing, tapi ironisnya kerap mengabaikan talenta rumah sendiri.

Salah satu talenta tersebut adalah Gabber Modus Operandi (GMO), duo elektronik eksperimental yang menggabungkan elemen gabber, koplo, jathilan dan gamelan Bali, guna menciptakan sound yang unik. Mendapatkan banyak sorotan media musik nasional dan internasional, GMO sering wara-wiri di berbagai festival musik, mulai dari Berlin hingga Uganda.

Rupanya ‘kesuksesan’ GMO tidak membuat mereka luput dari penolakan dari beberapa kelab komersil di rumah mereka sendiri.

“Waktu itu kita pernah organize launching album GMO, kita dengan pedenya ‘wah kita udah terkenal di luar negeri gitu kan’. Ternyata pas kita tawarin ke suatu kelab gitu, mereka bilang musik kita enggak cocok sama mereka. Jancok gitu kan. Ironis. Walaupun akhirnya dapet, tapi di kelab yang om-om banget, bukan buat kita gitu kan. AKhirnya kepikiran kenapa kita gak nyari aja sendiri gitu. Gak usah berhubungan dengan kelab-kelab ini lagi, gak usah berafiliasi atau berelasi dalam artian, gak usah sok-sok connect dengan ekosistem-ekosistem yang memang ‘gak pas’ sama kita. Cok kan kita tinggal di sini, kenapa kita gak jadi raja di sini, kenapa gak cari tempat sendiri.”

Ican menggarisbawahi pentingnya kesadaran berinisiatif dalam sebuah ekosistem, sebuah pelajaran yang dia petik lewat pengalamannya ketika GMO manggung di Nyege Nyege Festival di Uganda. Ican menyadari bagaimana motivasi dan inisiatif bisa mengangkangi kekurangan-kekurangan material sebuah ekosistem.

"Mereka [Uganda] lebih bosok dari kita gitu lho, jeleknya gitu lha [tertawa]," kata Ican, "tapi mereka punya festival paling gila, paten dan terdepan di dunia. Kenapa bisa? Karena ada inisiator."

Momentum musik eksperimental di Indonesia juga memang sedang panas-panasnya. Kesuksesan Senyawa di kancah dunia tidak bisa dipungkiri membangkitkan bara api di berbagai kantong-kantong kolektif seni lokal.

Kolektif Jogja Noise Bombing kembali panas dan aktif bergerilya. Solo punya Harsh Noise festival. Di Bali ada Chaos Non Musica yang kebanyakan berisikan anak-anak yang dulunya memainkan disko. Semua ini, termasuk juga Gabber Modus Operandi, menurut Ican adalah produk “post-Senyawa effect”.

"Senyawa punya penawaran yang bagus sekali di skena musik dunia," menurut Ican, "dan mereka nyaman menjadi identitasnya sendiri tanpa afiliasi dengan ‘kebule-bulean’ ataupun world music."

Ravepasar adalah bentuk penawaran identitas Bali sebagai sebuah komunitas musik independen tanpa harus bergantung pada kelab-kelab besar yang tidak memberikan mereka banyak ruang di tanahnya sendiri.

Biarpun pagelaran perdananya tidak berlangsung mulus, Ravepasar telah menguatkan benih-benih kesadaran untuk bergerak dan berjejaring dalam generasi muda Bali dan memberikan mereka sebuah momentum untuk ditunggangi.

"Ibaratnya prototipe udah paten, masak kita tinggalin? Itu dungu namanya," ujar Ican. "Klise sih ‘bersama kita bisa’, tapi bener ternyata bisa dan itulah yang membangun Ravepasar."