Quantcast
Buruh Migran

Hasil Investigasi: Banyak Buruh Migran di Hong Kong Dipaksa Tidur di Lemari

Perlakuan buruk majikan pada para asisten rumah tangga itu, termasuk asal Indonesia, diungkap di laporan lembaga MFMW. "Lemari inilah tempat tidur saya sehari-hari," kata satu narsum.

Gaby Bess

Kondisi buruh migran di Hong Kong. Foto oleh Paul Yeung/Reuters.

Artikel ini pertama kali tayang di Broadly.

Permintaan terhadap asisten rumah tangga asal luar negeri yang murah di Hong Kong telah membuat banyak perempuan rentan terhadap perlakuan tidak manusiawi. Sebelumnya Broadly telah menurunkan laporan tentang balai pelatihan Hong Kong yang didirikan untuk melatih para pembantu asing supaya bisa bekerja di Hong Kong. Alih-alih membantu, balai-balai pelatihan ini malah menjerat pesertanya dengan tumpukan utang yang sepertinya hampir mustahil dibayar korbannya karena rendahnya upah yang diterima para buruh migran, termasuk dari Indonesia dan Filipina, yang banyak mengincar pekerjaan di Hong Kong. VICE juga pernah melakukan liputan tentang mandat pemerintah Hong Kong yang mewajibkan asisten rumah tangga tinggal di keluarga majikannya. Kebijakan ini sangat tidak menguntungkan para pekerja domestik asing karena mereka juga rentan terpapar kekerasaan fisik dan verbal.

Laporan terbaru yang dikeluarkan oleh lembaga swadaya Mission For Migrant Workers (MFMW) merinci kondisi material menyedihkan yang harus dialami oleh para asisten rumah tangga asing di Hong Kong. Setelah melakukan survey terhadap lebih dari 3.000 buruh domestik migran—98 persennya berjenis kelamin perempuan, organisasi advokasi buruh migran itu berhasil membongkar fakta memilukan: banyak pekerja domestik yang dipaksa tidur di luar rumah, di atas lantai tanpa alas, dalam kamar mandi atau ruang kosong kecil dalam sebuah kabinet di atas dapur.

Lebih dari setengah perempuan yang menjadi responden mengatakan bahwa mereka tidur di kamar terpisah—namun sepertiga dari perempuan ini mengaku kamar mereka tak sepenuhnya jadi ruangan pribadi mereka. Dalam beberapa kasus, ruangan yang ditempati para pekerja domestik kerap dimanfaatkan sebagai gudang atau ruang cuci. Jadi, bisa disimpulkan, 61 persen asisten rumah tangga yang disurvei tak memiliki ruangan pribadi yang bisa digunakan untuk tidur layak. Hanya 1 dari 3 perempuan yang menjadi respon penelitian ini punya kamar tidurnya sendiri.

Beberapa perempuan yang tidur di kamar sendiri mengaku merasa lebih nyaman dan punya jam kerja yang kelas. Sementara yang lainnya melaporkan merasa tidak nyaman karena majikan mereka meminta kamar tak dikunci. Yang lebih menyeramkan, para majikan bisa masuk kapan saja. "Saya enggak merasa nyaman karena majikan saya bisa masuk kamar kapan saja, semua mereka," ujar salah satu perempuan MFMW.

"Sofa ini adalah ranjang saya, dan ruang tamu ini adalah "akomodasi" buat saya." Foto diambil dari laporan MFMW

Ada banyak perempuan yang harus bekerja dalam kondisi yang lebih buruk. Mereka bahkan tak punya ruangan. Salah satu foto bahkan menunjukkan kabinet kayu seukuran peti mati di atas lemari es dan micorwave. "Lemari ini adalah 'ruang pribadi saya,'" ujar seorang buruh. "Hidupku habis di dapur ini." seorang wanita lainnya mengaku tidur di lahan di luar rumah. "Ini bukan rumah anjing lho," begitu perkataan itu dikutip dalam laporan. "Ini adalah 'kamar pribadi' saya." sementara itu beberapa perempuan lainnya mengatakan bahwa mereka dipaksa tidur di ruang tamu.

"Rasanya seperti tak punya privasi karena semua orang dalam rumah bisa melihat apa yang saya lakukan," tuturnya mengiba. "Misalnya, kalau saya menyentuh barang milik saya pribadi, seperti baju atau buku, majikan saya langsung curiga dan bertanya, 'itu apa sih?' atau "kamu mau ngapian?' dan saya enggak suka kondisi seperti ini."

Kondisi seperti ini membuat beberapa perempuan menderita kurang tidur, harus siaga bekerja 24 jam sehari dan merasa tak berdaya. Dalam sebuah focus grup untuk riset ini, para peserta berharap mereka punya jam kerja yang jelas dan waktu istirahat yang tak diusik. Namun, kebanyakan dari perempuan perempuan kepalang takut untuk berusaha mengubah kondisi mereka. "Kami ini setuju dengan kondisi seperti ini karena cuma ingin dapat nafkah," jelas salah satu partisipan. "Kalau kamu menolak, kami kan bakal dikirim balik ke agen atau malah dipulangkan, begitu kan?"

"Lemari ini adalah tempat tidur pribadi saya," ujar satu narsum. "Hidup saya habis di dapur ini."

"Kalau dipikir-pikir apa yang kita lakukan pada para asisten rumah tangga ini mengerikan sekali. Ini bentuk perbudakan modern," kata Norman Uy Carnay, peneliti utama riset tersebut, seperti dikutip Reuters. "Mayoritas akomodasi yang disediakan bagi asisten rumah tangga ini bahkan tak cukup manusiawi. Hong Kong adalah kota berkelas internasional. Sungguh memalukan cara Hong Kong memperlakukan para buruh migran domestiknya."

Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar South China Morning Post, Carnay menyatakan "sekitar 500 asisten rumah tangga di Hong Kong dipaksa majikan tidur di toilet."

Kondisi kerja buruh migran di Hong Kong menyerupai perbudakan era modern.

Laporan MFMW menengarai kondisi mengenaskan yang dialami oleh para pekerja domestik dipicu oleh kebijakan wajib tinggal dengan majikan yang berlaku di Hong Kong. Aturan yang dikeluarkan oleh Departemen Imigrasi itu tidak merinci apa yang dimaksud dengan "akomodasi yang cocok" bagi para pekerja. Kebijakan tersebut hanya merinci dua jenis "akomodosi yang layak" yakni "ranjang seadanya di koridor rumah dengan privasi yang sangat terbatas" serta "kamar yang digunakan bersama anak muda/orang dewasa dengan jenis kelamin berbeda. Ketika Departemen Tenaga Kerja diminta menjelaskan apa yang dimaksud dengan "akomodasi yang pantas," mereka menjawab bahwa mereka "tak bisa" memalukannya, seperti yang dilansir oleh Reuters.

Peraturan internasional mewajibkan para majikan untuk menyediakan "ruangan terpisah berisi perabotan yang pantas, dilengkapi dengan ventilasi yang baik dan kunci gembok" bagi para asisten rumah tangga asal luar negeri. Lewat laporannya MFMW mendesak pemerintah Hong Kong mematuhi standar tersebut atau setidaknya mencontoh perlakuan manusiawi terhadap para pekerja domestik yang berasal dari berbagai negara.