Marabahaya Terus Mengintai Penumpang Kapal Cepat Kepulauan Seribu
Foto oleh Renaldo Gabriel.
Transportasi

Marabahaya Terus Mengintai Penumpang Kapal Cepat Kepulauan Seribu

Insiden kapal terbakar kembali terjadi. Padahal awal tahun ini pemprov berusaha membenahi keamanan kapal Pelabuhan Muara Angke usai tragedi Zuhro Express.
28 April 2017, 12:15pm

Kurang dari 10 orang berlalu lalang di Pelabuhan Muara Angke, Jakarta Utara, saat VICE Indonesia tiba. Suasana sepi, barangkali karena matahari sedang di atas kepala. Kami datang sehari menjelang akhir pekan. Petugas pelabuhan bilang tak ada jadwal kapal berangkat menuju Kepulauan Seribu sampai Sabtu pagi. Hanya ada kapal membawa penumpang ke Jakarta yang akan bersandar hari itu.

Tak sampai setengah jam, kapal yang dimaksud bersandar. Satu per satu penumpang langsung dari tepian kapal, melompat ke lapisan beton di dermaga.

Rizky (22) salah satunya. Dia adalah turis asal Jakarta yang baru saja berlibur di Kepulauan Seribu. Perjalannyanya selama nyaris 1,5 jam relatif tanpa hambatan. Dia mengaku sempat khawatir, lantaran mendengar kecelakaan yang tiga bulan terakhir dialami kapal-kapal dari dan menuju Kepulauan Seribu.

Rizky melihat petugas Dinas Perhubungan kini lebih tegas memastikan keamanan penumpang. "Ada rasa khawatir gara-gara ombak besar, tapi percaya sih sama Dishubnya. Tadi tegas sama peraturannya pakai vest gitu," ujarnya.

Keamanan kapal penyeberangan ke Pulau Seribu sedang menjadi sorotan. Selasa pekan ini, kapal cepat mengangkut 19 penumpang terbakar di tengah laut karena sebab yang belum jelas.

Mayoritas kapal bernama Zevolution 9 Princess itu adalah turis asing asal Tiongkok yang hendak mengunjungi Pulau Ayer. Mereka semua selamat, setelah dievakuasi polisi air DKI Jakarta.

Insiden ini segera mengingatkan publik pada terbakarnya kapal KM Zuhro Express tahun baru lalu. Dalam tragedi tersebut, 23 penumpang tewas sementara 17 orang lainnya hilang di lautan ketika api melalap badan kapal, hanya 15 menit setelah Zuhro Express meninggalkan Pelabuhan Muara Angke.

Polisi menetapkan pemilik kapal dan nahkoda sebagai tersangka kasus kelalaian menyebabkan orang lain meninggal. Sesudah penyelidikan, terbukti kapal Zuhro Express kelebihan beban. Dari seharusnya 100 penumpang,kapal itu ternyata mengangkut 230 orang.

Pemprov DKI Jakarta segera berbenah ketika insiden itu jadi sorotan publik. Semua penumpang sekarang wajib mengenakan pelampung. Nahkoda juga wajib mengurus Surat Persetujuan Berlayar dari Syahbandar setiap kali hendak meninggalkan pelabuhan. Kini minimal lima petugas dishub disiagakan memeriksa kelengkapan setiap kapal.

Penumpang turun dari kapal cepat di Pelabuhan Muara Angke. Foto oleh Renaldo Gabriel.

Pada 7 April lalu, insiden kembali terjadi di perairan antara Kepulauan Seribu dan Jakarta. Kapal motor Bhaita Jaya menabrak Tanker MT Elizabeth. Tak ada korban jiwa. Dari 13 anak buah kapal, hanya satu ABK terluka.

Lalu terjadilah kebakaran Zevolution 9 yang membuat publik kembali bertanya-tanya, apakah menyeberang ke Pulau Seribu harus bertaruh nyawa?

Polisi Air Polda Metro Jaya menganggap insiden terbakarnya kapal Zevolution yang mengangkut turis asing tak perlu dibesar-besarkan. Pemilik kapal dianggap sudah berbenah setelah insiden Zuhro Express.

"Untuk faktor keselamatan, semua selamat. Berarti dari segi pelayaran semua bagus, termasuk life jacket. Kalau dari safety, karena semua bisa selamat, berarti bagus _safety_-nya," kata Komisaris Polisi Pandji Santoso.

Bagi para pekerja pelabuhan, pernyataan polisi mereka ragukan. Tidak ada sistem penyelamatan pada kondisi darurat pada saat kapal Zevolution terbakar beberapa hari lalu. Demikian pula saat dulu Zuhro Express terbakar "Di saat ada kecelakaan, polisi cuma datang jagain orang yang ngeliat," kata Mahdi, karyawan bongkar muat barang di Pelabuhan Muara Angke.

Kepulauan Seribu dihuni 17 ribu penduduk. Ribuan orang rutin menglaju ke Jakarta setiap hari. Sebagian besar warga menumpang kapal kayu milik nelayan lokal. Di sisi lain, perairan dengan 110 pulau itu (tidak sampai seribu seperti namanya) sedang menjadi lokasi tujuan wisata favorit. Pemprov DKI memperkirakan 2 juta orang mengunjungi pulau-pulau obyek wisata di Kabupaten ini. Tujuan utama pelancong biasanya Pulau Tidung, Pulau Bidadari, Pulau Pari, Pulau Pramuka, serta Pulau Ayer.

Pada puncak musim liburan, misalnya saat Lebaran, pengunjung bisa mencapai 7 ribu orang dalam sehari. Syahbandar Pelabuhan Muara Angke biasanya akan menyiagakan 20-30 kapal. Tarif mengangkut penumpang bervariasi. Kapal cepat kecil mematok tiket per orang Rp45 ribu. Sementara feri besar yang lebih luas, tapi menempuh perjalanan lebih lama, dibanderol Rp25 ribu.

Pangkal masalahnya, dari 41 kapal yang tercatat oleh otoritas pelabuhan, mayoritas milik perorangan. Tak ada izin ketat membatasi orang yang ingin menjalankan bisnis pengantaran ke Pulau Seribu. Desain kapal, terutama yang berbahan kayu kadang asal-asalan. Genset seringkali berada dekat mesin, rentan memicu korsleting. Kapal Zuhro yang terbakar habis termasuk yang tak mengantongi izin.

"Kapal-kapal yang waktu itu kecelakaan sebenanyar kapal pribadi. Engga terdaftar di kantor [syahbandar pelabuhan]. Pas kecelakaan itu udah engga tahu lagi ke mana orang-orangnya," kata Mahdi.

Rudiana, selaku Dirjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, menegaskan kini setiap perusahaan kapal angkut, termasuk yang beroperasi melayani penumpang di Kepulauan Seribu, wajib menyerahkan desain kapal kepada pemerintah sebelum berlayar.

Pekerjaan Rumah dan tekanan kini menghantui Otoritas Pelabuhan Muara Angke, karena terjadi dua kali kebakaran kapal cepat dalam empat bulan terakhir. Tanpa ada perbaikan serius, minat turis berkunjung ke Kepualuan Seribu bisa surut.

Apalagi sebelum jatuh korban jiwa, masalah kapal selama perjalanan menuju Kepulauan Seribu sudah banyak ditulis oleh pelancong. Terutama soal kapal rusak di tengah laut akibat kemasukan sampah atau baling-baling yang patah.

Bagi warga Kepulauan Seribu yang terbiasa mengarungi laut menuju Jakarta saban hari, semua pertaruhan itu tak terlalu mengkhawatirkan Sainan, nelayan asal Pulau Kelapa, mengaku pelayaran dengan kapal kecil ataupun naik feri sudah dia lakoni seumur hidup.

Kalaupun ada masalah, dalam bayangan Sainan, dia tinggal meloncat ke air lalu berenang menuju salah satu pulau di perairan tersebut. "Jaraknya engga jauh-jauh. Kapal kayu kan bisa berlabuh di mana aja, engga kayak kapal besi," ujarnya.

Tentu saja tidak semua orang seberani Sainan. Dia pun menyadarinya. Baginya, penduduk Kepulauan Seribut merasa laut dan kapal (yang penuh masalah) bukan ancaman.

"Kalau orang seperti saya sih engga takut. Orang pulau kan jiwanya di laut."