Rokok

Saya Sebulan Berusaha Berhenti Merokok dengan Terapi Aneh-aneh

Saya sudah mencoba semuanya: ngerokok enggak berhenti-berhenti sampai kayak knalpot motor dua tak, akupunktur, hipnoterapi, dan pengobatan herbal yang aneh-aneh. Hasilnya?

oleh Sam Nichols
12 September 2017, 5:09am

semua foto oleh penulis

Tepat bulan ini, saya dan rokok merayakan ulang tahun hubungan kami yang ke sembilan. Pengalaman saya mencoba berhenti merokok, menggunakan Nicabate, Champix, atau janji diri anget-anget tai ayam, selalu berakhir dengan saya merasa tidak enak badan dan akhirnya menyerah. Kayaknya emang saya sudah ditakdirkan kecanduan merokok.

Mencoba memutus kecanduan memang sulit. Biarpun banyak perokok berencana berhenti, secara statistik, hanya beberapa yang berhasil: sebuah penelitian yang dilakukan Australian Institute of Health and Welfare menemukan bahwa dari 77 persen perokok yang ingin berhenti, hanya 19 persen benar-benar berhasil melakukannya selama lebih dari sebulan.

Setelah melihat sejarah merokok saya selama ini -bolak-balik berhenti, mulai lagi, berhenti, mulai lagi- saya memutuskan untuk mencoba pendekatan baru. Internet menyediakan ribuan solusi alternatif untuk berhenti merokok, tapi hanya empat yang terdengar meyakinkan: metode aversi, akupunktur, pengobatan herbal alami, dan hipnoterapi.

Saya mencoba satu usaha terakhir. Setelah menelpon Ayah dan mengatakan saya akan berhenti merokok selamanya, saya memberi diri waktu sebulan untuk merealisasikan janji barusan. Setiap minggu saya akan mencoba pengobatan alternatif sampe ketemu yang sukses meredam gairah merokok. Masa iya gak ada yang manjur sih?

Minggu Pertama: Mencoba Membuat Diri Enek Dengan Cara Merokok ala Lokomotif Kereta

Setiap kali sebats, saya langsung habiskan tiga batang tanpa putus. Konon begitulah terapi aversi dijalankan.

Ide di belakang terapi aversi lumayan sederhana: Ciptakan respon negatif dengan kebiasaan yang hendak kamu stop, niscaya kamu tidak ingin melakukan kegiatan tersebut. Penelitian menunjukkan bahwa tingkat efektivitas terapi aversi masih belum bisa diandalkan. Namun, wacana merokok tiga batang sekaligus, paling tidak 25 batang sehari terdengar cukup memuakkan.

Setelah dicoba, rasanya amit-amit. Saya mengerti memang ini intinya terapi aversi, tapi tetap saja, rasanya menjijikkan dan tidak efektif membuat saya ingin berhenti. Setelah seminggu, saya merasa seperti habis diracun baik pikiran maupun badan.

Saya tidak bisa berkonsentrasi atau berkomunikasi. Badan saya bau tidak enak dan saya terus merasa sakit. Memang iya, merokok jadi tidak enak rasanya. Tapi masalahnya gairah saya tidak hilang sepenuhnya, dan ketika saya stres, saya tidak tahu cara lain untuk menghadapinya selain dengan merokok.

Insting saya mengatakan kalaupun saya mencoba pendekatan aversi selama lebih dari seminggu, saya tetap tidak akan merokok. Justru akan semakin parah, karena rokoknya semakin banyak.

Nilai metode ini: 1/10

Minggu Kedua: Akupunktur

Katanya akupunktur bisa meredakan stres yang muncul gara-gara nyoba berhenti merokok. (foto: Emilie Kilvington)

Akupunktur berfungsi berdasarkan kepercayaan bahwa beberapa titik di tubuh berhubungan dengan perasaan tertentu. Jadi dengan cara menusukkan jarum di beberapa titik ini, emosi negatif dan perasaan tertekan bisa diredakan. Ada penelitian yang bahkan menemukan bahwa akupunktur bisa mengurangi gairah merokok.

Saya pun membooking sesi akupunktur tiga jam dengan Renee Knott untuk berusaha meredakan kecanduan saya akan nikotin. Sesi dimulai dengan pengecekan denyut nadi, sebelum memasukkan jarum ke kuping, pergelangan tangan, dahi, dan kaki. Semua titik ini, kata Renee, adalah titik pusat adiksi dan stres. Sesi ini diakhiri dengan meditasi dan pijat.

)Sesi relaksasi dan pijat adalah sesi yang paling enak dan menenangkan. (foto: Emilie Kilvington)

Bagi saya, akupunktur terasa efektif karena saya mengganti kegiatan merokok dengan pengalaman yang sama sekali baru. Intinya bukan jarum itu sendiri, tapi proses relaksasinya.

Saya bersemangat untuk pergi ke sesi berikutnya dan mencoba menggunakan teknik Renee yang membuat saya merasa tidak perlu merokok terlalu banyak, terutama ketika stres. Biarpun saya masih merokok di minggu itu, saya kerap merasa bersalah ketika sedang sebat, dan akhirnya mengurangi dari sekitar 15 batang menjadi 5 batang sehari.

Nilai metode ini: 7/10

Minggu Ketiga: Berusaha Menahan Gairah Merokok Dengan Cara Melahap "Obat-obatan Alami"

herbal-herbal yang harus saya konsumsi untuk mengatasi kecanduan merokok

Biarpun mungkin metode ini agar terdengar gimana gitu, tapi ada bukti sains yang menyatakan bahwa cara kerja ramuan dan minyak alami mirip dengan Nicabate, artinya mereka menekan nafsu untuk mengkonsumsi nikotin dan mengganti rokok dengan zat yang lebih aman.

Tim peneliti dari Thailand melaporkan bahwa meminum jus limun segar bisa sama efektifnya dengan meminum obat, sementara penelitian dari AS mengatakan bahwa konsumsi minyak esensi lada hitam dan teh passiflora bisa mengurangi nafsu akan nikotin. Tanaman Hypericum Perforatum (St John's wort) bisa membantu mengatasi stres dan gangguan kekhawatiran, efek samping yang normal dari berhenti merokok. Rokok herbal juga menjadi alternatif bagi yang ingin merokok tanpa zat adiktif.

Foto oleh Mitt Peney.

Biarpun menaruh banyak harapan, saya menemukan bahwa semua zat ini tidak berhasil menghentikan nafsu saya merokok. Mungkin saya juga terganggu diceng-cengin rekan kerja ketika hendak menghirup minyak lada hitam di kantor, tapi kayaknya emang gak efektif aja deh. Mendingan cari obat dari dokter sekalian.

Lagian, rokok herbal itu rasanya kayak tai.

Nilai metode ini: 3/10

Minggu Keempat: Menghipnotis Diri Untuk Berhenti Merokok

Hipnoterapi ternyata beda banget dengan yang saya bayangkan. Sebelum sesi saya dimulai dengan hipnoterapis Laura Masi, saya harus mengikuti "pra-terapi" selama seminggu yang mengharuskan saya bermeditasi selama 20 menit setiap hari. Saya juga diwajibkan mencatat setiap kali saya merokok beserta alasannya. Saat itu saya merasa pesimis terapi ini akan berhasil.

Di tengah sesi hipnosis, Laura membuat saya tidak sadar dan mengatakan beberapa hal-hal yang menyenangkan: bagaimana saya memiliki kekuatan untuk berhenti, bahwa saya bukanlah budak dari adiksi saya, dsb. Dia juga membuat saya memverbalisasi alasan saya merokok dan "bagian dari saya" yang membiarkan kebiasaan ini berlanjut.

Secara esensi, hipnoterapi adalah meditasi hardcore bersama seorang teman yang sangat suportif mendukungmu berhenti. Dan ini bukan hal yang buruk. Saya meninggalkan sesi dengan perasaan tidak perlu merokok, dan setiap kali merokok, saya merasa bersalah. Memang iya sih, dua jam kemudian saya udah ngerokok lagi, tapi anehnya hipnoterapi tidak terasa seperti kegagalan.

Laura memberi saya satu podcast untuk saya dengar sebelum sesi dimulai

Di metode-metode sebelumnya, saya selalu merasa ujung-ujungnya akan kembali merokok. Tapi setelah sesi hipnoterapi, saya merasa lebih percaya diri. Saya tinggal mengingat ucapan Laura ketika saya setengah sadar, "Entah hari ini, atau di masa depan, kamu pasti akan berhenti." Mungkin ini terdengar aneh, tapi justru di sinilah kekuatan hipnoterapi. Apabila terapi lain mengandalkan substansi atau obat-obatan, hipnoterapi justru menaruh tanggung jawab untuk berhenti kembali ke dirimu.

Nilai metode: 8/10

Foto oleh Mitch Penney

Berhenti merokok memang tidak mudah, terutama apabila anda perokok veteran. Terlalu mudah untuk menganggap semua terapi ini sebagai usaha sia-sia, tapi rasanya ini tidak adil. Saya belajar banyak tentang dedikasi.

Realitanya, kamu bisa berhenti menggunakan cara apapun yang cocok buatmu, tapi tentu saja sekedar suntikan jarum atau jus jeruk nipis tidak akan cukup. Kamu membutuhkan rasa percaya diri untuk bisa berhenti dan determinasi untuk terus mencoba ketika gagal. Tapi memang harus saya akui, saat ini niat saya untuk berhenti belum cukup kuat. Saya sadar bahwa banyak orang menunggu seumur hidupnya untuk secercah inspirasi, sebelum tiba-tiba sudah terkapar di ranjang rumah sakit dengan kanker stadium IV. Tapi memang ini masalah dengan merokok: saking nyamannya, setiap kali saya ketakutan memikirkan kanker, saya menenangkan diri dengan cara nyebat.

Sulit untuk menerka kapan saya benar-benar akan berhenti, tapi sebulan ini telah memberikan saya pemahaman bahwa saya bisa dan akan berhenti suatu hari nanti. Mungkin waktu belum berpihak pada saya, tapi setidaknya sekarang saya lebih siap dan lebih percaya diri dibanding dulu. Saya hanya harus lebih banyak berusaha dan lebih sedikit nyebat.