Bencana Alam

'Saya Enggak Takut': Potret Mereka Yang Bertahan Maupun Mengungsi di Lereng Gunung Agung

Sebagian tinggal karena berat meninggalkan ternak, bahkan yakin dewata memanggil pulang. Kami menemui pula yang bersedia ke titik evakuasi. Semuanya siap menanggung risiko.

oleh Danar Tri Atmojo
02 Oktober 2017, 1:18pm

Made Suparta dan keluarganya memilih bertahan di Desa Budakeling, Kabupaten Karangasem. Semua foto oleh penulis.

Sudah sembilan hari Gunung Agung yang terletak di Kabupaten Karangasem, Bali, naik statusnya menjadi 'Awas'. Gunung Agung terakhir meletus 2 Februari 1963, yang kala itu menewaskan 200 jiwa serta menghancurkan 1.700 rumah, kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik. Awal pekan ini asap putih mulai muncul dari mulut kawah, pertanda adanya konsentrasi gas cukup besar di permukaan.

Pemerintah bergerak cepat menetapkan zona bahaya sejauh 12 kilometer dari kawah, sejak akhir September lalu. Sebanyak 139.945 penduduk telah dievakuasi di 419 titik pengungsian. Platform sewa properti asal AS AirBnB juga turut mengimbau para pemilik hotel maupun properti di sekitar Gunung Agung turut menampung pengungsi.

Namun tak sedikit warga dengan sadar meninggalkan pengungsian. Mereka memilih tetap bertahan di rumah, meski berada dalam zona berbahaya. Mereka mengkhawatirkan ternaknya. Dari data pemerintah, sebanyak 30.000 ekor sapi berada dalam radius berbahaya. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pun turut serta mengungsikan ternak agar warga mau mengungsi. Target pemerintah adalah mengungsikan sebanyak 20.000 sapi.

Keputusan sebagian warga itu mengkhawatirkan pemerintah. Devy Kamil, selaku ‎K‎epala Subbidang Mitigasi Pemantauan Gunung Api Wilayah Timur Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengatakan erupsi kemungkinan besar segera terjadi. Keluarnya asap putih adalah parameter penting mengetahui potensi letusan. Sebab, kekuatan letusan tidak diukur dari magma yang terkandung dalam perut gunung, namun justru dari konsentrasi kandungan gasnya.

"Semakin banyak kandungan gasnya, semakin eksplosif letusannya. Gas itu namanya gas magmatik. Kandungannya campuran. Ada macam-macam," kata Devy saat dihubungi media lokal.

VICE Indonesia menemui empat warga yang mengambil pilihan berbeda. Ada yang bertahan di rumah masing-masing, sebagian tetap di pengungsian walau mengizinkan keluarganya meninggalkan barak.

Dua yang menolak dievakuasi adalah Ketut Sunarya dan Made Suparta. Sunarya tinggal di Desa Tulamben, sementara Suparta di Budakeling. Dua-duanya masuk wilayah Kabupaten Karangasem. Mereka mengaku tak mengindahkan anjuran pemerintah lantaran ternaknya tak terurus. "Saya enggak takut," ujar Sunarya saat menggembala sapi. "Saya sudah tenang-tenang saja."

Sementara Suparta, yang terus berdoa memohon keselamatan di Pura, mengatakan bahwa beberapa orang warga desanya "mendengar panggilan Dewa untuk kembali ke desa."

Meski Gunung Agung tak kunjung menurunkan aktivitasnya, baik Sunarya maupun Suparta berkukuh menolak mengungsi. Mereka siap dengan segala risiko, termasuk bila puncak tertinggi yang disucikan penduduk Bali tersebut memuntahkan isi perutnya tanpa aba-aba.

Ketut Sunarya di kandang ternaknya.

Ketut Sunarya, Menolak Diungsikan

VICE Indonesia: Bapak siang-siang begini memilih menggembala sapi di lereng. Apa enggak takut?
Ketut Sunarya: Ada rasa takut, tapi juga ada enggaknya. Sapi saya banyak soalnya. Saya punya 30-an sapi di rumah. Mudah-mudahan enggak terjadi [gunung meletus]. Saya jenuh di pengungsian. Sapi saya tinggal di rumah. Ini berita-berita di media terlalu melebih-lebihkan. Masih banyak orang di sini enggak mengungsi. Sapi sebanyak 30 di sana siapa yang ngasih makan? Pemerintah apa tahu hal itu? Bikin susah masyarakat saja itu. Sapi di sana tidak dihiraukan sama pemerintah.

Andai Gunung Agung tiba-tiba meletus bagaimana dong pak?
Katanya letusan itu cuma sampai 12 kilometer dari kawah. Dari sini ke kawah itu paling 40 km-an, jadi enggak akan kena. Kalau misalkan pun terjadi letusan, mudah-mudahan kecil dampaknya. Kalau [letusan] tahun 1963 hancur semua itu. Orang-orang enggak bisa memprediksi Gunung Agung.

Kenapa bapak optimis? Dulu sempat menyaksikan letusan 1963?
Enggak. Saya belum lahir. Tapi ayah saya ngalamin. Hancur lebur di sini, karena enggak ada piring orang-orang makan pakai batok kelapa. Sampai enggak ada semua. Dulu gempa buminya sampai bikin terbang batok kelapa. Sekarang itu masih kecil, orang-orang sudah pada lari. Makanya berita sekarang melebih-lebihkan. Bikin orang susah saja. Di kampung saya itu pada di rumah semua. Enggak ada yang mengungsi.

Sapi bapak ini untuk bertani atau ternak?
Untuk ternak. Dikembangbiakkan terus dijual. Anak sapinya harus dijual kalau enggak pakai apa saya beli beras. Kalau ada bibit anakan bagus enggak dijual, dipelihara. Saya bisnis jual beli sapi. Kalau Idul Adha itu kewalahan saya menghadapi permintaan. Tapi sekarang sapi ini terpaksa dijual murah, ada kemarin yang dijual Rp 3 juta.

Made Suparta, Menolak Diungsikan

VICE Indonesia: Kenapa bapak dan keluarga menolak diungsikan?
Made Suparta: Karena saya percaya Gunung Agung masih aman. Saya juga selalu berdoa di pura.

Anda memilih bertahan di sini bersama keluarga?
Iya, bersama bapak dan dua anak saya.



Tapi kan banyak warga di Desa Budakeling yang sudah dievakuasi? Apa alasan bapak tidak mau ikut?
Betul sudah banyak. Tapi tidak sedikit juga kok yang balik lagi sekarang. Mereka semua sama seperti saya, masih harus mengurus ternak. Malah ada yang langsung pulang, cuma sehari di pengungsian. Ada tetangga yang pulang karena mereka mendapat 'Balian Ketakson' (panggilan dari Tuhan, merujuk pada kepercayaan Hindu Bali— red]. Makanya cuma semalam mereka di pengungsian.

Ni Made Rumpi, Bertahan di Pengungsian

VICE: Ibu kenapa memilih mengungsi? Selama ini tinggal di mana?
Ni Made Rumpi: saya tinggal di Budakeling, posisinya di selatan Gunung Agung. Rumah saya termasuk terdekat dari Gunung. Cuma 12 kilometer dari Gunung Agung.

Berarti semua keluarga ikut mengungsi?
Tidak. Di sini saya sama keluarga, anak-anak, sama ada dua kakak ipar. Total dua keluarga. Sebagian sekarang lagi pulang ke rumah.

Kenapa memilih pulang? Mengurus ternak?
Iya. Ngurus sapi dan babi. Mereka tiap hari pulang. Berangkat jam 11 siang biasanya jam 5 sore sudah balik. Rumah cuma 15 kilometer dari sini. Mereka ngurus ternak sambil ngarit rumput.



Apakah ibu mengalami letusan Gunung Agung 1963?
Iya. Saya waktu itu sudah kelas 2 SD. Saya masih ingat.

Saat itu suasana letusan seperti apa?
Waktu itu enggak ada kendaraan, enggak ada sepeda. Sudah keluar lahar dari Gunung Agung, kami sekeluarga lari semalaman. Dari jam 12 malam, sampai jam 1 pagi. Untung pengungsian waktu itu dekat. Saya ingat kami lari samping sungai-sungai yang lebar, tujuh meter lebarnya. Penuh [lahar dingin] air tinggi. Kita jalan kaki terus. Malam itu sampai hujan batu.

Jadi karena ingat pengalaman dulu, ibu menurut saja diungsikan?
Susah juga ya. Saya terlanjur nyaman di rumah, sebetulnya pengennya cepat pulang. Saya stres pokoknya makin lama hidup di pengungsian.

I Gusti Gede Suasa, Bertahan di Pengungsian

VICE Indonesia: Sudah berapa lama di pengungsian?
I Gusti Gede Suasa: Sejak status 'Awas', saya sudah di pengungsian. Karena desa saya masuk zona merah. Masih ada bekas lahar dari letusan 1963. Pas letusan 1963 saya mengungsi juga. Saya di pengungsian juga sama keluarga, ada 16 anggota keluarga di sini.

Enggak ada rencana kembali ke desa?
Kalau belum ada pemberitahuan dari pemerintah saya tetap di sini. Tadi saya dengar ada tiga orang naik ke kawah Gunung Agung, mungkin buat berdoa.

Anda mengalami letusan 1963 ya pak. Bagaimana dulu suasananya?
Dulu lebih menderita menjadi pengungsi. Saya baru kelas 1 SMP. Saya ingat jalan kaki ke Gianyar sambil bawa sapi. Meletus besarnya itu Maret. Luar biasa itu. Batu-batu besar yang panas berjatuhan. Saya enam bulan di pengungsian Gianyar. Makannya cuma ketela saja. Kalau sekarang lain. Kalau saya ingat lagi, ngeri. Setelah beberapa bulan saya mau pulang buat mengambil barang saja dilarang kalau dulu. Katanya masih berbahaya. Setiap hujan, banjir laharnya luar biasa.

Pas letusan 1963 dulu apakah rumah terkena letusan?
Tidak. Jarak rumah dulu sekitar 10 km dari kawah. Tapi saya yang takut pada waktu itu awan panasnya, belerang, sama gas beracun. Perunggu sampai mencair kalau kena awan panas. Ada dulu saya pernah melihat orang tahu-tahu meninggal di desa saya. Semua kulitnya mengelupas. Sekarang pemerintah baru gempa-gempa saja sudah disuruh mengungsi, kan supaya enggak ada korban. Di desa saya ada, sampai sekarang ada 546 orang korban letusan 1963. Pada waktu itu belum ada peringatan.