vice guide to film

Joko Anwar Ingin Kalian Semua Menikmati Rasanya Jadi 'Pengabdi Setan'

Sutradara avonturir ini pertama kalinya menggarap genre horor murni lewat reboot film 'Pengabdi Setan'. Berikut obrolan VICE bersamanya menyinggung peran agama, pentingnya restorasi film, serta alasan dia sangat menggemari film klasik Indonesia.

oleh Rizky Rahad
14 September 2017, 11:50am

Ilustrasi oleh Diedra Cavina.

Sulit menganggap Joko Anwar sebagai sosok biasa-biasa saja. Pertemuan saya dengannya siang itu harus diwarnai hal di luar kewajaran. Ketika Joko membukakan pintu rumah bertingkat kawasan Cirendeu, Tangerang Selatan, segera terdengar jeritan-jeritan perempuan menyayat dari lantai dua. Bulu kuduk saya berdiri. Joko, mengenakan outfit hitam-hitam, sambil tertawa mencoba menenangkan saya. Suara itu muncul karena dia dan tim produksi sedang tetirah di rumah tersebut, merampungkan audio mixing untuk film terbaru reboot karya klasik Indonesia yang rilis dalam waktu dekat: Pengabdi Setan.

Sangat jarang menemukan sosok kaya warna macam Joko Anwar dari lanskap sinema Indonesia. Publik mengenalnya sebagai sutradara film yang sudah mulai berkarya sejak masa-masa awal kebangkitan industri film nasional awal 2000-an. Jejak kreatif pertamanya adalah naskah komedi satir Arisan yang ditulis bersama Nia Dinata. Arisan meraih Piala Citra sebagai film terbaik.

Lambat laun, reputasi Joko terbangun sebagai sosok pekerja kreatif perfilman berwatak avonturir, senang menjajal berbagai medan, untuk perkara pendekatan visual dan cerita di luar kelaziman. Lelaki kelahiran Medan, 3 Januari 1976 itu bertualang menjajal elemen genre berbeda-beda dari katalog karyanya. Mulai dari komedi di Janji Joni (2005), thriller di Kala (2007) dan Modus Anomali (2012), slasher dalam Pintu Terlarang (2009), hingga realisme dan tema politik dalam A Copy of My Mind (2015).

Uniknya, Joko adalah sineas yang lekat dengan kesan cerita-cerita suspens, tapi tak pernah sepenuhnya pernah menggarap film horor murni. Maka, bagi penggemar karya-karyanya, sangat mengasyikkan ketika mendengar Joko akhirnya menggarap ulang Pengabdi Setan. Film yang rilis pertama kali pada 1980 itu sampai sekarang terus menghantui Joko. Hasil karya sutradara Sisworo Gautama Putra itu, menurut Joko, adalah film Indonesia paling seram yang pernah dia tonton. Pengabdi Setan merupakan salah satu puncak pencapaian genre eksploitasi Indonesia era Orde Baru. Ada banyak narasi unik dalam film tersebut. Mulai dari zombie, peran ulama menormalisasi gangguan "keamanan dan ketertiban", hingga kekosongan spiritual masyarakat selama rezim Presiden Suharto.

Joko mengaku punya alasan kuat tentang kenapa kini memutuskan membuat reboot Pengabdi Setan, setelah biasanya mengarahkan film yang skenarionya dia tulis sendiri. Berikut obrolan VICE bersama Joko yang menyentuh bermacam topik. Mulai dari tradisi horor di sinema Indonesia, relevansi agama, serta harapannya agar generasi millenials dan Z tertarik mengulik kembali film-film lawas dari negara kita.

VICE Indonesia: Kenapa akhirnya kamu memilih reboot Pengabdi Setan untuk film feature ke-6?
Joko Anwar: Salah satu film yang nempel banget di kepala gue itu Pengabdi Setan. Gue dulu kan nonton ngga pernah malam karena mahal ya. Jadi nonton itu jam 9 pagi matinee show. Itu keluar masih terang yah. Hari itu gue berharap gelap ngga akan pernah datang gitu, karena serem banget. Tapi nonton itu asyik gitu, kayak, ya kayak naik roller coaster kali ya? Ketika lo nonton, lo yang "Haaaaa" mau berhenti. Tapi setelah selesai, "enak banget tadi ya" gitu. Makanya gue suka film horor, karena horor memberi kita kebahagiaan tanpa pretensi. Kalau drama mungkin ada pretensi untuk beropini atau berpolitik dan lain sebagainya. Selain itu, selama ini gue bikin film ngga pernah horor kan? Film gue main-main sama elemen horor kayak di Kala, Pintu Terlarang, Modus Anomali. Tapi enggak pernah sepenuhnya jadi genre horor.

Dari aspek visual, apa sih yang spesial dari film asli 'Pengabdi Setan' seingatmu?
Pengabdi Setan unik banget, karena pada zaman itu film horor Indonesia sangat kental dengan elemen gore ya, special effect yang murah tapi dibuat dengan passion. Pengabdi Setan tuh beda sendiri karena dia betul-betul mengandalkan atmosfer gitu, dari mulai make-up nya, disambung dengan musiknya yang curian semua by the way (tertawa). Tapi somehow it created a combination of this atmospheric horror. Dia enggak pake suara musik tradisional Indonesia, gamelan, gong, atau apa gitu. Betul-betul atmospheric horror synth from the 80s kan? Jadi bisa dibilang, Pengabdi Setan tuh one of a few techno horrors from Indonesia [tertawa].

Apa yang diubah di reboot-mu kali ini?
Kita mencoba mempertahankan elemen atmosfer horornya. Ceritanya yang kita harus kembangkan, karena kita harus memberikan cerita yang lebih komprehensif dan enggak sekedar tempelan. Karena penonton sekarang lebih demanding soal cerita kan?

Oke, style dipertahankan, skenario dikemas lebih kontemporer. Berarti nuansa efek horor campy dan amatirannya dipertahankan? Atau ini nanti akan dibuat lebih serius?
Elemen horor yang ada di film pertama coba pertahankan, tapi kita bikin ngga campy gitu, dengan cara make-up nya dimutakhirkan, dibikin lebih meyakinkan.

Tapi bukannya kesan amatir yang bikin film ini dulu a pure joy to watch?
Sebenarnya film pertama itu tidak sengaja dibikin campy. [Rapi Film] wanted to make it serious, dan persepsi orang ketika menonton film yang original pada saat itu, ya mereka beneran menganggap ini film horor. Jadi yang dipertahankan adalah persepsi dari penonton terhadap film itu.

Film pertama ada sedikit muatan politisnya seingatku. Semacam kesan Islam dan sosok ustaz adalah satu-satunya penyelamat negara ini. Menurutmu gimana?
I think at the time, in the original, para pembuat filmnya tidak memaksudkan filmnya sebagai film propaganda Islam. Karena pada saat itu kan memang pemahaman penonton is very simple, bahwa kejahatan hanya bisa dikalahkan oleh kebaikan. Dalam film horor, pastinya kejahatan adalah setannya, lawannya pasti agama gitu.

Mungkin tidak gamblang, tapi secara subtil kan terasa dikotominya. Setan udah pasti bad, agama udah pasti good. Apakah di-reboot ini pesan tentang peran agama seperti di film aslinya tetap disampaikan pada penonton?
It's a very good question, and I don't want to stir controversy [tertawa]. Tapi it's very interesting what you said, karena kalau gue bilang sekarang orang Indonesia tidak begitu hitam putih tentang agama, ya engga juga. Orang malah lebih hitam putih. Malah orang Indonesia jauh lebih religius sekarang daripada dulu ya? Dulu masih kita lihat film-film dengan poster telanjang, minim. Sekarang udah ngga boleh gitu. So, it's very interesting. In the end, I put my own opinion on it. I think that's the wisest way to say it. I put my own perception of religion.

Jadi apa sih pandangan seorang Joko Anwar soal agama?
Some people need it because they feel like they want to be spiritual. And sometimes that need digunakan oleh orang lain untuk hal-hal lain yang mungkin not for their interest gitu. Di film pertama, mereka mengira, karena mereka tidak bertuhan sehingga mereka diteror oleh iblis. Di film keduanya, mereka diteror bukan karena the lack of agama, tapi ignorance, general ignorance in the essence of life.

Film baru ini masih mempertahankan tokoh ustaz?
Kali ini ustaznya lebih diberi karakter mendalam [tertawa]. Dia enggak akan sekadar muncul jadi pahlawan di akhir cerita. He has characters and his own struggle. Kayak The Exorcist kan priest-nya punya his own struggles.

Dari sisi genre, katalog filmmu beragam banget—ada film drama realis, thriller psikologis, dan sekarang horor. Kalau secara tema kamu bilang ada benang merah, apa ada hubungan juga dari segi gaya visualmu?
Ada ya. Gue sangat percaya bahwa salah satu yang menghambat kemajuan manusia adalah narrow-mindedness gitu. Gue mencoba untuk membuat film untuk endorse open-mindedness. Not in terms of the story. Kadang-kadang ceritanya bisa sederhana banget. Tapi dari spektrum sinematis lebih luas. Misalnya Kala, setting-nya Jawa, tapi orang pake baju Amerika tahun 40an gitu. Atau Janji Joni. Even though it's set in modern setting, tapi bajunya tiba-tiba tahun 70an. Atau kayak Pintu Terlarang – it's completely nowhere gitu. Modus Anomali – what the fuck happened and where is it set? So you can make films without following a certain convention.

Balik lagi ke 'Pengabdi Setan'. Gue lihat kebanyakan yang meromantisasir film-film horor eksploitasi 80an ini adalah generasimu yang pernah menonton langsung di layar lebar. Sedangkan, generasi millennials kayak gue cenderung nonton film-film ini buat ketawa tersebut karena lebay dan campy.
Masa sih? Jangan-jangan [itu karena] kalian enggak terekspose sama sekali dengan film kayak gini. Karena tren restorasi film lama Indonesia juga baru-baru aja kan? Sebelumnya sama sekali ngga ada akses ke film di era itu. So I don't think they have opinions of the films from that era in general. They're oblivious of the fact that there was this era of golden Indonesian films.

Nah, kalau begitu, reboot ini menurutmu bisa mendorong millennials atau generasi Z tertarik ngulik film-film Indonesia lama?
I hope so. Tentu gue enggak punya niat membangkitkan kejayaan atau apa lah ya. Yang mau gue lakukan cuma agar orang sadar dulu film Indonesia pernah jadi primadona di penonton kita sendiri.

Cuplikan adegan 'Pengabdi Setan' versi reboot.

Film-film genre eksplotasi Indonesia dekade 70-80an sangat diminati di luar negeri. Kira-kira apa sih yang bikin penonton-penonton Barat tertarik sama film macam 'Pengabdi Setan' atau 'Jaka Sembung'?
Orang Barat kan sudah banyak terekspose sama film mainstream, so they search for something different. Kebetulan film kita differentnot just different, but different with extremes gitu. In terms of technicalities, karena kita ngga menguasai teknik visual yang bener, jadinya banyak sineas kita masa itu bikin-bikin sendiri cara ngakalinnya, hasilnya jadi hiburan yang luar biasa. That result in a very extravaganza entertainment. So bad it's so good. Jatuhnya gitu.

Sebaliknya, film arus utama kita belakangan naik turun responnya dari penonton dalam negeri. Padahal talenta dan ide sineas kita berlimpah. Kira-kira faktor apa yang menghambat menurutmu?
Model marketing kita belum dapet yang bisa menangkap maunya penonton Indonesia. Negara kita majemuk banget kan. Banyak sekali suku bangsanya. Jadi marketing yang bisa mencakup semua keberagaman ini belum kita dapatkan. Selain itu, kita harus punya produser film yang tak sekadar punya pengetahuan [soal film] melainkan juga punya taste yang bagus, supaya bisa membuat film Indonesia berkelanjutan. Kalau enggak gitu, nanti kita tidak jadi sineas lagi. We're like locusts gitu. Ada cerita lagi laku, semua bikin. Udah kering, pindah lagi. Kita harus punya lebih banyak eksekutif dan produser yang lebih punya kelas.


VICE bekerja sama dengan Rapi Film, FLIK, dan 13th Entertainment, menayangkan film-film eksploitasi produksi Rapi Film yang telah direstorasi. Lokasi pemutaran di Kinosaurus Jl. Kemang Raya 8B, Jakarta. Pemutaran berlangsung pada 16-17 September 2017.

Akan digelar acara sesi bincang tanya jawab langsung bersama Joko Anwar, pada sesi pemutaran Minggu 17 September pukul 18.00 WIB. Acara terbuka untuk umum. Jika berminat, silakan datang sebelum jadwal karena tempat terbatas.