Semua foto oleh VICE staff

Berikut Catatanku Setelah Ikut Kopdar Pegiat Poligami Garis Keras

Seorang ustaz muda berambisi membangkitkan lagi ide aplikasi poligami yang sempat jadi kontroversi di Tanah Air. Lewat kopdar ini, aku menyelami alur logika pendukung poligami.

|
Sep 16 2018, 4:17pagi

Semua foto oleh VICE staff

Di sebuah aula restoran sunda di Bekasi, pertengahan Mei 2018, puluhan peserta acara Kopdar dan Temu Kangen Para Praktisi dan Penggiat Poligami duduk menghadap panggung. Peserta laki-laki dan perempuan terpisah selisih dua baris kursi. Siang itu, mereka duduk khusyuk mendengarkan ustaz Riski Ramdani yang menyampaikan ceramah dari panggung. Riski bukan sekadar ustaz. Ia sekaligus pengembang situs baru bernama maupoligami.com.

Nyaris semua peserta datang atas undangan Riski, yang ingin berdakwah mengenai poligami. Di samping itu, ia juga ingin mempromosikan maupoligami.com yang saat artikel ini dilansir belum diluncurkan.

Tak berapa lama setelah aku masuk aula, gemuruh tawa sesekali terdengar. Rata-rata orang tertawa mendengar candaan-candaan seputar “enaknya” hidup berpoligami. Saat candaan-candaan itu seliweran di antara pengunjung lelaki, perempuan yang duduk di belakang sibuk mengurusi anak-anaknya. Ada yang lari-lari tak tentu arah, ada yang merengek minta susu, ada pula yang tak kunjung henti menangis karena gerah.

Kumpul-kumpul hari itu rupanya bukan saja terjadi karena kepentingan Riski berdakwah promosi aplikasi semata. Peserta pun punya kepentingan lain yang tentunya masih selaras dengan program acara. Mereka yang datang hari itu sekaligus menjadikan acara sebagai ajang kopi darat dan mencari pasangan untuk diajak berpoligami.

“Motivasi yang pertama saya ingin menyelamatkan akidah keluarga saya. Saya baca di salah satu hadis, di akhir zaman ini pengikut terbanyak Dajjal itu adalah wanita,” kata seorang bapak di sela forum. Tak lama, seorang lelaki berkopiah putih yang duduk di sisi kiriku menyampaikan hal serupa.

“Motivasi saya ya memang untuk memperbanyak umat-umat Islam itu di muka bumi. Karena adanya KB-KB [program kontrasepsi keluarga berencana-red] itu ajaran dari orang di luar Islam agar umat Islam itu sedikit. Makanya kita lawan dengan adanya poligami untuk memperbanyak umat-umat Islam,” katanya.

Para lelaki peserta acara kopdar poligami yang diinisiasi Riski di Bekasi sangat aktif dalam forum.

Tak ada suasana tegang yang terasa di antara para peserta hari itu. Malah lebih sering terdengar cekikikan geli dan tawa ringan saat bapak-bapak menjelaskan rasionalisasi poligami itu baik bagi semua orang, baik lelaki maupun perempuan.

Suasana serupa juga terasa ketika para perempuan angkat suara. “Status saya single parent, ya, anak dua. Motivasinya, ya, ngenalin anak-anak biar enggak kejang kalau ibunya dipoligami,” ujar seorang ibu. Penjelasannya segara saja disusul gelak tawa dari hampir semua peserta. Kecuali aku tampaknya.

Tapi ada juga aspirasi lain dari forum hari itu. Seorang ibu mengaku datang ke forum bukan atas kehendak pribadinya semata. “Aktivitas saya ibu rumah tangga, sekaligus mengelola bisnis properti juga,” kata si ibu memperkenalkan diri. “Motivasi datang ke sini dipaksa sama suami.”

Gelak tawa malah terdengar lebih keras dari sebelumnya. Aku benar-benar tidak bisa ikut tertawa. Tersenyum pun tidak.


Tonton dokumenter VICE menyorot sosok menjadi wajah baru kampanye poligami yang lebih "modern" di Indonesia:


Aku yang duduk di barisan akhir tak kelewat kesempatan memperkenalkan diri. Seorang perempuan di sampingku senyam-senyum malu bertanya genit padaku, “Mbaknya ikutan kopi darat juga?” Aku jawab sekenanya saja dengan maksud bercanda. “Iya mbak, kalau saya boleh punya suami dua atau tiga saya pasti sedang cari sekarang,” ujarku padanya .

Setelah sesi perkenalan usai, kini tiba giliran Riski memaparkan materi pada peserta forum. Materi yang disiapkan oleh orang paling berpengaruh dalam Yayasan Keluarga Samara Indonesia (YKSI) berkaitan tentang keutamaan hidup berpoligami. Kesan yang aku tangkap hari itu, pesan yang disampaikan Riski lebih ditujukan pada laki-laki.

“Kalau ingin istri kita mendukung niat baik berpoligami, yang bahkan membantu suami untuk mempersiapkan dirinya, untuk memperkaya dirinya, maka seorang suami harus sabar dalam meng-install sofware yang tepat di kepala istrinya,” kata Riski.

Di forum itu, aku tak bisa melakukan apa-apa selain mendengarkan semua paparan dan candaan dengan pikiran berkecamuk.

Riski bukan cuma seorang penceramah agama biasa. Ia adalah seorang ustaz yang sukses di bidang pengembangan perangkat lunak. Selain itu, ia juga seorang praktisi poligami yang disegani di komunitas tersebut. Alasannya? Dia menyediakan rasionalisasi menarik untuk melegitimasi praktik poligini (istilah yang akurat untuk menggambarkan relasi pernikahan antara seorang lelaki dengan lebih dari satu perempuan) dan mapan secara finansial.

Ditunjang gaya komunikasi persuasifnya, serta penggunaan ayat-ayat dan diksi-diksi tak lazim dalam percakapan bahasa Indonesia sehari-hari karena menganalogikan manusia sebagai software, ia manjadi inspirasi bagi para praktisi poligami garis keras lainnya.

Soal cara kerja, Riski bilang aplikasi maupoligami.com tak jauh beda dengan tinder atau aplikasi cari jodoh di pasaran. Algoritma yang ia rancang akan mencari jodoh potensial bagi pengguna berdasarkan kedekatan geografis. Pengguna juga bisa membatasi kriteria pasangan yang akan dicari, seperti umur ataupun status. Setelah melakukan pencarian, pengguna otomatis terhubung jika kedua pengguna tertarik satu sama lain, atau dalam bahasa aplikasi tersebut “connect.”

Jika seorang pengguna lelaki beristri satu hendak menggunakan aplikasi ini ia memiliki kesempatan untuk connect dengan tiga perempuan.

Berbeda dari aplikasi sejenis, maupoligami.com akan menggelar acara-acara dan tahapan di dunia nyata alias offline. Riski tak mau para pengguna aplikasi bikin acara kopi darat sendiri-sendiri. Mereka harus terlebih dulu ikut seminar baru bisa lanjut ke tahap-tahap selanjutnya.

Setelah seminar, pengguna aplikasi bisa ikut tahap daurah atau pelatihan tentang kehidupan berumahtangga poligami. Baru setelah itu peserta mengikuti tahapan taaruf di dunia nyata. Jika sudah melewati keseluruhan tahapan itu, maka pengguna yang cocok satu sama lain bisa dipertemukan.

“Kita verifikasi datanya ya. Berbohong mungkin bisa, tapi suatu saat akan ketahuan, dan yang ketahuan berbohong, datanya palsu, kita tendang,” ungkap Riski dalam acara pengenalan aplikasinya siang itu.

Tentu saja Riski menyikmak kontroversi aplikasi ayopoligami.com yang ramai dibicarakan setahun lalu. Terutama setelah munculnya laporan soal bagaimana ajaran Islam dimanfaatkan untuk kepentingan syahwat pengguna aplikasi mencari partner selingkuh dan zina. Belum lagi bicara soal bagaimana Islam digunakan untuk kepentingan komersial si pembuat apps. Riski tidak gentar, ia tetap yakin betul penduduk muslim di Indonesia membutuhkan aplikasi poligami. Aplikasi bikinannya diklaim dapat menjadi platform yang paling sesuai syariat— terlebih ada prasyarat wajib hadir seminar offline sebelum para pengguna kopi darat.

Riski tak menampik niatnya membangun aplikasi dilatari kepentingan komersil.Selama beberapa tahun belakangan, perusahaan software engineering yang ia bangun terlampau mengandalkan proyek pesanan klien saja. Jika proyek selesai, berhenti pula perputaran uang. Kondisi tersebut membuat keadaan finansial perusahaannya tak sehat. Oleh sebab itu Riski berniat bikin skema bisnis baru yang sifatnya berkesinambungan.

“Kita pengin buat satu platform aplikasi yang bakal digunakan oleh banyak orang. Diharapkan menjadi penghasil buat perusahaan, pemberi profit ke depannya,” kata Riski.

Ia juga melihat ada potensi besar yang belum digarap oleh siapapun. Indonesia, sebagai negara penduduk muslim terbesar di dunia, potensi praktik poligami jelas besar. Belum lagi menghitung populisme agama terutama Islam sebagai agama belakangan makin kuat. Riski optimis memprediksi setidaknya akan ada 10-20 ribu pengguna aplikasinya di Indonesia.

Indonesia secara hukum masih menjunjung tinggi asas monogami seperti yang ditegaskan dalam Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974. Beleid tersebut mengatur seorang lelaki hanya boleh memiliki seorang istri. Namun ada pengecualian. Seorang lelaki boleh memiliki istri lebih dari satu, dengan beberapa syarat. Di antaranya jika istri "dianggap" tidak bisa menjalankan kewajibannya; kedua, istri memiliki penyakit yang tidak bisa disembuhkan; atau alasan ketiga, istri tidak dapat memberikan keturunan.

Hal itu pun tidak bisa begitu saja dilakukan. Seorang lelaki harus memenuhi beberapa syarat, seperti: adanya persetujuan dari istri, adanya kepastian bahwa suami bisa menjamin kehidupan keluarganya, dan dan ada jaminan suami bisa berlaku adil. Sekilas, Undang-Undang ini terdengar masih sangat patriarkis karena semuanya diukur dari penilaian laki-laki.

Riski melihat celah dari aturan soal pernikahan tadi. Dia meyakini prinsip bahwa sikap adil laki-laki terhadap istri-istri dan keluarganya bisa diukur ataupun dikuantifikasi. Misalnya, pembagian penghasilan dan jumlah waktu yang dihabiskan bersama masing-masing istrinya.

Dalam acara kopdar poligami ini, perempuan tidak banyak aktif dalam forum.

Tapi tak ada orang lain yang berhak menilai rasa adil selain kedua istri Riski: istri kedua Rima Sarah, 22 tahun dan istri pertama Dwi Rosilawati, 34. Rima mengaku pernah cemburu pada Dwi Rosilawati, istri pertama Riski. Kecemburuan Rima sering terpatik bila Dwi dan Riski bernostalgia, mengenang momen-momen manis di masa lalu. “Namanya juga manusia pasti ada khilafnya. Enggak papa maklumin aja,” kata Rima.

Sementara Dwi cemburu terutama jika Riski memanggil Rima dengan panggilan sayang khusus untuknya. Jika rasa cemburu itu muncul, sesegera mungkin ia menampiknya dalam hati dan mengingat-ingat pandangan agama soal poligami.

“Persembahkanlah, jadikanlah poligami ini sebagai ladang ibadah. Ketika cemburu kita dikasih reward yang sama dengan pahala syahid. Itu kan luar biasa,” katanya.

Diterima ataupun tidak aplikasi maupoligami.com nanti, Riski tetap akan maju terus. Ia mengaku siap menghadapi segala kontroversi yang akan ia tuai seiring aplikasi bikinannya semakin dikenal masyarakat.

“Tantangan itu tidak bisa dihilangkan,” katanya. Riski berpegang teguh pada keyakinannya bahwa poligami itu ibadah dan yang menghalangi niat ibadah adalah musuh.

“Karena memang sejak awal musuh poligami itu ya kontroversi."

More VICE
VICE Channels