Iklan
Problem Sampah

Hobi Nyampah Sembarangan? Tanggung Jawab Woy, Paus di Wakatobi Mati Telan 5,9 Kg Plastik

Kejadian tragis di Sulawesi Tenggara ini harusnya memaksa manusia bertobat. Apalagi penelitian bilang pada 2050 jumlah plastik di lautan akan lebih banyak daripada ikan. Mampus lah kita...

oleh Ardyan M. Erlangga
21 November 2018, 12:30am

Jasad paus dengan perut penuh sampah plastik ditemukan warga Wakatobi. Foto oleh Kartika Sumolang/via Reuters

Penduduk Desa Kapota Utara, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, pada sore 19 November lalu dikejutkan kehadiran bangkai paus sperma yang terdampar di pantai. Mereka bertambah terkejut setelah tahu di dalam perut mamalia laut itu terdapat sekira 5,9 kilogram sampah plastik berbagai jenis. Insiden tragis ini menjadi penambah bukti betapa kebiasaan manusia tidak mengolah plastik secara layak membunuh alam secara harfiah.

Paus Sperma itu terdampar sudah dalam keadaan membusuk. Warga kemudian berinisiatif membelah perut paus, untuk mulai memotong-motong bangkai tersebut agar lebih mudah diurus. Siapa nyana, dalam perut ditemukan sandal, botol plastik, botol parfum, gelas plastik, tali rafia, sampai penutup galon. Parah.

"Sampahnya juga bukan sampah segar, kemungkinan sudah lama di dalam perut paus ini," kata Saleh Hanan, aktivis Yayasan Lestari Alam Wakatobi, saat mengomentari temuan tersebut dalam video amatir yang beredar lewat grup whatsapp.

Saat diwawancarai Kompas.com, Saleh semakin meyakini sampah plastik lah yang menewaskan paus sperma tersebut, kendati temuan warga sedang diteliti sekolah perikanan AKKP Wakatobi. "Plastik kan tidak terurai di perut paus dan beracun. Pencernaan terganggu, lalu mati," ujarnya.

1542736258949-Screen-Shot-2018-11-21-at-005036
Temuan sampah plastik di perut bangkai Paus Sperma yang terdampar di Wakatobi. Foto oleh Alfi Kusuma Admaja/AKPP Wakatobi/via Reuters

Dari dugaan awal Saleh, paus sperma ini kemungkinan melewati kawasan penuh sabuk sampah di Perairan Banda hingga tenggara Kepulauan Sula, dekat Wakatobi, sebelum akhirnya tewas. Paus dikenal sebagai hewan yang tidak bisa membedakan makanan dengan benda anorganik di laut, termasuk limbah plastik.

Saat dihubungi terpisah oleh Mongabay, Kepala Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Makassar, Andry Indryasworo Sukmoputro turut menduga sampah plastik sebagai pemicu paus sperma ini mati. Namun, mengingat daya jelajah paus jenis ini sangat jauh, bisa saja sebelum sampai ke perairan Indonesia si paus sudah keracunan sampah plastik. "Karena sperm whale ini termasuk biota laut yang bermigrasi cukup jauh tentunya tidak menjadi judgement bahwa sampah plastik di Indonesia sebagai penyebabnya," kata Andry.

Masalahnya, mau sumber sampahnya benar dari Indonesia kek, atau dari Los Angeles kek, sampah plastik tetaplah ulah manusia. Di manapun mereka berada. Manusia seringkali tidak mau insyaf kalau kebiasaan pakai plastik tanpa tanggung jawab ini sudah mencemari lingkungan dan menghabisi pelan-pelan penghuni lautan.

Penelitian Credit Suisse yang baru dirilis awal pekan ini seharusnya membuat kita semua cepat-cepat melakoni taubatan nasuha. Dalam kajian tersebut, diperkirakan pada 2050 jumlah sampah di lautan akan lebih banyak daripada ikan.

Jika tidak ada perubahan drastis, plastik yang selama ini 'berjasa' bagi kehidupan justru mendorong manusia mengalami bencana ekologi paling serius dalam sejarah Planet Bumi. Beberapa negara, termasuk Australia, terdorong memikirkan kebijakan radikal mengurangi konsumsi plastik, misalnya dengan mengenakan pajak untuk tiap pemakaian plastik.

Bagaimana dengan Indonesia? Ah elah, plastik kantong belanjaan disuruh bayar dua tahun lalu saja memicu protes, termasuk dari asosiasi pengusaha, sampai akhirnya pemerintah menunda dan memilih terus "mengkaji" kebijakan tersebut berlaku secara nasional. Kalau penduduk Indonesia ogah berbenah sih enggak apa-apa. Asal jangan protes kalau beberapa dekade lagi kita biasa makan ikan laut isi sandal jepit atau bekas plastik belanjaan kita di minimarket.