Semua foto milik HeF Clothing

Di Pakistan Streetwear Jadi Gerakan Sosial, Bukan Cuma Tren Fesyen Belaka

Streetwear mungkin sudah jadi bagian fesyen mainstream di negara barat. Namun, di Pakistan, streetwear adalah gerakan independen yang membangun identitas budaya sebuah negara yang kerap disalahpahami.

|
28 November 2018, 10:14pagi

Semua foto milik HeF Clothing

Artikel ini pertama kali tayang di VICE India

Di Karachi, generasi muda Pakistan bekerja keras untuk membangun komunitas fesyen underground, musik dan seni guna memperkuat posisi Pakistan dalam lanskap budaya global. HeF Clothing—yang dikenal luas sebagai label streetwear modern pertama di Pakistan—memainkan peranan penting dalam gerakan ini. Brand online yang pertama kali diluncurkan pada Januari 2017 ini berjuang mengubah miskonsepsi yang kadung mengakar di Pakistan. Sejatinya, busana casual identik dengan sikap masa bodoh, idealisme liberal dan, paling penting, kebanggaan atas identitas setempat. Koleksi katunnya yang longgar merayakan pahlawan-pahlawan Pakistan seperti musisi Qawwali Nusrat Fateh Ali Khan dan pelukis/seniman kaligrafi Sadequain. Salah satu seri produk HeF Clothing dirancang berdasarkan desain sederhana tiga pedang yang melambangkan monumen Teen Talwar di Karachi.

Dua pendiri HeF Clothing, Hassaan Khan dan Faraz Siddiqi, dari dulu selalu ingin melakukan sesuatu yang keren untuk Pakistan. “Seluruh dunia memandang kami sebagai negara terbelakang, penduduknya kolot atau isinya ekstremis semua dan selalu mengunci perempuan dalam rumah,” jelas Siddiqi. HeF—gabungan dari ‘Hassaan’ dan ‘Faraz’—bukan brand yang mentereng. Semua desainnya minimalis, desainnya subtil dan siluet-siluet yang ditampilkan cenderung santai—sebuah upaya yang signifikan di negara di mana fesyen lekat dengan imej yang mewah. Berkat sokongan selebritas Pakistan seperti Mahira Khan dan Sanam Saeed, estetika produk HeF yang jauh dari kesan pretensius kini jadi alternatif pilihan dari gaya berdandan lebay yang banyak dipublikasikan oleh media mainstream. Salah satu penggemar HeF adalah aktor/MC Inggis Riz Ahmed.

1542971085353-2a
Kaos Teen Talwar yang diambil dari Teen Talwar monument.

HeF menarik inspirasi dari filantropis asal Pakistan Abdul Sattar Edhi dan bertujuan mengungkapkan suara-suara daerah itu yang tak terdengarkan demi menginspirasi para pemuda untuk memikirkan ulang norma-norma sosial. Murree Brewery, yang juga menjadi sumber inspirasi bagi HeF, merupakan salah satu perusahaan industri tertua di republik Islam ini dan salah satu pabrik bir modern pertama yang berdiri di Asia. Pabrik bir ini tetap bertahan kendati adanya stigma religius yang menyelimuti konsumsi alkohol. HoF mengakui eksistensi stigma ini dengan menampilkannya dalam koleksi pertamanya.

Fesyen jalanan atau street style di Pakistan biasanya terdiri dari pakaian yang dipilih berdasarkan preferensi pribadi dan bukan berdasarkan tren, seperti yang ditampilkan blogger-blogger fesyen Ania Fawad dan Anushae Khan. S treetwear, di sisi lain, didefinisikan sebagai gaya sporty ala tahun 90-an seperti yang dipopulerkan Supreme dan A Bathing Ape. Rapper Pakistan yang menulis liriknya yang ‘sadar sosial’ dalam bahasa Urdu dengan moniker Chen-K masuk ke ranah streetwear lewat rancangan busananya sendiri, Mizaaj. Brand ini menjual kaos dengan frasa-frasa menantang seperti ‘ one man army’ dan ‘badtameez’. “Susah banget menemukan baju unik di Pakistan,” ucapnya. “Sebagian besar fesyen masih tradisional banget, jadi kalau ada yang aneh-aneh, kayak ristleting di kemeja, paling hanya dipahami 20-30% orang Pakistan.”

Ledakan fashion ready-to-wear sudah memajukan pilihan alternatif seperti HeF, menurut ahli industri. Sementara sebagian besar laki-laki dan perempuan urban memakai paduan fesyen Barat dan tradisional, mereka yang mempunyai uang memilih merek-merek streetwear lokal seperti Sassy, ICON, Generation, Sapphire dan Chapter 2.

1542971271962-AAK_0706
Kaos Ustad yang didedikasikan pada Nusrat Fateh Ali Khan.

Masuk aja ke Xanders Cafe yang trendi di Karachi dan semua pengunjung pasti memakai skinny jeans dan kaos grafik, ujar penata busana dan rias Samiya Ansari, yang bekerja pada film Cake, nominasi resmi Pakistan untuk penghargaan Oscar. “Bukan cuman kelas atas yang bisa membuktikan kalau kesalahpahaman ini enggak benar. Ada orang progresif di seluruh Asia Selatan, bahkan di desa-desa paling kecil.”

Salah satu t-shirt HeF memperjuangkan komunitas Ahmaddiya—sebuah sekte Islam yang menghadapi penganiayaan di Pakistan—melalui gambar ahli fisika Abdus Salam, orang Pakistan yang pertama kali memenangkan Penghargaan Nobel Perdamaian pada 1970. Salam jarang dipuji karena berkaitan dengan para Ahmaddiya. Ada juga t-shirt yang menunjukkan sebuah kafe hashish atau chars di Quetta, ibukota provinsi Balochistan — sebuah wilayah yang sudah bertahun-tahun meminta otonomi regional dari pemerintah federal. Khas Quetta, kafe-kafe ini memperbolehkan pelanggannya merokok sambil menikmati secangkir teh dan cemilan. Beberapa kaos HeF juga menampilkan motif pelangi sebagai bentuk solidaritas untuk gerakan LGBTQ. Seks sesama jenis dianggap sebagai tindakan kriminal di Pakistan, meskipun kaum interseks dan orang berkelamin ambigu—yang disebut khawaja sira—dihormati pada zaman kekaisaran Mughal.

1542971191192-Screen-Shot-2018-11-23-at-43517-PM
Foto: www.instagram.com/rizahmed

Sampai sekarang, dukungan HeF terhadap minoritas belum mendatangkan masalah dari pihak apapun. “Kami bukannya membuat pernyataan politik; kami hanya menggunakan streetwear untuk menyebarkan nilai-nilai kami,” tutur Siddiqi. Kemampuan streetwear untuk memperkenalkan cara berpakaian dan berpikir yang berbeda membentuk kebudayaan counterculture, menurut DJ/produser berbasis di Karachi, Turhan James. Dan seperti semua gerakan counterculture, musik juga mampu melakukan ini. Pesta-pesta pop-up antara HeF dan Third World Radio—sebuah platform untuk musisi elektronik yang juga diikuti Ansari—telah menjadi tempat nongkrong yang aman bagi artis lokal. Menampilkan seni hidup oleh ilustrator-ilustrator Pakistan seperti Naveen Shakeel dan DJ bawah tanah, acara ini memberi kesempatan untuk masyarakat umum mengalami suasana yang berbeda, ujar Ansari.

HeF dan Third World Radio ingin berkolaborasi dengan platform-platform di negara-negara tetangga seperti India. HeF sudah sempat bekerjasama dengan Sine Valley, festival musik elektronik di Nepal yang bersama Lost Path—festival butik yang digelar di perhutanan Pakistan—mendukung turisme musik.

“Kita semua ingin menciptakan kebudayaan ini bersama,” ujar Siddiqi.

Temukan Nisa Kreems di sini .

More VICE
Vice Channels