Iklan
Kehidupan Urban

Begini Rasanya Ngekos di Bekas Sel Penjara Paling Mengerikan Surabaya

Ruangan sel Penjara Kalisosok beralihfungsi menjadi kos-kosan. Akses hunian layak bagi pekerja kerah biru dan abainya pemkot pada pengelolaan cagar budaya jadi pemicunya.

oleh Icha Savitri Dan Reno Surya
25 Maret 2019, 8:25am

Suasana di gerbang depan bekas Penjara Kalisosok Surabaya oleh Ivan Darski.

Dinding putih di fasad depan gedung itu sebagian kusam, berkerak, dan penuh akar beringin menjuntai di sana-sini. Sebuah gardu pengawas berkarat tertinggal di setiap sudut. Bangunan itu bekas Penjara Kalisosok, terletak kawasan Krembangan, barat daya Jembatan Merah, Kota Surabaya.

Sekilas tak ada tanda-tanda kehidupan di balik tembok yang menahan para pesakitan di masa lalu itu. Siapa sangka, di balik suasana senyap dan mencekam yang ditampilkan peninggalan Penjara Kalisosok, segelintir orang hidup di dalamnya. Mereka mengubah bekas sel penjara menjadi kos-kosan sepuluh tahun belakangan.

VICE menelusuri rumor alih fungsi penjara yang konon memiliki tempat pengasingan bawah tanah paling mengerikan itu. Tidak ada plang, atau tanda-tanda khusus yang mengisyaratkan ada bisnis kos dalam bekas penjara.

Kami berhenti di depan sebuah konter pulsa yang memasang papan kecil bertuliskan Tretan. Sekilas, mereka tidak menawarkan jasa kecuali isi ulang pulsa. beberapa langkah melewati kios tersebut, rupanya ada satu pintu kayu mungil berwarna biru. Pintu yang selalu terkunci dari dalam itu jadi satu-satunya akses, mengantar penghuni menuju bilik-bilik rahasia mereka.

1553501000227-IMG_0506
Lorong menuju kamar kos di bekas penjara Kalisosok. Foto oleh Icha Savitri.

VICE menemui Yanto, laki-laki paruh baya penjaga kos. Sambutan awalnya tidak terlalu ramah. "Tahu kos-kosan di sini dari siapa? Kamu yakin? Fasilitasnya di sini sangat jelek lho," ujar Yanto.

Seluruh penghuni kos-kosan bertarif Rp130 ribu per bulan itu bekerja di Jembatan Merah Plaza. Kamar kos Kalisosok khusus untuk perempuan saja. Lebih dari tiga puluh menit ngobrol ngalor-ngidul, VICE diantar menuju satu-satunya kamar yang masih tersisa.

Suasana lorong menuju bilik terasa pengap. Serta cucian setengah basah yang tersampir di kawat-kawat sepanjang lorong. Hanya ada sebuah neon dengan pendar cahaya alakadarnya.

Yanto, yang lebih akrab disapa Pak To, mengaku dialah yang menyulap kamar-kamar bekas narapidana ini menjadi sekat-sekat berbilik triplek, atas seizin perusahaan swasta yang kini memiliki hak pengelolaan Penjara Kalisosok. Satu sel disekat menjadi enam "kamar". Ukurannya dibuat sama rata. Hanya 1x 1,5 meter saja setiap biliknya.

Sebuah televisi dan kursi-kursi plastik berjajar di lorong tengah. Ruang itu, adalah tempat untuk menerima tamu dan titik kumpul para penghuni. Televisi adalah satu-satunya hiburan yang mereka miliki. Tayangan ajang pencarian bakat diva dangdut di salah satu televisi swasta, jadi favorit bagi Pak To dan penghuni kos lainnya.

"Kita kalau denger dangdut bisa joget-joget. Suasana yang sepi ini jadi agak ceria," kata pria yang juga bekerja sebagai pedagang di pasar ini.

1553501136717-IMG_0303
Televisi satu-satunya akses hiburan penghuni penjara Kalisosok. Foto oleh Icha Savitri.

Seperti kos khusus perempuan pada umumnya, ada aturan wajib dipatuhi penghuni kos Kalisosok. Penghuni tidak boleh membawa laki-laki masuk. Bila telat membayar sewa di tanggal jatuh tempo, mereka harus siap diusir hari itu juga. Sebagai jaminan, barang akan disita dan baru dikembalikan ketika sudah melunasi tunggakan.

"Yang mau kos di sini banyak. Setiap bulan pasti ada keluar masuk. Jadi kalau mbeler [nakal-red], ya dikeluarkan," kata Yanto.

Satu persatu penghuni ikut merapat ketika kami bercakap-cakap petang itu, sembari menikmati siaran dangdut. Sesekali penghuni kos turut menyumbang suara di bagian lagu yang mereka hafal. Kira-kira pukul sebelas malam, masing-masing penghuni kembali ke kamar masing-masing.

1553501306603-IMG_0243
Contoh kondisi sel yang diubah jadi kamar kos.

Kalisosok dulunya adalah penjara yang cukup ditakuti para penjahat. Berbagai mitos bermunculan sepanjang sejarah berdirinya penjara ini. Bapak bangsa seperti Ir. Soekarno, H.O.S Tjokroaminoto, W.R Soepratman, hingga kriminil legendaris, Kusni Kasdut, pernah merasakan dinginnya lantai penjara yang dibangun sejak 1750 silam. Salah satu mitos Kalisosok, misalnya, adalah suara angsa yang bersahutan tengah malam. Konon itu suara mahluk halus penghuni penjara.

Tapi mitos hantu angsa tadi kalah seram dibanding keterpaksaan pekerja kerah biru hidup di kamar kos bekas bilik pesakitan dan sebetulnya tak layak huni. Ada kebutuhan tempat tinggal yang terjangkau pendapatan karyawan mal, sementara hunian berharga murah di kawasan pusat Surabaya nyaris tak tersedia. Artinya pilihan menghuni kos di Kalisosok berbeda dari, misalnya, sensasi tinggal di penjara yang sedang ngetren dinikmati kelas menengah Korea Selatan.

Harga properti di Surabaya tercatat meroket paling cepat dibanding wilayah lain Indonesia. Alhasil, kesenjangan akses terhadap hunian layak jadi bom waktu bagi kota terbesar kedua di Tanah Air itu.

"Semakin banyak orang di Surabaya yang punya rumah tapi tidak dihuni, cuma untuk investasi," kata Bintang Putra, peneliti lembaga riset perkotaan Orange House Studio kepada VICE.

"Kondisi pasar properti ini berimbas pada harga hunian yang makin mahal. Maka terciptalah hunian alternatif seperti kos di Kalisosok, Gedung Setan, dan tempat-tempat lainnya," imbuh pria yang mengelola program hunian alternatif Alter Shelter ini.

1553501220639-IMG_0568
Penghuni bercakap-cakap sebelum berangkat kerja. Foto oleh Icha Savitri.

Sri, salah seorang penghuni kos-kosan Kalisosok yang sehari-hari bekerja sebagai pegawai toko di Jembatan Merah Plaza Surabaya, mengamini penjelasan Bintang. Ia bertahan selama tiga tahun di kos tersebut semata-mata karena harga sewanya murah. Ia juga tak perlu ambil pusing soal transportasi menuju tempat kerja, sebab lokasi mal cukup ditempuh berjalan kaki sejauh satu kilometer.

"Saya tinggal di sini untuk hari kerja saja. Jumat malam sampai minggu saya balik ke Bangkalan, Madura. Jadi ya buat apa kos mahal-mahal? Belum lagi untuk ongkos ojek. Lagian kita paham kok, murah kok njaluk selamet [minta selamat-red]," katanya sembari cekikian.

Penghuni lain pun juga memiliki ritme hidup yang serupa. Setiap akhir pekan, kos-kosan Kalisosok jadi lengang. Mayoritas penghuni pulang ke daerah masing-masing.


Tonton dokumenter VICE tentang studio tato tersembunyi di bawah ruang bawah tanah rahasia:


Rutinintas para penghuni dimulai sejak pukul 5 pagi. Saya terbangun sambil tersengal-sengal, karena tiba-tiba kamar dipenuhi asap yang datang dari kompor tetangga sebelah. Untuk mandi, saya harus antre. Nomor urut giliran mandi di tandai dengan sandal yang di jajarkan di atas tangga. Kos di bekas Penjara Kalisosok hanya punya satu kamar mandi. Itupun keadaanya menyedihkan; dipenuhi lumut dan bau menyengat dari sebuah kakus yang mampet.

Penghuni kos tidak memiliki pilihan lain. Itulah satu-satunya sumber air yang mereka punya. Sri meminjamkan ember plastik miliknya kepada saya. "Kalau belum punya [bak], pakai punya saya saja. Kalau pakai bak semen itu yang ada malah gatal-gatal. Airnya keruh dan kotor," ujar Sri.

Setelah mandi, biasanya penghuni memiliki tradisi bersarapan sama-sama. Mereka berbagi lauk pauk yang telah mereka masak sejak pagi. Pukul delapan, kos kembali senyap. Pukul lima sore, pintu biru mungil baru akan terbuka. Penghuni kembali memadati kos-kosan rahasia mereka. Rutinias ini berulang saban hari.

1553500893529-IMG_4639
Salah satu penghuni kos berpose di 'kamar' bekas sel penjara.

Alih fungsi Penjara Kalisosok dan sederet persoalan hunian layak bagi warga miskin, adalah sisi lain yang berlawanan dari ambisi pemerintah lokal mengampanyekan Surabaya sebagai kota percontohan kaliber internasional.

Perubahan sel Penjara Kalisosok—yang status resminya kawasan cagar budaya—jadi kamar kos tak perlu selalu dianggap negatif. Setidaknya itu pendapat Ayos Purwoadji, pemerhati isu arsitektur independen dari Surabaya. Baginya, kemunculan kos-kosan liar ini dipicu sikap pemerintah kota yang setengah hati merawat cagar budaya. Kalisosok hanya satu dari 160 bangunan cagar budaya Surabaya, yang tak terawat dan dibiarkan mangkrak oleh pemkot.

"Justru [adanya kos-kosan] adalah respons spontan dari publik, yang menanggapi semakin terbatasnya ruang hunian di kota. Menurutku justru lebih baik jika dialihfungsikan sebagai hunian, daripada dijadikan cagar budaya yang hanya bisa diakses oleh turis-turis saja," ujarnya kepada VICE. "Tindakan okupasi warga untuk merebut ruang-ruang kosong inilah yang justru menarik menurutku. Ada semangat anarko di dalamnya."