Iklan
Kronik Kartel Narkoba

Pemerintah Venezuela Diduga Punya Jaringan Kartel Narkobanya Sendiri

Kartel pelat merah itu punya julukan 'Kartel Matahari', jadi salah satu yang ditengarai berkembang pesat di kawasan Amerika Latin.

oleh Deborah Bonello
10 Juni 2019, 2:32am

Penyitaan paket kokain oleh aparat Venezuela. Foto oleh JIMMY PIRELA/AFP/Getty Images.

Mantan Ketua Lembaga intelijen Venezuela menyebar sebuah video lewat medsos, menuding Presiden Nicolás Maduro menambah pemasukan negara lewat cara-cara haram. Dalam sejumlah pernyataan yang beredar di Twitter, Hugo Carvajal Barrios, 58 tahun, menuduh pemerintah Venezuela terlibat perdagangan narkoba, korupsi, dan penindasan hak sipil.

Carvajal adalah pejabat yang dulu masuk kabinet mendiang Presiden Hugo Chávez. Dia tidak sendirian menuding pejabat-pejabat tinggi pemerintah sekarang tersangkut perdagangan narkoba. Sejak 2002, sejumlah pejabat pemerintah dan militer Venezuela telah dituduh atau dikenai sanksi internasional, karena terlibat perdagangan narkoba lintas negara.

Bagi pendukung Maduro, tuduhan ataupun sanksi ini bermotif politik. Bekas pejabat yang melempar tudingan dianggap mewakili kepentingan Amerika Serikat. Ketika orang seperti Carvajal "bersaksi", maka tak lama kemudian pejabat Venezuela yang dikenai tudingan akan kena sanksi dari AS, terutama pembekuan aset, serta pemblokiran rekening bank transaksi keuangan dengan semua entitas bisnis Negeri Paman Sam.

Tuduhan ini sekilas punya kaki, mengingat sejak dulu AS sebagai simbol kapitalisme dan imperialisme global dianggap sebagai musuh “revolusi sosialis” di Venezuela yang dilakukan Chavez, dan kini diteruskan Maduro.

Masalahnya, pendukung pemerintahan sah Venezuela sulit mengelak, bahwa ada pejabat tinggi ikut bermain dalam bisnis narkoba. Contoh paling nyata adalah skandal penerbangan Air France yang mendarat di Paris pada 10 September 2013. Pesawat itu kedapatan membawa 1,3 ton kokain (diperkirakan senilai Rp 3,75 triliun). Penerbangan tersebut lepas landas dari bandara internasional Ibu Kota Caracas. Garda Nasional Bolivarian (GNB), pasukan elit Venezuela yang bertugas menangani keamanan bandara, ternyata memasukkan kokain dalam jumlah banyak ke kargo. Peristiwa memalukan ini berakhir dengan penangkapan sejumlah perwira militer, termasuk seorang letnan dari unit anti-narkoba, merujuk sejumlah laporan media setempat.

Selain itu, ada juga skandal melibatkan keponakan ibu negara (istri Presiden Maduro), bernama Efrain Antonio Campo Flores. Bersama Francisco Flores de Freitas, dia sempat ditahan Badan Pengawasan Narkoba AS (DEA) di Haiti pada akhir 2015. Keduanya tertangkap basah hendak menyelundupkan 800 kilogram kokain ke wilayah Amerika Serikat. Mereka terbukti bersalah dan divonis penjara 18 tahun karena berkonspirasi mengimpor kokain ke AS.


Tonton dokumenter VICE soal jalur penyelundupan narkoba rahasia di Kolombia:


Saking luasnya peran pemerintah (atau sanak famili pejabat) dalam perdagangan narkoba, pemerintah Venezeula menurut pengamat kriminalitas, layak disebut punya kartel sendiri secara de facto. Kartel pelat merah ini diberi julukan Kartel Matahari, alias Cartel de los Soles dalam bahasa Spanyol. Kartel ini berupa jaringan perwira militer dan badan-badan pemerintah lainnya yang mendukung perdagangan narkoba internasional.

Anggota kartel tersebut termasuk mantan badan anti-perdagangan narkoba Venezuela, Nestor Reverol, yang dituduh AS membantu menyelundupkan kokain dari Venezuela ke AS beberapa tahun lalu. Reverol akan memperingatkan bandar terhadap potensi penggeledahan atau lokasi penegak hukum melaksanakan kegiatan anti-narkotik. "Berkat info A1 itu, pengedar narkoba kakap di Venezuela dapat memindahkan narkobanya terlebih dahulu," demikian mengutip juru bicara Kejaksaan Agung Amerika Serikat.

Diosdado Cabello, yang kini jadi Ketua Partai Sosialis Venezuela, kemungkinan juga punya peran penting dalam Kartel Matahari. Cabello kena sanksi ekonomi oleh AS tahun lalu; kala itu, Menteri Keuangan AS Steven T. Mnuchin menyatakan pihaknya punya bukti melimpah jika Cabello terlibat aktivitas organisasi kriminal lintas negara. "Lembaga kami tidak ragu menjatuhkan sanksi kepada individu-individu seperti Diosdado Cabello, yang terbukti mengeksploitasi jabatan mereka demi melibatkan diri dalam perdagangan narkoba, pencucian uang, serta bermacam korupsi lainnya."

Lalu ada juga aroma sangit dari sepak terjang wakil presiden Venezuela, Tareck El Aissami. Dia kena sanksi internasional karena dituding berperan dalam perdagangan narkoba internasional. "Beliau memfasilitasi pengiriman narkotik dari Venezuela, mengendalikan pesawat yang lepas landas dari pangkalan udara Venezuela, serta mengendalikan rute perdagangan yang melalui berbagai pelabuhan di Venezuela," menurut keterangan dari Kementerian Keuangan AS. Nama El Aissami kembali muncul dalam sebuah dakwaan kejaksaan AS karena diduga nekat mengakali sanksi tersebut.

Saat Carvajal menyebut nama-nama mantan koleganya di pemerintah, dia tidak mengakui perannya sendiri dalam jaringan narkoba di masa lalu. Berbagai dokumen penyelidikan menyatakan Carvajal menerima bayaran dari Wilber Varela, Kepala Kartel North Valley dari Kolombia, untuk mendanai perdagangan narkoba melalui negaranya. Setelah Varela meninggal pada 2008, Carvajal terus bekerjasama dengan kartelnya, dan diduga memasok ratusan kilogram kokain kepada mereka.

Carvajal selamat, karena tidak diekstradisi ke Kolombia pada 2014, walau kejaksaan negara tetangga ingin menangkapnya. Kala itu Carvajal masih dilindungi pemerintah Venezuela. Carvajal sempat mengatakan saat jumpa pers, bahwa segala komunikasinya dengan bandar narkoba selama menjabat ketua lembaga intelijen merupakan bagian dari investigasi penyelundupan narkoba.

Terlepas dari klaim bermasalah Carvajal yang tak bersih-bersih amat, makin kentara bila pemerintah Venezuela sangat terlibat dalam perdagangan narkoba dan kegiatan kriminal lainnya.

"Bagi kami sudah pasti Venezuela merupakan negara yang beroperasi layaknya mafia," kata Jeremy McDermott, pendiri InSight Crime, lembaga swadaya menyelidiki berbagai kegiatan kriminal di bawah rezim sosialis Chavez. "Kami tidak menyebutnya sebagai negara narcos, karena kegiatan kriminal lainnya juga dilakukan pemerintah. Dari penyelundupan sembako, bensin, pasar gelap obat dan makanan, sampai manipulasi kurs. Intinya selalu ada unsur kriminal dalam aktivitas pemerintah Venezuela demi menghasilkan uang."

Geografi Venezuela sendiri sangat menggoda bagi para pemain bisnis narkoba kakap Amerika Latin. Negara kaya minyak tapi belakangan bangkrut ini berbatasan langsung dengan Kolombia, produsen koka terbesar di dunia. Venezuela akhirnya dianggap kartel cocok untuk menjadi tempat transit narkoba kokain, sebelum kemudian barang itu diangkut ke AS dan Eropa lewat bermacam jalur ilegal.

Sejak rezim sosialis gagal mengelola perekonomian nasional; memicu kelaparan massal, jutaan rakyat mengungsi ke negara tetangga, dan terjadi demonstrasi tiada henti—bahkan muncul pemerintah tandingan—nasib Venezuela berubah. Dari awalnya kisah sukses pembangunan ala sosialisme di Amerika Latin, menjadi tragedi. Negara itu terancam jadi bangsa yang gagal, dan terancam jadi pusat berbagai aktivitas kriminal kawasan. Sifat represif rezim Maduro yang anti-kritik, menurut McDermott, jadi pemicunya.

"Ketika unsur penting demokrasi tak lagi ada, yang langsung ikut hilang adalah segala macam transparansi,” kata McDermott. "Nikaragua dan Bolivia mulai menuju ke arah yang sama. Saat transparansi pemerintah menghilang, para kriminal bisa melakukan apa saja yang mereka inginkan, dan itulah penyebab kisah sedih Venezuela beberapa tahun terakhir."

Follow Deborah Bonello di Twitter.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US.