Iklan
Kesehatan Mental

Ilmuwan Tengah Meracik Obat yang Bisa Mengurangi Kesepian

Obat ini mungkin terdengar seperti keajaiban, tetapi sebenarnya hanya solusi sementara yang tidak benar-benar menyembuhkan permasalah kita.

oleh Roisin Lanigan; Diterjemahkan oleh Annisa Nurul Aziza
14 Agustus 2019, 5:46am

Tangkapan layar dari film 'Girl Interrupted'

Kesepian lebih dari sekadar perasaan buruk yang kalian rasakan saat sedang bosan di rumah atau tak siap menghadapi hari Senin. Semakin ke sini, kita semakin menyadari kesepian adalah masalah kesehatan jiwa yang perlu ditangani secara serius.

Banyak temuan memberikan gambaran suram mengenai kesepian pada generasi milenial. Studi terbaru menemukan seperempat kaum milenial tidak punya teman, menjadikan kita generasi paling kesepian di dunia. Ada juga yang melaporkan bahwa isolasi sosial lebih berbahaya dibanding menghabiskan sebungkus rokok sehari. Melihat kondisi ini, maka tidak mengherankan jika ilmuwan kini meracik obat yang diharapkan bisa mengusir kesepian.

Para peneliti Universitas Chicago menguji contoh obatnya pada peserta sukarelawan yang mengaku menderita kesepian kronis dan merasa terisolasi, meskipun kondisi fisik mereka sehat sentosa. Selama satu setengah tahun, kelompok sukarelawan diharuskan meminum obat selama delapan minggu secara acak. Ada yang dikasih pil plasebo, ada juga yang diberi dosis obat hormon pregnenolon. Obat kedua terbukti bisa mengurangi kecemasan pada tikus lab yang terisolasi secara sosial.

Ilmuwan Stephanie Cacioppo, peneliti utama dalam studi Universitas Chicago, berharap obatnya bisa menghilangkan rasa takut akan penolakan yang mampu mengurungkan niat seseorang untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Fungsi pilnya bukan untuk mengusir rasa kesepian, melainkan menguatkan keberanian pengidap kesepian dalam membuka diri dan membantu mereka keluar dari perasaan buruk itu.

“Pikiran sepi selalu membohongimu,” terang Stephanie dalam wawancara The Smithsonian. “Ibaratnya seperti ketika kalian mengemudi mobil saat musim dingin dan pandangannya kurang jelas. Obat ini nantinya akan mencairkan es di kaca depan, supaya kalian bisa melihat dunia apa adanya tanpa perlu takut sama semua orang. Kalian menjadi lebih terbuka untuk mendengarkan orang lain.”

Walaupun begitu, tak sedikit yang merasa risi dengan prospek mengurangi kesepian pakai obat. Sangat mudah untuk membandingkannya dengan obat anti-kecemasan. Bukannya menjadi solusi tepat, pengobatan semacam ini bisa menumbuhkan ketergantungan pada benzodiazepin dan meningkatkan penyalahgunaan Xanax.

Stephanie setuju obatnya bukanlah jawaban untuk mengatasi kesepian. “Kami melihat obat ini sebagai terapi tambahan yang bisa dibarengi dengan latihan berinteraksi setiap hari,” ujarnya. “Melawan kesepian adalah perjuangan sehari-hari.”

Obat ini mungkin kedengarannya seperti sebuah keajaiban, tetapi sebenarnya hanyalah solusi sementara yang tidak benar-benar menyembuhkan kita.

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic