Iklan
Film

Setelah Ditonton Lagi, Film 'Speed' Ternyata Enggak Bagus-Bagus Amat

Walau punya scoring musik keren, plot penuh twist dan elemen laga 1990'an klasik lainnya, filmnya Keanu Reeves ini ternyata bapuk setelah ditonton ulang.

oleh Kate Santos
29 Oktober 2017, 9:00am

Cuplikan adegan dari 20th Century Fox.

Banyak film laga Hollywood dari era 1990an diramaikan oleh bintang besar, kisah asmara klise, dan ledakan-ledakan heboh. Salah satu yang klise banget tapi tanpa diduga meraih sukses adalah Speed (1994). Film ini merupakan gabungan dari tipikal film laga Hollywood dengan elemen arthouse, dipengaruhi oleh gaya penyutradaraan Akira Kurosawa, serta dialognya ditulis sineas legendaris Joss Whedon (tapi namanya tidak muncul di arsip iMDB).

Hanya didukung dana minim US$30 juta (setara Rp408 milliar), Speed berhasil meraup US$300 juta (Rp4,08 trilliun) yang sangat besar di masa itu. Film ini melejitkan nama aktor utamanya, Keanu Reeves, menjadi aktor papan atas. Berkat pemasukan besar itulah, produser berani membiayai film sekuel secara mewah—lima kali lipat dibanding budget film pertama. Para kritikus film di New Yorker dan TIME memberi resensi positif untuk Speed. Sampai sekarang pun, Speed mendapat rating "fresh" dari Rotten Tomatoes.

Salah satu alasan kesuksesan Speed adalah plot ceritanya yang tidak lazim: memanfaatkan bus kota sebagai setting aksi terorisme. Bus tentu saja hanyalah satu dari sekian banyak aspek laga sepanjang durasinya. Hampir di setiap adegan, Speed menggunakan semacam situasi bom yang bisa meledak kapan saja untuk membangun ketegangan.

Keanu Reeves memerankan Jack, seorang detektif Kepolisian Los Angeles yang berusaha menggagalkan aksi terorisme domestik mantan anggota tim spesialis gegana, Howard (diperankan Dennis Hopper). Adu kecerdasan antara keduanya terjadi, dengan nyawa warga LA sebagai taruhannya. Pada 1994, plot macam ini terkesan 'maksa'. Sayangnya kini, berita serangan teroris di transportasi publik rasanya sudah tidak terdengar aneh lagi.

Sesungguhnya, materi terbaik di Speed datang dari karakter Dennis Hopper yang mengucapkan frasa-frasa catchy macam "Don't fuck with daddy" dan "pop quiz hotshot." Penampilan Hopper sangat menawan setiap kali dia muncul di layar kaca. Penampilan dia di sini mengingatkan kita akan aktingnya sebagai Frank di Blue Velvet. Di film yang sangat lempeng dan jelas, sesungguhnya Speed bisa menggunakan lebih banyak elemen misteri ala David Lynch.

Lalu bagaimana dengan penggambaran karakter perempuan dalam Speed? Biarpun Sandra Bullock memainkan karakter utama lainnya, tidak banyak yang bisa diambil dari karakternya, Annie. Dalam Speed, sepertinya Annie hanya memiliki dua peran. Ketika dia tidak sedang melucu, dia berperan sebagai 'perempuan yang minta diselamatkan', skenario yang sudah basi dari dulu. Biarpun dialognya agak klise, penampilan Bullock tetap menawan. Annie terlihat seperti satu-satunya karakter yang menyadari konyolnya situasi film.

Ketika Speed baru dirilis, aktor Keanu Reeves sedang menjauhkan diri dari peran remaja cowok ganteng dan berusaha untuk mengesahkan diri sebagai aktor high-art. Dia sempat muncul di film Gus Van Sant My Own Private Idaho beberapa tahun sebelumnya dan baru saja menyelesaikan Little Buddha.

Ada rumor ketika sutradara Jan de Bont awalnya menawarkan peran Jack ke Keanu, dia meminta dialog Jack diubah agar lebih terlihat seperti lelaki baik-baik. Lalu datanglah penulis muda Joss Whedon, yang saat itu masih bekerja sebagai penulis naskah film bayangan. Perubahan karakter Jack, dari bad boy menjadi lelaki bermoral mungkin telah menyelamatkan film. Biarpun banyak aktor berkualitas lain dalam film, karakter Keanu hampir selalu muncul di setiap adegan film. Kalau karakter Keanu tidak disukai penonton, film ini pasti tidak laku.

Los Angeles juga memiliki peran yang penting dalam film. Banyak lokasi asli dari kota tersebut masuk ke dalam film. Speed juga menunjukkan Los Angeles sebagai komunitas di mana penduduknya saling mendukung, infrastrukturnya bersih dan baru, dan polisi berusaha keras untuk menjaga keamanan kota. Jujur, ketika Speed sedang digarap, kota LA tidak semanis yang ditampilkan. California masih mengalami resesi ekonomi saat itu.

Speed memenangkan dua Academy Awards karena scoring musiknya yang unik, meraup keuntungan 10 kali lebih besar dibanding budgetnya, dan mendapatkan resensi cukup positif untuk bisa menulis film sekuel. Tapi ada alasan mengapa Keanu Reeves menolak membintangi film sekuelnya (yang menampilkan kapal cruise, alih-alih bis). Biarpun metode plot Speed yang tegang menarik, tapi tidak ada banyak isi selain itu. Mudah untuk melupakan karakter Speed dan motif mereka, dan juga filmnya.