20 Tahun Reformasi

Aku Memperingati 20 Tahun Reformasi Dengan Menikmati Sajian Propaganda di Museum Suharto

Betapa berbedanya citra Indonesia di mata keluarga penguasa Orde Baru itu. Semua dosa pelanggaran HAM, termasuk sebelum Suharto lengser, hilang tak berbekas di seluruh area museum Jl Godean, Yogya.

oleh Titah AW; foto oleh Umar Wicaksono
21 Mei 2018, 8:18am

Penulis artikel ini sampai overdosis segala kebaikan Suharto. Foto oleh Umar Wicaksono.

Pernah enggak kalian ikut Ibu bertamu ke rumah temen SD kalian karena Ibumu dan Ibu temen SD-mu terlibat satu arisan? Kurang lebih seperti itulah rasanya berkunjung ke Museum H.M Suharto yang bertempat di Dusun Kemusuk, Godean, Yogyakarta.

Kok bisa? Sabar-sabar. Begini. Biasanya, obrolan rekan skena arisan akan fokus ke capaian anaknya. Ibu temanmu akan membawa cerita berapi-api ke ibumu, “Si Anu itu lho, ranking 1 terus di kelas padahal lesnya nggak banyak lho. Udah gitu dipilih jadi ketua kelas terus sama wali kelasnya,” dll. Kamu ikut mengangguk-angguk dan memberi senyum palsu, padahal di dalam hati kamu paham banget, temanmu adalah siswa paling rajin mencontek dan menyalin PR teman tiap pagi di sekolah, belum lagi rahasia umum bahwa dia suka memalak bekal temen-temennya. Sebel deh.

Semangat macam itulah yang melatari, museum Suharto didirikan oleh sang adik, mendiang Probosutedjo, pada 2013. Berjarak sekitar 10 kilometer dari pusat kota Yogya, museum ini terletak di kawasan yang tak terlalu ramai. Di sekitar museum sawah hijau terbentang dan angin semilir, suasana yang kelewat tenang untuk mengenang sejarah Suharto yang gegap gempita. Sebuah pagar tembok bercat putih mengelilingi seluruh area museum.

Selain ruang pamer museum, ada pendopo bergaya jawa klasik yang juga berfungsi sebagai ruang pertemuan dan pemutaran film, musala, petilasan, dan rumah yang kata penjaganya masih digunakan oleh keluarga Suharto jika sedang berkunjung.

Saya sempat berharap bertemu salah satu keturunan Cendana untuk minta uang saku. Sayangnya yang saya temui hanya patung Suharto berukuran 3 meter tengah tersenyum di pelataran depan.

Untuk masuk museum, pengunjung tak perlu bayar tiket. Cukup isi buku tamu sambil bertukar sapa dengan beberapa bapak-bapak yang bertugas menjaga museum. Bibit, salah satu penjaga museum, bercerita rata-rata tiap hari jumlah pengunjung mencapai 600 orang. “Rombongan siswa sekolah banyak, lansia juga banyak, segala umur. Apalagi kalau hari libur, kemarin pas libur hari Kartini aja jam 9 pagi udah 500 orang. Pada senang datang kemari, belajar sejarah,” ujarnya. Saya bahkan diberi minum gratis dan direkomendasikan beberapa spot favorit untuk swafoto. Salah satunya di depan tembok di mana tertulis tiga petuah Suharto:

Sa-Sa-Sa

Sabar Atine (Selalu Sabar)

Saleh Pikolahe (Selalu Saleh Taat Beragama)

Sareh Tumindake (Selalu Bijaksana)

Dalam bangunan yang berfungsi sebagai museum, narasi sejarah tentang Suharto ini dibagi dalam lima bagian laiknya bab-bab novel thriller-horor: Pengantar Memorial, Serangan Umum 1 Maret 1949, Operasi Trikora, Pemberontakan G30S, serta Repelita & Hasil Pembangunan. Ke semuanya adalah babak-babak dalam sejarah Indonesia di mana Suharto mengklaim (atau memang diatur sedemikian rupa) berperan penting bagai prajurit heroik yang menyelamatkan negara ini dari Belanda dan lain-lain. Intinya, narasi Suharto sudah mirip Mesias.

Berikut beberapa rangkuman perjalanan saya dalam beberapa poin.

Namanya Juga Museum versi keluarga, Suharto Kelihatan Narsis Banget!

Selama berkeliling dalam ruangan yang berbentuk lorong, ada ratusan foto adegan-adegan bersejarah di Indonesia. Hebatnya, hampir di semua foto, sosok Suharto selalu berada di tengah atau posisi yang strategis untuk membuatnya terlihat penting. Dari mulai penyusunan strategi serangan umum 1 Maret 1949, perebutan Irian Barat saat operasi Trikora, sampai adegan pengangkatan jenazah para jenderal di lubang buaya saat peristiwa G30S/PKI. Tapi melihat kepekaan beliau terhadap jangkauan dan komposisi dalam lensa kamera, serta kekuatan fotografi, mungkin sejak dulu Suharto sudah paham di masa depan akan ada slogan “NO PICT = HOAX”.

Hebatnya, meski keadaan sedang genting, dalam foto-fotonya Suharto tetap terlihat sumeh (murah senyum). Pantas jika ia dijuluki sebagai The Smiling General. Menyusuri lorong-lorong yang disusun berdasar linimasa, kita bisa melihat bagaimana senyum itu tak pernah surut sejak ia masih muda, hingga punya rambut yang sudah sedikit beruban, sibuk memikirkan negara selama 32 tahun. Apapun keadaannya, tersenyumlah. Hanya saja, senyum-senyum itu justru membuat saya merasa dikepung oleh kengerian yang tak terjelaskan.

Yang paling membuat saya geli, ada sebuah plakat dengan keterangan “Kedekatan Hubungan Jenderal Suharto dan Presiden Soekarno Bagaikan Hubungan Anak dengan Bapaknya”. Di bawahnya, berjejer 10 foto mereka berdua dalam berbagai pose, tengah dalam posisi bersebelahan dan bertukar tawa. Tak ada keterangan konteks waktu dan peristiwa, yang jelas mereka terlihat seperti teman sekosan yang suka minta shampo dan curhat-curhatan soal gebetan.

Ketika mengacu pada referensi sejarah soal bagaimana perlakuan Suharto yang konon melarang siapapun menjenguk Soekarno di hari-hari akhirnya, dan perkara keberadaan naskah Supersemar yang masih dipertanyakan hingga sekarang, plakat ini jadi terlihat seperti usaha pencitraan belaka. Seperti anak instagram zaman sekarang, baru ngobrol dikit doang, tahunya foto di-tag dengan caption sok akrab. Panjat sosial...

Narasi Sejarahnya Hiperbolis dengan Sentuhan 'Sastrawi'

Saya curiga yang bertugas menulis narasi untuk adegan-adegan atau diorama di museum ini adalah novelis atau sastrawan. Pasalnya, alih-alih seperti narasi sejarah formal, kalimat-kalimatnya sering mencantumkan hal yang kelewat detil hingga terbaca seperti narasi novel yang sastrawi. Seperti misalnya “Gerombolan G30S/PKI sangat keji dan biadab. Kekejian dan kebiadabannya di luar batas kemanusiaan....

Kekejaman ini hanya satu-satunya terjadi di dunia.” Narasi tersebut ada di plakat soal jenazah para jendral di Lubang Buaya. Porsi soal persiapan pemberontakan PKI dan bahaya komunisme mendapat porsi yang cukup banyak. Meski menyangsikan kesahihannya, sebagai pembaca novel-novel sastra saya mengakui terhibur dengan teks-teks tersebut.

Omong-omong, saya menemukan beberapa teks yang salah ketik, hehehe.

Museum ini Sungguh Futuristik

Arsitektur dan ornamen yang kental dengan nuansa Jawa klasik di luar ruangan museum langsung hilang setelah saya masuk melewati pintu geser otomatis. Lorong pertama di dalam museum disusun oleh instalasi rol film yang membentuk spiral menyambung berisi deretan foto Suharto, dilengkapi lampu biiru di sepanjang lantai. Mengingatkan saya ke suasana spaceship di latar film-film sains-fiksi. Warna-warna metalik dan silver cukup mendominasi dinding dan segala ornamen di dalam museum.

Namun sebagai museum, penyajian yang menggunakan banyak teknologi seperti di museum Suharto ini pantas mendapat pujian. Di beberapa titik saya menemukan layar interaktif berisi katalog digital atau klip-klip soal Suharto. Belum lagi kepungan audio yang sepanjang waktu menyiarkan kehebatan Suharto dalam mempertahankan keamanan negara dan membawa Indonesia pada salah satu puncak kesejahteraan. Lengkap dengan backsound heroik ala film-film superhero.

Tapi Kok Gak Ada sama sekali artefak Suharto? Adanya Foto dan Narasi di Plakat

Tak seperti museum-museum lain yang memajang benda-benda peninggalan sang tokoh. Meski padat, yang ada hanya foto-foto dan teks dalam plakat di sepanjang dinding. Selain itu, hanya ada beberapa bagian diorama dari beberaga adegan, itupun diletakkan dalam pencahayaan temaram dalam ruang kaca besar.


Tonton dokumenter VICE tentang akar sentimen rasial seputar pilkada DKI Jakarta 2017 yang mengingatkan sebagian orang pada trauma Tragedi Mei 1998:


Namun ajaibnya, dalam salah satu katalog digital saya menemukan halaman berisi lima versi Surat Perintah 11 Maret alias Supersemar yang sampai sekarang masih dipertanyakan kebenarannya itu. Meski resolusi fotonya tak memungkinkan teksnya untuk dibaca. Ketika bahkan ada yang mengatakan bahwa Supersemar tak pernah betulan ada, menemukan tak hanya satu, tapi lima versi kan sungguh luar biasa.

Kalau tak baca buku pembanding Soal Sejarah Indonesia dan Orde Baru, Pulang dari Museum Kalian Pasti ikut Percaya Slogan 'Penak Jamanku to?'

Patut diakui, cara museum ini membangun narasi Suharto sebagai pahlawan berjasa besar untuk Indonesia sangat menarik. Kalau saya datang ke museum ini saat masih pakai seragam putih abu-abu kinyis-kinyis, dan tak punya bekal referensi lain soal sejarah, mungkin narasi yang ditawarkan museum ini akan saya telan bulat-bulat.

Suharto tampak begitu heroik. Penyusunan linimasanya jelas dan tegas, dilengkapi dengan framing lewat foto dan teks yang menggugah emosi. Terlihat bagaimana Suharto rela meninggalkan keluarganya demi kemerdekaan Indonesia, mengamankan negara, bahkan membuat program pembangunan di sana-sini, membuat PNS hidup makmur, pangan murah, jalanan aman dari preman, dan lainnya. Kurang apa lagi? Pantas saja kan kalau ia memerintah selama 32 tahun? Cen “Penak Jamanku to?” (memang enak jamanku kan?)

Tapi sayangnya di kepala saya, peran Suharto ke Indonesia tak lagi hanya berisi jasa-jasa, tapi juga dosa-dosa. Berbagai referensi versi alternatif sejarah soal Orde Baru dan Suharto yang saya temukan secara acak menuntun pada liang gelap, tempat rahasia-rahasia kelam Orde Baru berusaha dikubur. Di museum ini tak disinggung sama sekali soal pembantaian massal 65, soal operasi pembunuhan misterius kriminal alias Petrus, soal pembuangan tahanan politik di pulau Buru tanpa peradilan, soal eksil yang tidak bisa pulang ke Indonesia hanya karena kritis terhadap Orde Baru, dan soal pembungkaman kebebasan berpendapat selama Suharto berkuasa. Dalam klip soal masa kepemimpinan Suharto sebagai presiden, tak ada satu adegan pun yang menunjukkan suka cita mahasiswa dan masyarakat ketika Suharto lengser. Jenderal murah senyum ini terkesan mengundurkan diri dengan terhormat, lalu tak cukup sehat diadili, hingga akhirnya meninggal pada 2008.

Kontrasnya narasi sejarah ala Suharto dan buku-buku lain ini kadang membuat saya merasa sejarah tak lebih dari sekedar dongeng yang bebas di remake sedemikian rupa.

Syaratnya cuma satu, kamu harus jadi penguasa, seperti yang Winston Churchill katakan bahwa “Sejarah ditulis oleh para pemenang”.

Jadi, kumpulkan modal dari sekarang, buatlah museum untuk mengenang dirimu sendiri. Dengan demikian kalian selangkah mengikuti contoh Suharto, sang jenderal yang selalu tersenyum...