Politik Internasional

Beginilah Skenario Andai Rusia dan Eropa Berperang

Beginilah penjelasan pakar soal apa yang akan dialami dunia seandainya skenario menyeramkan ini jadi nyata. Apalagi kalau AS betulan keluar dari NATO.

oleh Allie Conti
07 Agustus 2018, 12:00pm

Kolase foto oleh Lisa Kantrowitz. Sumber foto oleh Alexander Zemlianichenko/Press Association Images

Eropa—benua yang secara historis sangat menyukai perang habis-habisan—sedang menikmati era stabilitas yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dengan pengecualian beberapa pertempuran regional dan sipil dalam skala kecil, benua ini damai selama 72 tahun belakangan. Bisa dibilang sekarang adalah sebuah era keemasan untuk stabilitas politik Eropa.

Tetapi, perdamaian boleh jadi tak abadi. Kalau kamu berpikir Eropa tidak bisa "turun kelas" dan berkelahi di bar seperti pemabuk kalah judi, kamu bukan satu-satunya. Sebagian orang memimpikan hal serupa selama era Konser Eropa—sebuah sistem yang diberlakukan untuk menegakkan keseimbangan kekuasaan pada pertengahan abad ke-19—dan kemudian selama empat dekade damai setelah Perang Prancis-Prusia pada 1870-1871. Periode kedua berakhir dengan Perang Dunia I. Jadi, jelas banyak orang, termasuk yang mentalitasnya macam kamu, sudah salah taksir.

Mungkinkah kita bakal keliru menaksir kemungkinan terjadinya konflik massal di Eropa sepanjang Abad ke-21?

Sebagian orang bilang iya. Pakar keamanan terus menyelidiki skenario-skenario di mana ketegangan diplomasi antara Rusia yang semakin kuat dan sekutu NATO Eropa berubah menjadi perang. Menurut mereka, kemungkinannya tipis. Tetapi, dari peristiwa-peristiwa global kita bisa menyimpulkan bahwa "kemungkinan tipis" tidak sama dengan “mustahil.” Faktanya, skenario perang antara NATO dan Rusia bisa terjadi hanya berkat tiga langkah sederhana saja.

Pertama: Donald Trump menindaklanjuti sindiran-sindirannya dan menarik AS dari NATO.

Kedua: Vladimir Putin berani memutuskan untuk menyerang negara-negara Baltik—Lithuania, Latvia, Estonia—yang menurutnya sejak awal menjadi bagian dari Rusia.

Tiga: Mengingat negara-negara ini sudah menjadi anggota NATO sejak 2004, sekutu sisanya—Inggris Raya, Jerman, Prancis, dan lain-lain—akan membantu negara-negara Baltik tersebut.

Hasilnya? "Akan terjadi Hiroshima dan Nagasaki di mana-mana," kata Vladimir Zhirinovsky, anggota parlemen Rusia, saat membahas kemungkinan konflik macam ini terjadi tahun lalu.

Oke. Ancaman perang antara Rusia dan NATO jelas tidak ideal bagi penduduk negara manapun.

Tetapi, apakah Rusia dan Eropa benar-benar bisa berperang? Dan, kalau benar bisa, bagaimana keadaan dunia kelak? Seperti dipaparkan Keir Giles, salah satu anggota lembaga riset kebijakan luar negeri Inggris Chatham House—yang merupakan organisasi non-pemerintah dan non-profit di London: "Tidak ada banyak kabar baik andai NATO dan Rusia berperang."

1. Ketegangan Meningkat

Tegangan antara Rusia dan Eropa selalu tinggi. Meski demikian, kegelisahan saat ini tidak menyenangkan.

Di satu sisi, Rusia telah mengadakan latihan nuklir besar-besaran untuk 40 juta warga, mengirim kapal selam ke perairan teritorial negara lain dan menjalankan misi latihan pemboman di tepi wilayah udara Inggris. Perilaku ini, tak hanya mencaplok bagian negara lain, tapi juga dipandang tak baik dalam menjaga kerukunan bertetangga.

Namun, bukannya tidak mungkin NATO memperkeruh suasana. Aliansi ini mempunyai hampir 10.000 pasukan di negara-negara yang berbatasan dengan Rusia, sementara pelatihan perang selama dua minggu yang menampilkan ribuan personel dan 50 pesawat sedang diadakan di Skotlandia. Negara musuh, dalam pelatihan seperti itu, diberi nama yang sama sekali tidak ambigu: the Reds.

2. Pahami di Mana Titik Tempur Utamanya

Tidak terlalu anti-Rusia untuk mengatakan bahwa pemerintahnya saat ini mendukung negara-negara yang berbatasan dengan Laut Baltik—Estonia, Latvia, dan Lituania.

Putin percaya bahwa negara-negara bekas Soviet ini seharusnya tidak pernah merdeka: Masing-masing memiliki populasi Rusia yang besar dan pelabuhan laut yang sangat strategis. Dia jelas tidak senang pada fakta bahwa mereka adalah anggota NATO dan aliansi ini—bukan tanpa dasar pemikiran—seperti mengepung Rusia.

"Jika kamu memampatkan pegas,” kata ia saat menyinggung topik ini pakai metafora pada tahun 2014, “pada akhirnya ia akhirnya akan menyentak."

Tanpa Amerika Serikat, sentakan itu bisa terjadi dalam waktu dekat.

"Mereka akan beranjak ke negara-negara Baltik," ujar Giles, yang merupakan kepala Conflict Studies Research Center di Oxfordshire. "Putin percaya keamanan Rusia membutuhkan negara-negara Baltik dalam teritorinya. Tapi, kita perlu melihat lebih jauh. Sulit menempatkan batasan pasti sejauh mana pemerintah Rusia yang ambisius merasa perlu memperluas wilayahnya. Jelas ada Polandia dan Finlandia juga dalam skenario tersebut."

3. Internet Mati! Tembakan Mulai Dilepaskan!

Pada tahun 2015, sebuah penelitian oleh lembaga penelitian RAND Corporation menyimpulkan bahwa hanya diperlukan 60 jam bagi Rusia untuk menguasai Lithuania, Latvia, dan Estonia.

Namun, Giles percaya tanda-tandanya akan muncul beberapa saat sebelum itu semua terjadi. "Akan ada peningkatan yang nyata dalam diplomasi Rusia dan media yang berfokus pada isu-isu yang dapat memberikan alasan untuk intervensi bersenjata," katanya.

Atas alasan-alasan tertentu, seperti misi penjaga perdamaian, ribuan pasukan akan berkumpul di perbatasan. Pada hari-hari sebelum invasi atau serangan apapun, internet di wilayah target akan dimatikan atau diganggu oleh tentara spesialis telekomunikasi. Pasokan listrik akan gagal, dan ATM akan berhenti berfungsi. Ponsel dan sinyal TV akan macet. Mungkin yang paling menakutkan, teks yang dipersonalisasi akan dikirim langsung ke pejabat oposisi, tentara, dan warga, menciptakan kebingungan dan kepanikan. Dalam beberapa kasus, teks-teks ini tampaknya berasal dari seseorang yang sudah ada di buku telepon penerima.

"Dalam situasi yang tepat, ini biasanya cukup," kata Giles. "Rusia tidak perlu mengirim tank ke luar perbatasan. Mereka bisa melancarkan serangan tanpa kehadiran militer. Kekeliruan informasi dan kekacauan sipil bisa menyebabkan perubahan rezim, dan pemerintah Moskwa akan mengambil alih. Ini akan memenuhi misi keamanan dan ekonomi Rusia."

Tetapi, bagaimana jika tidak ada perubahan rezim?

Bayangkan sebuah peperangan hibrida: semua hal di atas dikombinasikan dengan pergerakan pasukan yang tiba-tiba memasuki negara-negara tersebut. "Kita tidak tahu bagaimana tepatnya pendudukan akan seperti apa, tapi Rusia memang melatih skenario ini," kata Giles. "Yang kita tahu, ini semua akan berakhir dengan cepat."

Rudal balistik jarak menengah akan menentukan pertempuran. Baik Rusia maupun NATO punya banyak rudal macam ini.

4. NATO: Bertempur atau Jatuh

Setelah diplomasi gagal, faktanya adalah bahwa NATO, tanpa AS, hampir pasti tidak memiliki senjata untuk memenangkan perang dengan Rusia.

Kita akan mengabaikan senjata nuklir untuk saat ini dan membayangkan skenario yang konvensional saja. Rusia memiliki lebih banyak pasukan (cadangannya saja sekitar 2,5 juta orang) dan perangkat keras. Sebagai satu negara, rantai komandonya lebih baik. Tentara ini telah diperkuat dari Ukraina dan Suriah. Setelah peningkatan militer senilai US$40 miliar per tahun selama satu dasawarsa, persenjataannya—seperti Pantsir-S1, tank yang secara harfiah dapat menghancurkan rudal jelajah—juga lebih unggul.

Ada juga kemungkinan beberapa anggota NATO akan mundur—khususnya Turki, mengingat hubungan hangat antara Presiden Putin dan Presiden Recep Erdoğan. Itu berarti bantuan sekitar 600.000 pasukan—kontingen terbesar kedua setelah AS—akan hilang.

Hasilnya, NATO perlu mengambil keputusan eksistensial: Berjuang dan mungkin kalah, atau, dalam skenario ini, membiarkan negara-negara Baltik lepas.

Atau, sebagaimana disampaikan Ian Shield, dosen asosiasi dalam hubungan internasional di Anglia Ruskin University: "Pilihannya adalah antara mengingkari perjanjian—yang pasti akan mengarah pada disintegrasi NATO dan mungkin seluruh tatanan Eropa—atau berpartisipasi dalam perang dahsyat yang boleh jadi melibatkan senjata nuklir."

Wah, betul-betul pilihan yang sulit.

5. Perang di Darat Terjadi

Anggap kita melanjutkan permainan ini, dan ceritanya NATO berhadapan dengan Rusia. Bagaimana kelanjutannya?

Tidak baik bagi kedua pihak, menurut Shields: "Di medan perang manapun, akan ada pemusnahan—meskipun skenario ini tidak akan menjadi medan perang yang serupa dengan sebelumnya. Rudal dan artileri memiliki jangkauan yang lebih besar dan ketepatan lebih tinggi, yang berarti pos-pos, infrastruktur, gudang senjata, dan bahkan seluruh kota musuh bisa dihancurkan dari wilayah sendiri. Yang akan terjadi adalah pertempuran individu yang lebih sedikit, tetapi dengan dampak kehancuran yang lebih besar. Kalau tidak ada pihak yang mundur, seluruh Eropa—tidak tahu pasti wilayah yang mana—akan menjadi puing-puing. Jumlah kematiannya tak akan terbayangkan."


Tonton dokumenter VICE soal komunitas suporter sepakbola Rusia yang gemar berkelahi dan melatih diri dengan kemampuan MMA:


Inggris tidak akan aman; Selat Inggris akan berubah jadi parit yang ketinggalan zaman. “Pesawat Rusia tidak perlu masuk ke wilayah udara Inggris,” ujar Shields. “Mereka bisa mendaratkan serangan yang akurat dari luar.”

Kedua pihak akan bergulat untuk menguasai lautan di sekitar Skandinavia. Serangan cyber, sementara itu, bisa mematikan infrastruktur transportasi, rumah sakit, media, dan utilitas lainnya.

Keuntungan utama Rusia di tengah pembantaian ini berlipat ganda. Pertama, karena memiliki lebih banyak persenjataan dan pasukan, mereka pada dasarnya dapat terus bertempur lebih lama. Kedua, luas daratan yang lebih sempit berarti Rusia bisa menyerap kehancuran dengan lebih baik: NATO bisa menyerang setiap struktur sejauh ratusan mil ke dalam wilayah musuh, dan Moskow bahkan tidak akan tergores.

6. Nuklir Jadi Ancaman Utama

Seperti yang diketahui oleh mahasiswa sejarah manapun, tidak penting memiliki 7,000 (Rusia) atau 200 (Inggris dan Prancis) senjata nuklir; kualitas lah yang menentukan. Pikiran bahwa menekan tombol merah berarti MAD: mutually assured destruction. Jika satu sisi mulai melemparkan hulu ledak, yang lain menanggapi dengan baik. Kedua musuh tersapu habis. Ya, kan? Salah.

"Yang dimiliki Rusia dalam gudangnya, tapi tidak dimiliki oleh negara-negara Barat, adalah senjata nuklir taktis," jelas Giles. "Ini bukan nuklir untuk menyerang kota besar, tapi yang bisa menghancurkan medan perang atau lingkungan. Barat pernah memiliki senjata-senjata ini tetapi lalu menyingkirkannya. Jadi, satu-satunya tanggapannya terhadap serangan nuklir taktis akan menjadi serangan nuklir penuh. Yang mana merugikan karena itu juga akan memastikan kehancuran mereka sendiri. Barat kehilangan beberapa anak tangga di tangga eskalasi yang dibangun Rusia dalam strateginya."

Meskipun demikian, begitu segala sesuatu menjadi nuklir, semuanya menjadi tidak dapat diprediksi: kota-kota musnah, jutaan orang mati. Pada titik ini, bahkan ahli strategi yang paling maju pun cenderung berhenti merencanakan jalur-jalur yang memungkinkan.

7. Tapi, Pada Akhirnya Bergembiralah

Oke. Kita bisa sepakat jika sampai ada keputusan AS meninggalkan NATO, maka itu menjadi pintu gerbang bagi umat manusia menuju Armageddon. Kabar baiknya: tampaknya skenario ini makin ke sini semakin mustahil terwujud. Donald Trump mungkin tidak akan meninggalkan aliansi dengan NATO.

Alasannya, NATO tidak hanya membuat AS aman, tapi juga menguntungkan dari segi politik dan ekonomi. Ini yang membuat Washington memiliki pengaruh di Eropa dan melindungi benua yang luas dan makmur, yang—dan ini penting—menghabiskan banyak kekayaannya dengan perusahaan-perusahaan Amerika.

Oleh karena itu, mungkin ada baiknya kita mengingat bahwa kedamaian yang kita lihat tidak stabil. Mari perbanyak piknik.