Iklan
Jepang

Stigma Membayangi Para Penyintas Kebocoran Nuklir Fukushima Jepang

Tsunami dan gempa pada 2011 memicu kebocoran nuklir di Fukushima Daiichi. Sesudah kondisi membaik, para perempuan penyintas tragedi itu ternyata sulit tinggal di tempat baru karena dianggap terkontaminasi radiasi.

oleh Bobbie van der List
13 Maret 2018, 12:30pm

Artikel ini pertama kali tayang di Broadly.

Bulan ini menandai ulang tahun ketujuh bencana yang menghantam pesisir timur Jepang pada 11 Maret 2001. Kala itu, gempa bumi berkekuatan 9.1 skala richter ditambah tsunami menghancurkan Pembangkit Tenaga Nuklir Daiichi Fukushima. Nyaris 16.000 orang dinyatakan meninggal.

Biarpun bencana nuklir semakin banyak dilupakan sebagian besar warga Jepang, bagi beberapa orang, ini masih menjadi realita mereka sehari-hari. Para pengungsi nuklir masih mengalami diskriminasi, terpisah dari orang tersayang, dan dalam beberapa kasus, bahkan dipaksa untuk kembali ke bekas zona evakuasi.

Pemerintah, khawatir warganya akan terpapar radiasi, mendeklarasikan zona evakuasi seluas 20-km di sekitar pabrik dan mengevakuasi 165.000 orang dari rumahnya. Hingga kini, masih ada sekitar 50.000 orang yang belum kembali ke Fukushima.

Keiko Owada, 66 tahun, adalah salah satunya. Ketika dia saya temui di Tokyo, dia mengaku menghabiskan tujuh tahun terakhirnya di ibukota Jepang tersebut. Sayangnya ini tidak akan bertahan lama karena pemerintah Jepang memutuskan untuk mencabut subsidi rumah gratis miliknya.

Karena upaya dekontaminasi telah mencapai kemajuan dan makanan sudah dinyatakan aman dari radiasi, pemerintah mengatakan desa dalam zona evakuasi sudah aman untuk kembali ditinggali. Ini juga berlaku untuk desa Owada, Naraha, di mana perintah evakuasi sudah diangkat dua tahun yang lalu.

Owada tidak ingin kembali ke Naraha. “Apabila saya terus mendapat sokongan finansial untuk apartemen saya di Tokyo, saya akan terus tinggal di sini. Alasannya: tidak ada rumah sakit di Naraha, hanya sebuah puskesmas kecil. Tidak ada supermarket, hanya ada toko kelontong kecil. Kenapa? Karena tidak banyak orang yang kembali tinggal di sana.”

Kehidupan seorang pengungsi tidak selalu mudah, jelas Owada. “Bukan berarti orang memperlakukan saya berbeda, tapi tetangga tidak pernah menyapa saya. Mungkin ini karena saya memperoleh kompensasi dan tempat tinggal gratis. Mereka tahu saya dari Fukushima, itulah alasannya.”

Menurut Owada, beberapa pengungsi lain di Tokyo yang dia kenal bahkan memperoleh perlakuan yang lebih buruk. “Ada yang mobilnya dirusak secara sengaja karena memiliki plat Fukushima. Inilah sebabnya saya tidak pernah memarkir mobil di tengah lapangan parkir, selalu di pojok, agar tidak terlihat.”

Kisah Owada mengilustrasikan bagaimana pengungsi terus hidup dalam rasa ketakutan. Diusir dari rumah, ditinggal dalam komunitas baru—kehidupan mereka tidak pernah mudah.

Sebagai seorang pengungsi di Tokyo, Owada pergi kembali ke Fukushima beberapa kali. Dia masih ingat pertama kali dia kembali di bulan Juni 2011. Kota Naraha masih belum boleh dimasuki, dan dia bersama keluarga hanya memiliki waktu sejam untuk berkunjung. “Kami mengenakan pakaian pelindung terhadap radiasi, dan sebuah kantong plastik kecil untuk mengumpulkan barang-barang pribadi. Waktu kami sangat sedikit, dan plastiknya terlalu kecil bagi seluruh keluarga. Tapi saya bisa mengingat baunya—ada tikus di mana-mana dan tai binatang.”

Keiko Owada. Foto oleh Tanja Houwerzijl

Tentu saja, ada hal-hal tentang kota kelahirannya yang dia rindukan, seperti menanam sayuran dan buah di tanah. Tapi ini tidak serta merta menghapus kekhawatirannya tentang bahaya radiasi, biarpun pemerintah sudah mengumumkan bahwa wilayah tersebut sudah aman untuk ditinggali.

“Biarpun jalanan dan rumah sudah didekontaminasi, mereka bahkan tidak menyentuh pegunungan dan hutan. Radiasi belum dibersihkan sepenuhnya. Rumah saya persis di samping pegunungan, jadi mungkin saja rumah saya terkontaminasi.”

Akiko Kamata, 66 tahun, masih ingat betapa kagetnya dia mendengar alarm peringatan tsunami di desanya, Odaka. Ketika ngobrol dengannya di sebuah cafe di Tokyo, dia ingat bagaimana dia berlindung di Fukushima beberapa minggu pertama setelah bencana terjadi. “Saya ingat pertama kali mandi setelah 10 hari, rasanya enak banget.”

Ketika Kamata menghubungi anggota keluarga lain yang tinggal di berbagai wilayah di Jepang, dia terkejut mendengar respon awal adik iparnya. “Setelah bencana teresebut, saya ingin pergi ke Chiba (sebuah prefektur di samping Tokyo], adik ipar saya mengangkat gagang telepon dan mengatakan saya tidak perlu datang ke rumahnya. ‘Kamu terkontaminasi,’ ujarnya ke saya.”

Foto udara dari kawasan Sukuiso, seminggu setelah terkena tsunami dan gempa bumi. Foto dari US Navy photo/Dylan McCord/via akun Flickr user US Navy

Akhirnya dia berhasil menemukan tempat tinggal di Chiba, wilayah tempat dia tumbuh ketika masih kecil. “Orang-orang ramah terhadap kami di Chiba. Tapi saya tetap merasakan sedikit skeptisme. Setelah saya meminta dukungan finansial dari pihak pemerintah daerah, mereka menjawab, ‘Tidak bisa, orang-orang di Chiba juga korban gempa bumi.”

Kamata memang menerima satu pembayaran kompensasi dari TEPCO: 7 juta yen per orang, atau sekitar $65.600. Suaminya menerima jumlah yang serupa.

Biarpun Kamata berterima kasih atas bantuan finansial, mereka belum dikompensasi atas hilangnya pendapatan dari bisnis keluarga mereka di Odaka. “Saya ingin meminta bantuan organisasi yang berspesialisasi menangani pengungsi dengan klaim macam ini,” ujarnya.

Kamata memutuskan untuk tidak kembali ke Odaka. Penyakit suaminya (dia menderita gangguan syaraf yang membuatnya bergantung ke dukungan Kamata) bertambah buruk di saat evakuasi. Dia takut penyakit suaminya akan bertambah buruk apabila mereka kembali ke Fukushima.


Seiring Kamata mengingat kehidupannya di Fukushima, dia menggunakan sapu tangan untuk menyerka air mata di pipinya. Dia hampir tidak pernah berkomunikasi dengan teman-temannya lagi.

“Musibah itu memecah komunitas kami, baik secara fisik maupun mental. Orang-orang terpisah. Seorang teman saya di Chiba ingin bercerai dengan suaminya. Sang suami ingin dia kembali ke Fukushima, tapi dia tidak ingin kembali. Satu alasan adalah paparan radiasi, tapi ada banyak alasan lain, seperti sekolah anaknya dan fakta bahwa mereka mulai terbiasa dengan kehidupan di Tokyo.”

Ada satu lagi cerita yang dia ingin bagikan, jelas Kamata sambil menangis. “Seorang teman saya adalah petani di Odaka. Dia memiliki 10 sapi. Mereka berevakuasi ke Chiba sama seperti saya dan tidak bisa kembali ke Fukushima untuk memberi makan sapi-sapi mereka. Ketika mereka kembali pertama kali ke sana memeriksa kembali, hanya tiga yang masih hidup. Lainnya mati akibat kelaparan, dan mereka semua memandang ke arah yang sama—jalan tempat petani biasa datang untuk memberi mereka makan.”