Cerita Dari Fotografer Spesialis Pesawat Mewah Milik Kaum Super Tajir

"Keluarga Kardashian itu kaya raya, tapi belum setajir orang-orang [Timur Tengah] yang aku temui di bisnis ini. Keluarga Kardashian itu mah cuma pengemis."

|
Sep 5 2017, 7:23pagi

Bagi segelintir anggota kelas elite dunia, satu juta dolar itu enggak banyak-banyak amat. Satu juta dolar paling banter bisa buat jajan, beli sebuah perusahaan rintisan di Silicon Valley. Satu juta dollar itu cuma pendapatan sampingan penguasa di Cina hasil bikin iPhone atau Fidget Spinner. Malah bagi mereka, satu juta dolar itu cuma kembalian belanja yang bisa dipakai buat terbang mewah pakai pesawat Gulfstream atau Cessna.

Bagi para anggota kerajaan di Negara-Negara Arab dan beberapa anggota oligarki konglomerat Rusia, "kaya" punya makna yang beda banget sama bayangan kita. Kelompok miliarder ini bisa beli jet komersial dari Boeing atau Airbus cuma buat dihias sama karpet pintalan tangan, panel kayu, dan sepuhan emas. Ini adalah dunia penuh privilese yang enggak bisa diakses banyak orang, kecuali kalau kamu bekerja sebagai fotografer penerbangan yang disewa firma desainer interior untuk memotret hasil karya mereka. Setidaknya, itu cara yang ditempuh oleh Nick Gleis saat pertama kali masuk ke dunia penuh kemewahan ini.

Nick punya pengalaman panjang memotret pesawat terbang milik kaum super elite. Nick, yang dididik sebagai fotografer lanskap di bawah bimbingan Ansel Adams, awalnya tak sengaja terjun di ranah fotografi penerbangan. Kini, setelah 30 tahun, dia terus menggeluti profesinya dan sudah memotret hampir seribu pesawat pribadi orang-orang superkaya.

VICE: Hai Nick, apa sih yang bikin kamu jatuh cinta pada pesawat terbang?
Nick Gleis: sebenarnya, aku enggak begitu peduli dengan pesawat terbang. Pesawat tak begitu menarik bagi saya. Pesawat bagiku cuma moda transportasi, itu saja. Sebaliknya, passion-ku terletak pada imej fotografis pesawat terbang. Bagiku, interior pesawat terbang eksekutif memungkinkanku membawa seni fotografi ke level yang lebih tinggi.

Oke, tapi maksud kalimat terakhirmu tadi apa sih?
Maksudku, ketika kamu masuk sebuah jet eksekutif, kamu akan melihat kualitas yang enggak biasanya kita pahami. Asal tahu saja, pesawat terbang eksekutif bisa punya segalanya, maksudku segala yang dimiliki rumah mewah, apartemen mahal atau bahkan sebuah kastil. Bedanya, pesawat mewah bisa terbang dengan kecepatan 800 kilometer per jam. Artinya, bobot benda jadi faktor absolut. Contohnya meja makan. Di rumah kamu enggak akan mampu mengangkat meja makan pakai satu tangan. Dalam pesawat kamu bisa melakukannya. Intinya, interior pesawat-pesawat mewah ini harus punya ambiens dan fungsi yang sama, namun dengan bobot yang sangat ringan, dengan kualitas yang mungkin harus diteliti dengan mikroskop. Ini sih yang bikin aku kagum.

Baiklah kita mundur sebentar ya. Gimana ceritanya sampai kamu dapat pekerjaan ini?
Kira-kira 30 tahun lalu, aku bekerja untuk sebuah perusahaan fotografi di Burbank, California. Umurku masih 27 dan aku dapat proyek dari sebuah perusahaan bernama Tiger Air. Mereka baru saja beli sebuah Boeing 727-100 dan waktu itu mereka sedang menghias bagian dalamnya. Perusahaan tempatku bekerja diminta memotret progress proyek mereka saban dua minggu sekali. Pesawat itu akhirnya beres juga setelah dua tahun dikerjakan. Nah, ketika mereka butuh foto produk akhirnya, aku yang ditugaskan motret.

Dari situ kamu jadi fotografer pesawat mewah?
Enggak sih. Tapi, aku melihat celah untuk mengembangkan karir. Lalu aku menemukan sebuah perusahaan yang beroperasi di Bandar Udara Los Angeles. Namanya Garrett AiResearch dan ini adalah perusahan perombakan interior pesawat terbesar di dunia. Mereka bisa mengerjakan 40 pesawat setahun. Jadi ini memang perusahaan besar. Aku datang ke AiResearch dan benar-benar mengemis pekerjaan. Sisanya tinggal sejarah.

Jadi kamu beneran ngemis buat dapat pekerjaan. Tapi di awal kamu bilang, pesawat enggak menarik-menarik amat buatmu. Lalu apa dong motivasi kamu?
Uang.

Ah, tentu saja. Bayaran pasti gede ya?
Ya lumayan lah. Intinya sih gini: kamu mau jadi salah satu dari jutaan fotografer kawinan di luar sana atau kamu mau bekerja sebagai salah satu dari tiga fotografer pesawat terbang?

Ya yang kedua lah. Kamu sudah menggeluti profesi ini selama 30 tahun, kamu melihat ada perubahan selera fesyen pesawat terbang enggak?
Yang terjadi dalam industri penerbangan adalah mereka makin ke sini makin konservatif. Masa-masa pamer kemewahan sudah mulai ditinggalkan. Pesawat terbang keluarga kerajaan Arab Saudi punya nuansa bisnis yang kuat. Aku bisa bilang interiornya mirip dengan interior sedan BMW. Masih bagus tapi gimana ya, pesawat-pesawat ini tak punya sentuhan emas desainer seperti pada Boeing 747 dari dekade 80an atau 90an.

wastafel yang terbuat dari cangkang tiram mahal

Jadi, sekarang kamu jarang liat wastafel yang mirip jacuzzi?
Nah itu. Wastafel itu dibuat dari kulit tiram (abalone). Desain seperti ini sudah jarang ditemui. Kamu lihat bagian tengah kerannya itu kan. Kalau kamu taruh tanganmu di sebelah kanan, yang keluar adalah air dingin; Kalau kamu taruh tanganmu di sebelah kiri, kamu dapat air hangat. Kalau kamu sentuh bagian tengahnya, kamu dapat air suam-suam kuku. Dan kerannya dibuat dari satu potong alumunium.

Boleh bocorin sedikit tentang kelakuan orang-orang super kaya yang pesawat-pesawat mewah ini?
Menurutku, mereka baik banget. Mereka bukan sekumpulan orang ngehe, seperti seleb-seleb Amrik. Keluarga Kardashian, misalnya. Mereka itu memang kaya raya, tapi belum setajir orang-orang yang aku temui di bisnis ini. Keluarga Kardhasian mah cuma pengemis kalau dibandingkan dengan orang super kaya yang aku temui. Mereka biasanya sangat formal dan sangat menjaga privasi mereka. Orang-orang super tajir tahu siapa mereka dan sepenuhnya sadar banyak yang ingin mendekati mereka. Jadi, mereka enggak langsung akrab sama orang asing, tapi mereka enggak pernah menyinggung perasaan orang asing.

Tapi, mereka juga sangat demanding karena mereka rela merogoh kocek buat dapat hasil maksimal. Mereka mengharapkan hasil yang sempurna. Kalau ada yang salah dan mereka enggak suka hasilnya, kamu enggak akan diberitahu langsung oleh mereka. Ada perwakilan mereka yang akan menghubungi kamu. Makin tinggi kelas mereka, makin tajir mereka, makin baik perilakunya. Pokoknya beda banget sama seleb Amrik lah. Aku suka gerah dengan perilaku brengsek seleb-seleb ini. Mereka enggak punya kelas. Mereka pikir naik Gulfstream milik sendiri itu udah paling keren. Mereka cuma taik kucing dibandingkan klienku.

Kamu ngomong gini karena pernah motret pesawat pribadi seleb?
Tentu saja, aku mengerjakan potret banyak pesawat seleb.

Boleh tahu seleb mana yang paling brengsek?
Wah itu rahasia. Tapi, aku bisa cerita tentang seleb yang paling baik dan orangnya mungkin Tom Cruise. Pengelola pesawat Tom Cruise kebetulan salah satu klienku. Tom Cruise selalu bilang, "Hei apa kabarmu? Senang bisa ketemu kamu." Cruise sangat menjaga privasinya tapi dia selalu sopan dan bisa meluangkan waktunya.



Kamu dikritik karena bekerja dengan orang yang uangnya didapat melalui cara kurang terpuji. Gimana kamu merespons tuduhan itu?
Ya tinggal diabaikan saja kritiknya. Wong enggak bener kok. The Telegraph bikin artikel yang isinya bilang kalau aku bekerja buat seorang diktator di Afrika. Itu bohong. Aku enggak mau pergi ke negara di mana aku bisa kena tembak, mau setinggi apapun bayarannya. Aku enggak akan mau pergi ke Iran atau Arab Saudi kalau terancam kena timah panas di sana. Bahkan, Arab Saudi adalah negara yang sangat tertutup. Sebuah kelurga kerajaan Arab harus menyetujui permintaan visaku sebelum aku bisa pergi ke sana. Di sana pun, aku ditempatkan di sebuah kompleks perumahan. Aku enggak boleh keluyuran. Tapi ya enggak apa-apa. Dubai dan Uni Emirat Arab sudah mirip seperti negara barat. Jadi, semuanya oke-oke saja. Tapi yang jelas, aku tak mau berurusan dengan diktator gila. Pokoknya enggak deh.

Jadi kamu suka pekerjaanmu?
Gini deh, bisa dibilang aku ini orang yang paling hoki yang pernah berjalan di muka Bumi. Aku sudah menginginkan pekerjaan ini dari umur 20 tahun dan bikin orang tua kecewa dan keki, karena aku "cuma" jadi fotografer. Toh aku masih terus motret sampai sekarang. Kalau boleh jujur, aku paling bahagia kalau sedang motret.

Wawancara dilakukan oleh Julian Morgans. Temukan wawancara ngehe seperti ini di Twitter atau Instagram Julian

Jangan lupa, kunjungi website Nick untuk melihat karya-karya fotonya yang lain.

More VICE
VICE Channels