UFO

Bertemu Para Pemburu UFO di Indonesia

Komunitas BETA-UFO, yang berdiri sejak 1997, menyatakan penduduk Indonesia lebih percaya kuntilanak dan leak daripada alien. Mereka mengklaim kajian UFO didukung oleh angkatan udara. Benarkah?
23 Agustus 2017, 10:35am
Arief Hidayat dari Komunitas BETA-UFO. Semua foto oleh penulis.

Kita mungkin segera menoleh dan tertarik menyimak, saat mendengar kawan menceritakan pengalaman bertemu hantu kuntilanak di kebun belakang rumah. Tapi, coba saja bilang sekian malam sebelumnya mereka diculik alien, seperti apa responsmu? Bila kamu sukses menahan diri, tidak memaki kawanmu, menganggapnya gila, atau menduga dia lagi teler, itu sudah lumayan baik.

Negara ini memang unik. Indonesia punya banyak stok cerita populer absurd. Mulai dari video kubah masjid yang bisa terbang berkat bantuan jin, bermacam jenis hantu dari Sabang sampai Merauke, lintasan cahaya malam hari yang bisa memaksa orang bunuh diri, ah, banyak banget deh. Jadi apa salahnya sih, menambahkan UFO—alias benda terbang tak dikenal masuk dalam khazanah kepercayaan lokal?

UFO sekilas macam isu yang tidak terlalu berpijak di Indonesia, walaupun di banyak negara belakangan kepercayaan terhadap alien dan UFO ngetren lagi. Malah kuntilanak jauh lebih masuk akal bagi sebagian orang, daripada kisah satu desa didatangi alien yang hendak melakukan eksperimen. Itulah pandangan yang terus dilawan kelompok Benda Terbang Aneh (BETA)-UFO. Mereka adalah komunitas di Tanah Air yang sudah selesai mempertanyakan UFO itu ada atau tidak. Bagi mereka, yang lebih penting didalami adalah satu spekulasi spesifik: tujuan UFO ke bumi itu niatnya baik atau buruk?

Topik obrolan itulah yang kudengar selama lebih dari setengah hari ngumpul bareng belasan orang di Gedung Tupperware, Cilegon, Banten, awal bulan ini. Saat itu hari kerja, tapi para pemburu UFO seakan punya dunianya sendiri. Arief Hidayat, salah satu anggota senior Komunitas BETA-UFO Indonesia datang sebagai narasumber diskusi bertopik 'lokasi terbaik mencari alien'. Arief menyajikan gambar-gambar besarnya kemungkinan ada UFO, mengingat galaksi Bima Sakti, lokasi bumi berada, hanya seuprit dibandingkan jumlah galaksi yang ada di semesta ini.

Semua obrolan siang itu sama sekali tak terasa aneh. Begitulah yang diyakini, Arief. Aku menemuinya di sela-sela sesi diskusi resmi. Lelaki di usia kepala tiga yang sehari-harinya bekerja sebaga pegawai pajak ini bersemangat menuturkan data kemunculan UFO di Indonesia. Sampai kemudian satu peserta mengangkat tangan dalam sesi tanya jawab.

"Saya sulit percaya ada UFO. Soalnya saya belum pernah melihat sendiri," ujarnya.

Arief tersenyum. Dia tampak terbiasa mendapat pertanyaan semacam itu. "Tidak apa-apa, kalau kamu memang belum pernah melihat UFO, tapi dari presentasinya, silakan dibayangkan saja galaksi kita ini cuma kecil," balasnya.

Menurut klaim Arief, bukti-bukti kedatangan mahluk asing di negara ini lebih dari cukup. Sejak dekade 1950-an, laporan adanya aktivitas UFO di Indonesia itu banyak sekali, terutama di Pulau Jawa dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Sayangnya, menurut Arief, orang Indonesia menganggap benda terbang asing itu sebagai fenomena mistis. "Misalnya ada laporan tentang UFO terlihat di Bali gitu, orang bilang "Oh, itu Leak", kalau di Kalimantan 'Oh, itu Kuyang'," ujarnya. "Itu adalah problem yang kita hadapi karena mereka bisa saja bilang 'yang kamu lihat bukan UFO tapi santet."

Arief menunjukkan betapa luasnya galaksi untuk membuktikan besarnya peluang UFO ada di dunia kita.

'Kedatangan' alien paling monumental di Indonesia, merujuk catatan BETA-UFO, adalah pendaratan sebuah obyek luar angkasa pada 1959 di Kepulauan Alor, Nusa Tenggara Timur. Berdasarkan laporan warga setempat, muncul enam makhluk asing yang menampakkan diri di hadapan penduduk. Mahluk-mahluk itu dikejar polisi. Dalam pengejaran itu, sempat juga terjadi penembakan oleh aparat. Bersamaan dengan datangnya mahluk dari langit itu, beberapa anak di kampung Alor hilang. Tidak ada arsip berita dari media massa era itu yang bisa kutemukan buat mengonfirmasi peristiwa tersebut, kecuali data-data dari komunitas penggila UFO Indonesia. Arief benar-benar yakin peristiwa itu terjadi. Terutama, karena adanya satu sosok ini: Raden Jacob Salatun.

Ketika banyak orang mengabaikan cerita UFO di Alor, pilihan berbeda diambil Salatun, pilot penerbang Angkatan Udara TNI. Salatun mencatat laporan itu sebagai bukti keberadaan UFO. Dia adalah sosok yang merancang pendirian Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). Dekade 60-an, Salatun ditunjuk pemerintah menjadi ketua LAPAN.

Salatun rupanya sejak lama terobsesi pada UFO. Saat menjadi pilot, dia mengaku pernah menyaksikan sendiri piring terbang melintas. Salatun lantas menyelidiki cerita aneh di Alor, serta obyek tak dikenal yang mendatangi Surabaya yang terjadi pada 1960. Setiap kasus mengenai UFO dicatat. Pilot alumnus US Armed Forces Information School itu akhirnya menjadi penulis buku UFO pertama di Indonesia, judulnya Menjingkap Rahasia Piring Terbang. Tak hanya itu, Salatun turut mendirikan Kelompok Studi UFO Indonesia, mempopulerkan kajian alien ini ke masyarakat luas. Sampai meninggal pada 3 Februari 2012, Salatun tetap mempercayai UFO.

Bagi komunitas BETA-UFO, Salatun merupakan patron yang harus ditiru. Dialah 'Bapak UFO Indonesia'. Dengan cita-cita meneruskan kajian Salatun, komunitas BETA-UFO dibentuk pada 1997. Fokusnya kini berganti, menjalin jejaring para pemburu UFO melalui forum Internet. "Awal pendiriannya karena sama-sama menyukai UFO, berinisiatif membuat komunitas sendiri dan khusus tentang UFO," ucap Nur Agustinus selaku ketua BETA-UFO Indonesia. "Saat ini ada lima cabang komunitas ini di kota-kota besar Indonesia, dan kami intens berkomunikasi lewat Internet."

Mereka yang tergabung di BETA-UFO berasal dari bermacam-macam latar belakang dan usia. Ada yang kuliah di jurusan astronomi, ekonomi, teknik, hingga IT. Nur, yang kini menggeluti profesi psikolog, jatuh cinta pada UFO ketika masih belia. "Tahun 1979, saat itu saya masih kelas 2 SMP. Saat itu saya sudah suka astronomi. Waktu itu ada penampakan UFO di New Zealand yang diberitakan oleh surat kabar nasional," ujarnya.

Nur menjelaskan, BETA-UFO Indonesia tak hanya mengandalkan jaringan dalam negeri. Mereka telah bekerja sama dengan pengamat UFO di Belanda, kemudian dari Italia. Topik yang mereka dalami tidak hanya melulu piring terbang dan alien. "Ada juga tentang USO (Unidentified Some Object), kalau UFO kan benda terbang yang aneh, sementara USO itu benda yang ada di dalam air," ungkap Nur.

Di Indonesia justru yang lebih sering dijumpai adalah benda-benda dalam air yang misterius. "Banyak pelaut yang mengatakan atau menyebutnya sebagai 'hantu laut', BETA-UFO sempat mewawancarai beberapa kapten kapal, mereka mengatakan pernah menjumpai hal-hal aneh saat di laut," imbuh Nur.

Mengingat topik yang mereka dalami terhitung kontroversial, bahkan absurd bagi sebagian kalangan, sangat biasa jika ada banyak tentangan atau hinaan dialami para anggota dapat dari orang-orang. Termasuk keluarga dekat. "[Kami] dianggap aneh," kata Arief sambil tertawa.

Adapun Nur mengaku cukup beruntung dibanding pemburu UFO lainnya, yang mungkin mendapat pengalaman tidak menyenangkan. Keluarganya tak pernah mempermasalahkan minatnya mendalami isu-isu UFO. "Waktu SMA saya menerbitkan majalah UFO bernama OMEGA (Organisasi Masyarakat Eksplorasi Gejala Antariksa), di-support ayah saya. Ayah saya seorang wartawan," ujarnya.

BETA-UFO optimis aktivitas mereka memburu alien lambat laun disambut positif masyarakat. Parameternya adalah kesaksian penduduk Indonesia dari berbagai wilayah, yang terus mereka dapatkan sampai sekarang. Arief termasuk yang percaya benda terbang misterius akan diterima sebagai fenomena alam biasa dan banyak orang tak keberatan lagi berbagi pengalaman menakjubkan tersebut.

"Sebenarnya banyak pengalaman-pengalaman seperti itu [di Indonesia]," ujarnya. "Hanya orang takut atau malu untuk cerita."

Arief sendiri punya alasan pribadi, yang dia pegang sejak lama, sehingga terus tekun mendalami hobi mempelajari UFO. Alasan ini yang membuatnya tak peduli dianggap gila oleh orang sekalipun.

"Kalau kita melihat alam semesta yang luas ini, rasanya akan sangat sayang sekali kalau hanya ada kehidupan di bumi."