Fashion

Ketika Sneakers Kolaborasi Desainer Abal-Abal Lebih Keren dari Sepatu Asli

Sneakers palsu hasil kolaborasi merek terkenal ini bagaikan mimpi jadi nyata. Masalahnya cuma satu: sepatu-sepatu itu produk tiruan—hasil kreativitas bootleger.

oleh Tyler Watamanuk
03 April 2018, 6:55am

Foto ilustrasi oleh Tyler Watamanuk.

Artikel ini pertama kali tayang di GARAGE

Kalau kamu pintar mencari barang bagus, kamu bisa membeli sepatu sneakers tiruan yang tampak asli hasil kolaborasi terbaru dari rumah mode Perancis Balenciaga dan label streetwear Off-White dengan harga miring. Kamu juga bisa membeli sepatu sneakers terbaru Gucci x Adidas atau Yeezy Boost Kanye West berlogo Supreme.

Meskipun kolaborasi ini tidak resmi ada, tapi itu tidak menghentikan niat bootlegger untuk membuat impian para bootlegger menjadi nyata.

Seperti yang selama ini kita ketahui, barang palsu sengaja dibuat menyerupai aslinya. Bisnis pemalsuan barang, pasar global gelap yang diperkirakan bernilai $460 miliar atau setara dengan Rp6,3 kuadriliun, telah lama menjadi ancaman terbesar bagi industri fesyen. Mereka mengganggu rantai pasokan, mencuri penjualan, dan memperburuk reputasi merek. Namun, bisnis ini tidak pernah ada matinya karena banyak konsumen menginginkan barang palsu yang terlihat asli. Lalu, mengapa para pengikut tren mode rela menghabiskan uangnya demi sepatu sneakers palsu?

Bagi kamu yang awam, para sneakerhead senang memposting foto editan Photoshop yang menampilkan “contoh” hasil kolaborasi antar merek dan gaya rumah mode yang tidak mungkin bekerja sama di dunia nyata. Ide kreatif para komunitas pecinta sneakers di internet ini (yang selalu berusaha mengungguli ide orang lain) disulap menjadi fenomena nyata di dunia. (Popularitasnya didukung oleh banyaknya orang yang membuat foto editan kolaborasi tersebut.)

Foto-foto editan ini sudah diunggah sejak lama di forum sneakers seperti NikeTalk dan situs DeviantArt, tapi berkat Instagram, kepopulerannya semakin meningkat karena mendapat ribuan likes yang membuat mereka muncul di laman explore dan dilihat semakin banyak orang. Kegiatan iseng-iseng ini malah berkembang menjadi industri terbatas, seperti The Shoe Surgeon dan Ceeze yang mengubah foto-foto editan tersebut menjadi barang asli yang bisa kita beli. Namun tentunya mereka membutuhkan waktu lama dan keterampilan luar biasa untuk menciptakan sepasang sepatu yang langka ini.

Sekarang konsumen bisa menelusuri situs web e-commerce yang tampak asli (tapi masih tidak sah) yang menampilkan ratusan desain sepatu tiruan (seperti sepatu sneakers Balenciaga x Off-White yang dijelaskan di atas). Kamu juga bisa langsung membelinya dalam beberapa kali klik saja. Harga sepatu tiruan ini berkisar di antara US$70 sampai US$180 (Rp963 ribu sampai Rp2 juta) dan proses pengiriman membutuhkan waktu dua bulan. Tidak masalah menunggu asal bisa mendapatkan sepatu sneakers hasil kolaborasi yang tidak pernah terjadi. Pabrik-pabrik Cina lah yang menjadi produsen sepatu sneakers tiruan ini.

Contoh sneakers LV x Supreme abal-abal.


Dalam menciptakannya, entah mereka mendekonstruksi dan merekayasa sepatu asli, atau mendapatkan akses ke blueprint asli dan rahasia pembuatan. Setelah sepatu selesai dibuat dan dijual secara online, sepatu palsu ini akan dikirim dalam kotak sepatu biasa oleh kurir internasional rahasia.

Popularitas industri pasar gelap ini muncul berkat meningkatnya ketenaran sneakers dalam streetwear dan fesyen kelas atas. Para pembuat sepatu palsu menggunakan alat pemasaran Facebook dan Instagram dalam menargetkan calon konsumen. Forum “Replica Sneakers” di Reddit mengalami peningkatan subscriber dari 10.000 menjadi 71.000 orang dalam kurun waktu dua tahun. Selain mudahnya mendapatkan sepatu palsu berkualitas, ada beberapa alasan terbesar yang membuat mereka laku di pasaran: perbedaan tipis antara asli dan palsu, kualitas tinggi dan rendah, bagus dan tidak bagus.

Salah satu koleksi terbaru Alessandro Michele untuk Gucci menjual replika kaus Gucci palsu populer yang biasa kamu temukan di pasar-pasar kaget di jalanan. Desainer Mike Cherman, di bawah nama julukan Chinatown Market untuk semi-bootlegnya, dengan sengaja merilis tas tangan palsu Supreme x Louis Vuitton yang disanjung-sanjung dalam fitur Style New York Times. Selain itu, Balenciaga dan Vetements pernah memadukan fesyen, barang tiruan dan parodi untuk meniru logo pihak ketiga seperti politikus dan kurir ekspedisi dengan bantuan Demna Gvasalia. Drake pun pernah menambahkan sepatu sneakers kustom “hasil kolaborasi” Air Jordan dan Stone Island (sebuah kolaborasi yang tidak pernah terjadi sebelumnya) ke dalam koleksi pribadinya. Ini membuat fesyen bajakan dan tidak resmi, yang tidak pernah diberi sanksi, menandingi kedudukan merek asli sebagai suatu tren kekinian pecinta fesyen.

Ini sneakers Gucci palsu.

Contohnya seperti sepatu sneakers Triple S Balenciaga, yang tampaknya sedang populer saat ini. Tampilannya yang tebal dan besar mudah dikenali dan sangat menggambarkan tren fesyen yang aneh dan jelek. (Selain itu, harganya berkisar $800 atau Rp11 juta.) Untuk meningkatkan ketenaran sepatu ini yaitu dengan menambahkan motif sketsa Virgil Abloh yang sangat terkenal itu. Para pembuat barang palsu yang jago internet memahami ini. Mereka lebih tahu apa yang diinginkan pecinta sneakers daripada bootlegger terdahulu. Sebuah situs web menawarkan replika koleksi Abloh “ The Ten” yang dibanggakan dalam model sneaker yang tidak pernah Nike buat, bahkan melakukan hal serupa pada sepatu Adidas Kanye West—yang bisa dibilang sepatu “saingan”.

Para bootlegger mungkin membuat sepatu bergaya beda, tapi mereka tidak pernah lepas dari merek-merek terkenal seperti: Nike, Adidas, Supreme, Gucci, Off-White, Balenciaga, dsb. Mereka mencampur tren dan merek dengan pemahaman streetwear dan fesyen kontemporer untuk memberikan apa yang diinginkan para pecinta sneakers. Ini mengingatkan pada karya awal Daniel “Dapper Dan” Day, pembuat barang palsu ikonik dan penjahit berpengaruh di era 1980an yang menciptakan ulang tas koper menjadi jaket yang mewah dan menciptakan logonya sendiri untuk pelanggan hip-hop dan atlet di toko Harlem-nya. Day menyajikan produk yang tidak ada sebelumnya dan ditolak oleh merek-merek high-end, tapi pelanggannya menerima karyanya itu. Pada bulan ini, dua dekade setelah butiknya dituntut, Gucci dan Day membuka studio bersama di Harlem, N.Y., langkah terbarunya dalam kerja sama resmi yang dimulai tahun lalu sejak Gucci dituntut menjiplak desain Day.

Ini lagi, produk abal-abal Yeezy x Off-White sneakers.

Ada permainan kekuasaan di industry fesyen sekarang ini: bootlegger, desainer otodidak, dan influencer “gadungan” menciptakan karakter budaya yang lebih unik dan mendalam dibanding era sebelumnya. Internet menyajikan sarana kreatif dan komunikasi bagi mereka yang dulunya memiliki akses terbatas. Mungkin pecinta fesyen dulu tidak pernah ketangkap basah memakai barang palsu, tapi beberapa tahun yang lalu, memakai barang tiruan (sengaja atau tidak) juga sempat dianggap faux pas bagi pecinta fesyen generasi muda.

Sekarang kita hidup di dunia “palsu” yang penuh dengan fesyen mewah, desain mencolok, dan konsumen yang tergila-gila dengan logo. Yang penting sekarang adalah kelangkaan dan keeklusifan, tidak peduli barangnya asli atau tidak. Ada sneakerhead yang ingin dianggap keren karena memiliki sepatu langka dari merek favoritnya; tidak peduli sepatunya itu asli atau tidak. Hanya mereka dan bootlegger yang tahu.