Kuliner

Cara Menikmati Makanan Ketika Hidungmu Tak Bisa Mencium Apa-Apa

Kami bertanya kepada pengidap gangguan penciuman bagaimana mereka menjalani kesehariannya jika tidak bisa membaui aroma apa pun.

oleh Yoran Custers; Diterjemahkan oleh Mari Meyer
19 April 2018, 10:24am

Illustration by Sander Abbema

Artikel ini pertama kali tayang di MUNCHIES Belanda.

Apabila kamu merasakan “head cold” atau selesma dan hidungmu meler tanpa henti, itu artinya indra penciumanmu juga terganggu. Rasanya sangat tidak enak kalau tidak bisa membaui, karena kamu juga tidak bisa menikmati makanan seperti biasanya. Indra penciuman kita berperan penting pada indera pengecapan. Tanpanya, kita hanya bisa mengecap rasa dasar seperti manis, asam, asin, pahit dan umami (gurih). Bagaimana dengan rasa lainnya yang butuh indera penciuman? Kamu tidak bisa lagi merasakannya.

Kamu menjadi tidak selera makan kalau tidak bisa membaui aromanya. Makanan enak jadi tidak enak. Segurih apa pun rasanya, yang terasa malah hambar.

Lalu, bagaimana caranya menikmati makanan ketika sedang mengalami head cold? Beberapa pengidap gangguan penghidu menjawabnya dengan baik. Orang dengan gangguan ini tidak bisa membaui sama sekali, atau indra penciumannya rusak. Contohnya seperti penderita kakosmia. Mereka sering mencium bau busuk meskipun sebenarnya tidak ada bau apa-apa. Ada beberapa yang terlahir dalam kondisi ini, sedangkan ada juga yang mengalami perubahan setelah mengalami infeksi atau cedera kepala.

Kami bertanya kepada beberapa penderita gangguan penghidu bagaimana mereka menikmati makanan meski tidak bisa membaui aroma.

Julie Velthoven (20), yang tidak bisa membaui apa pun sejak lahir

MUNCHIES: Sejak kapan kamu sadar kalau tidak bisa mencium apa-apa?
Julie Velthoven: Saya baru sadar sejak masih SD waktu belajar lima alat indera. Mata kami ditutup dan harus mengendus bau rempah-rempah, setelah itu kami disuruh menebak bau apa itu. Jawaban saya salah semua. Setelah menjalankan berbagai pemeriksaan, saya didiagnosis mengidap anosmia. Saya sempat khawatir, tapi merasa jauh lebih baik setelah tahu apa yang terjadi. Saraf saya tidak bisa mengubah rangsangan menjadi bau-bauan.

Apa yang kamu sadari saat sedang makan?
Saya hanya merasakan rasa dasar. Saat makan permen rasa buah, saya cuma bisa merasakan manis. Kalau saya lagi jalan sama teman dan lewat di depan toko roti, aromanya membuat mereka lapar. Tapi saya tidak mencium apa-apa. Begitu juga waktu lewat tempat dengan bau busuk.

Selera makan saya tidak besar, tapi saya suka memasak. Masakannya yang mudah-mudah saja sih. Contohnya, saya tidak tahu jinten itu gunanya untuk apa. Saya juga pernah kelupaan matiin gas pas sedang masak. Ini baru kejadian kemarin. Teman satu kos sampai nanya, “kamu habis masak ya?”

Apa kamu punya saran untuk orang-orang yang tidak bisa mengecap apa-apa?
Kalau saya sih, saya memilih makanan dengan tekstur unik. Sushi menarik, misalnya, karena ia memiliki tekstur berbeda-beda. Dan secara umum, makanan yang garing enak. Bukan berarti kamu harus menggoreng semuanya. Biasanya makanan lembek seperti asparagus rebus atau kerang gak cocok buat saya. Kalau saya memesan pasta, saya tidak akan pernah memesan yang licin seperti saus karbonara, tapi saus tomat dengan sayuran dan daging.

Saya juga senang menambahkan bumbu-bumbu ke makanan saya, seperti sambal. Jadi, saya bisa merasakan sensasi tersendiri di hidung saya, meski orang-orang bilang ini gak ada hubunganya dengan cara kita membaui sesuatu.

George Dooper (41), yang tidak bisa membaui apa pun atau hanya bisa membaui wangi-wangian terdistorsi

MUNCHIES: Sudah berapa lama kamu memiliki kondisi ini?
George Dooper: Dua setengah tahun lalu, saya mengalami kecelakaan motor dan terjatuh. Bagian belakang kepala saya menghantam apal. Saya menyadari makanan di rumah sakit gak ada rasanya, tapi saya tidak berpikir macam-macam. Enam minggu kemudian, saat saya di rumah bareng pacar saya, makan roti dan keju, saya menyadari pasti ada yang salah. Gorgonzola punya rasa yang amat kuat, tapi saya tidak merasakan apa-apa. Ternyata indra penciuman saya mengalami kerusakan.

Kamu bisa bayangkan “sensor penciumanmu” setipis kabel yang terbentang dari hidung ke otak. Sebagian sensor saya masih bagus, tapi yang lainnya sudah rusak. Dan sebagiannya telah tersambung ulang di bagian yang berbeda. Karena itu saya mengalami penciuman dengan cara berbeda. Asap rokok dan knalpot, misalnya, tercium asam bagi saya, sulit dideskripsikan. Saya menyadari bahwa saya mengasosiasikan bau itu dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. Kalau steak hangus di bagian sisinya, saya bisa mencium itu dengan lebih intens dari yang sebelum-sebelumnya. Kuat banget sampai-sampai saya gak bisa merasakan steaknya.

Jadi menurutmu kecelakaan tersebut membuatmu lebih sulit makan?
Secara umum, makanan jadi terasa lebih enak atau lebih menjijikan. Saya gak suka cokelat kecuali yang vanila, karena gak mengandung kokoa. Pisang terasa aneh, kayak udah basi. Sebel sih tapi saya mencoba menggunakan situasi ini sebagai cara menemukan kembali apa yang saya suka dan tidak suka. Saya selalu menikmati eksperimen dengan makanan, dan saya berupaya membuat makanan saya menarik lagi.

Saran apa yang ingin kamu berikan pada orang lain dengan kondisi ini?
Saya mencoba menstimulasi indra pengecap saya. Saya memasukkan nanas ke dalam sauerkraut dan kentang tumbuk jadi ada rasa lebih. Saya juga memasukkan potongan-potongan bacon supaya masakan lebih asin. Saya juga mencoba hal-hal baru dengan pencuci mulut, seperti memasukkan kelapa parut atau saus karamel.

Sekarang, saya menikmati wine yang rasanya lebih berat dan lebih kuat. Saya menemukan satu wine yang punya sedikit rasa hangat, enak banget. Dan saya cuma minum bir herbaceous.. Saya gak pernah suka bir Belgia, tapi sekarang saya jadi doyan. Ya beginilah kehidupan saya sekarang.

Joke Boon (56), penulis buku resep yang kehilangan indra penciumannya saat masih kecil

MUNCHIES: Kamu gak bisa mencium apa-apa, tapi kamu masih menulis buku resep ! Kamu pasti punya saran yang lumayan bagus untuk orang-orang dengan infeksi sinus.
Joke Boon: Saat kita merasakan makanan, semua indra ikutan—jadi dipakai aja! Kamu bisa mengecap, merasakan, dan mencium makanan. Selain itu, kamu juga bisa melihat dan mendengarnya. Saat kamu menggigit sesuatu, kamu bisa mendengarnya. Jadi saat kamu menggigit sesuatu, kamu bisa mendengar suaranya, dan kamu jadi tahu soal teksturnya. Kacang walnut bunyinya berbeda dari kacang hazelnut.

Kok bisa?
Walnut lebih berlemak, jadi mereka menghasilkan suara yang lebih nyaring saat digigit. Hazelnut bunyinya teredam.

Bagaimana dengan aspek visual? Bagaimana makanan bisa lebih menstimulasi bagi mata?
Pilihlah warna-warna tertentu. Kalau kamu merasa tidak berenergi, pilih sesuatu yang berwarna kuning, merah, atau oranye. Ini adalah warna-warna yang lezat dan menyennangkan, dan kamu jadi lebihs emangat. Saya rasa saya makan semua warna dalam sehari.

Ada banyak faktor dalam hal merasakan makananmu. Piringmu, gelasmu, saya gak suka minum air dari cangkir. Musik yang mengiringi proses makan juga berpengaruh. Kalau kamu memasang musik yang temponya cepat, kamu makan lebih cepat dan kamu tidak mengalami makanan tersebut. Juga lebih sulit merasakan makanan yang panas. Tempratur juga berpengaruh, karena sambal yang pedas bisa menstimulasi hidungmu.

Apakah kamu bisa membuat satu makanan yang memenuhi segala saran itu?
Dalam salah satu buku saya, saya punya resep masakan sop ayam merah jambu, yang mengandung bit. Saya juga menggunakan akar jahe dan cabe merah untuk kaldunya, jadi lebih pedas.

Apakah ada makanan yang tidak bisa kamu nikmati?
Ya, semantik sangat penting bagi saya. Kalau suatu makanan terdengar menjijikan, saya biasa tidak suka memakannya. Seperti sosis darah, atau keju berjamur. Atau lidah. Suami saya makan itu semua—suami saya makan apa aja. Tapi saya gak bisa membayangkannya. Lidah—hii jijik!