The VICE Guide to Right Now

Festival di India Menantang Gagasan Bodoh Bahwa Menstruasi Adalah Tabu

Perempuan dari India dan Nepal menggelar unjuk rasa sekaligus bertanding bola, demi menghancurkan prasangka seputar menstruasi di negara mereka.

oleh Shamani Joshi
21 Mei 2019, 7:07am

Foto aksi menolak diskriminasi perempuan yang haid di India via Wikimedia Commons 

Sebagai perempuan yang tumbuh besar di India, sejak kecil aku terbiasa disuruh tutup mulut soal semua pembicaraan terkait masa haid. Selain menderita pegal setiap bulan, aku kesel karena dokter selalu memaksaku membungkus pembalut pakai koran. Dan keluargaku menyuruhku diam saja kalau aku lagi "dapet" di tengah upacara keagamaan.

Diriku yang agnostik sebenarnya senang kalau enggak boleh ikutan sembahyang karena datang bulan. Tetapi bagi banyak perempuan di India, akibat maraknya tabu seputar menstruasi seringkali membuat hidup mereka jauh lebih menderita.

Stigma datang bulan di Negeri Sungai Gangga telah menarik perhatian berkat film-film dokumenter yang memenangkan penghargaan Oscar. Soalnya, dibanding negara lain, tabu soal menstruasi di India dan Nepal memang parah banget sih. Kalian mungkin pernah mendengar larangan praktik Chhaupadi di Nepal yang mengharuskan perempuan yang sedang menstruasi diusir ke hutan. Walau sekarang dilarang pemerintah, warga di pedesaan masih menjalankan pengusiran macam itu diam-diam.

Oleh karena itu, festival menstruasi di India berupaya melawan tabu tersebut. Acara ini sudah digelar di tahun ketiganya. Namanya Maasika Mahotsav, festival yang merayakan datang bulan dan semua orang yang mengalaminya dari 21 sampai 28 Mei.

Festival ini juga akan dirayakan di Nepal untuk pertama kalinya. Acara ini adalah bagian dari proyek ‘A Period of Sharing’ oleh Nishant Bangera dan Amritha Mohan, pendiri Yayasan Muse berbasis di Mumbai. Tujuannya adalah membuka diskusi mengenai menstruasi dan menormalisasikannya.

"Ketika perempuan bermenstruasi asal Tamil Nadu masih meregang nyawa karena diusir dari rumah di tengah badai, ketika masih ada adat Chhaupadi, maka masih butuh waktu panjang sebelum budaya kita bebas dari tabu soal menstruasi. Kami dari gerakan ‘A Period of Sharing’ bertujuan mencapai itu: dunia bebas tabu haid," ujar Bangera saat diwawancarai The Times of India.

Festival ini bekerjasama dengan LSM Hope of Life di Nepal dan berbagai LSM lainnya di Maharashtra, Gujarat, Madhya Pradesh, Karnataka, Uttar Pradesh, West Bengal, Assam, dan Sikkim. Masing-masing kota menggelar kegiatan khusus dan akan menawarkan berbagai workshop kesenian, tari, dan musik pada hari terakhir.

Pranav Trivedi, relawan ‘A Period of Sharing’, mengatakan pada media bahwa di Mumbai, para peserta menonton drama komedi yang membahas mitos-mitos mengelilingi menstruasi. "Suku pedalaman dari hutan Aarey akan melakukan tari tarpa. Akan digelar juga acara bersepeda dan pertandingan sepak bola perempuan," ujarnya.

Di Uttar Pradesh, para perempuan akan beraksi di jalanan untuk menuntut kebebasan untuk membicarakan menstruasi agar ternormalisasi, sedangkan di Sikkim para peserta akan membahas datang bulan di kafe-kafe. Darjeeling akan melaksanakan lomba lari, sementara Madhya Pradesh akan bermain game.

Acara ini terbuka untuk semua orang, termasuk laki-laki dan kaum transgender. Tak heran bila tujuan festival ini adalah menghancurkan gagasan bila perempuan bukan manusia sempurna, dan karena itu harus diusir atau dilarang beraktivitas, hanya karena dia menstruasi.

Follow Shamani Joshi di Instagram.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE India