Iklan
Budaya Pop

Anak Bruce Lee Kecewa Sama Film Tarantino 'Once Upon a Time in Hollywood'

Dia percaya penggambaran mendiang Bruce Lee di film itu telah "mengabaikan warisan" aktor laga legendaris tersebut.

oleh Meera Navlakha; Diterjemahkan oleh Jade Poa
31 Juli 2019, 9:43am

Cuplikan adegan film terbaru Quentin Tarantino Once Upon a Time in Hollywood

Quentin Tarantino membikin banyak orang kagum dengan film terbarunya Once Upon a Time in Hollywood. Dibintangi Brad Pitt dan Leonardo DiCaprio, film ini mendalami gemerlap Hollywood pada dekade 60-an, lengkap dengan geliat Playboy Mansion, kaum hippie, dan konsumsi narkoba ugal-ugalan. Film tersebut meraup US$16,8 juta sehari setelah tayang, yang membuatnya film Tarantino dengan pendapatan debut terbesar. Kritikus bahkan menyebut film ini sebagai karya Tarantino terbaik setelah Pulp Fiction. Namun, film ini menuai ulasan negatif dari satu sosok penting: anak mendiang Bruce Lee.

Bruce Lee, aktor Amerika kelahiran Hong Kong, sangat dihormati sebagai pakar seni bela diri dan pelopor munculnya aktor keturunan Asia di Hollywood. Namun, menurut Shannon Lee, penggambaran ayahnya di film terbaru Tarantino tidak sesuai dengan kepribadian aslinya. Bruce Lee digambarkan seperti "lelaki bangsat dan sombong yang cara ngomongnya kasar". Karenanya film ini membuatnya "kecewa," kata Shannon kepada The Wrap.

Bruce, yang diperankan aktor Korea-Amerika Mike Moh, muncul di salah satu adegan ketika dia mengajak tokoh yang diperankan Brad Pitt, Booth, bertengkar. Dia mengalahkan Booth pada babak pertama, tetapi selanjutnya takluk pada Booth di babak kedua.

Shannon bilang sosok Bruce di film ini lebih menyerupai karikatur dan tidak menyoroti sikap mendiang sang ayah semasa hidup. Alasannya, Bruce berupaya keras menghindari pertengkaran sia-sia. Shannon juga berpendapat sebagai aktor keturunan Asia yang meniti karir pada dekade 60-an, ayahnya harus bekerja jauh lebih keras daripada aktor-aktor kulit putih untuk mencapai kesuksesan.

Shannon mengaku Hollywood pada masa 60-an penuh "rasisme dan hambatan", tetapi menurutnya sosok Bruce di Once Upon a Time in Hollywood tidak tampak seperti seseorang yang "harus berjuang tiga kali lebih keras untuk mencapai hal-hal yang didapat begitu saja kepada yang etnis lain."

"Saya mengerti sutradara ingin menampilkan tokoh Brad Pitt sebagai badass yang sanggup mengalahkan Bruce Lee," kata Shannon. "Tapi mereka tidak harus memperlakukannya sama seperti Hollywood memperlakukannya saat ia masih hidup."

Selama karirnya, Bruce sempat ditolak sejumlah direktur casting, bahkan dia pernah tak lolos memerankan tokoh keturunan Asia. Sutradara zaman itu lebih memilih aktor kulit putih yang pura-pura menjadi orang Asia. Bruce perlahan diterima para petinggi rumah produksi pada akhir tahun 60-an, ketika film-film seni bela diri Hong Kong menarik perhatian Hollywood.

Bruce akhirnya mencapai puncak karirnya dan berhasil mengubah pandangan terhadap orang Asia di Amerika Serikat. Pada 1999, Majalah TIME menyebutnya sebagai salah satu orang paling berpengaruh pada abad ke-20, berjarak 26 tahun setelah ia meninggal. TIME menjulukinya "santo bagi pemuja kultus olah tubuh". Berkat bakat penguasaan diri, disiplin, dan kekuatan fisik, di Barat maupun Timur, Bruce Lee menjadi bagian ikonik kebudayaan populer.

Shannon merasa dalam Once Upon a Time in Hollywood, warisan penting Bruce "dibuang begitu saja." Bagi Shannon dan penggemar Bruce, aktor legendaris itu seharusnya terus dikenang sebagai sosok yang tidak suka pamer.

Ikuti Meera di Twitter dan Instagram .

Artikel ini pertama kali tayang di VICE ASIA.