Iklan
media sosial

Kampus di Jakarta Buka Jalur Masuk Tanpa Tes untuk YouTuber

Kreator konten dengan subscriber 10K bisa jadi mahasiswa UPN Veteran Jakarta lewat jalur prestasi. Tapi, pengamat pendidikan bingung, apa relevansi jumlah subscriber sama kegiatan perkuliahan?

oleh Ikhwan Hastanto
17 Juni 2019, 6:34am

Foto via Shutterstock

Saya menyesal beberapa tahun lalu pernah menertawakan sebuah buku yang saya temukan di Gramedia berjudul Aku Ingin Menjadi Youtuber. Saya pikir buku ini cuma contoh aji mumpung bagaimana industri penerbitan memanfaatkan populernya YouTube yang tahun 2017 itu penggunanya sudah mencapai 50 juta. Eh, dua tahun berselang sebuah perguruan tinggi negeri membuka jalur masuk tanpa tes untuk calon mahasiswa yang punya prestasi sebagai YouTuber. Saya bisa mendengar penerbit buku itu menertawakan saya sekarang.

Adalah Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ) yang muncul pertama kali dengan kebijakan ini. Seleksi Mandiri (SEMA) UPNVJ tahun ini menyediakan penerimaan jalur prestasi bagi siapa pun yang aktif di YouTube sebagai kreator konten. Syaratnya, si YouTuber harus punya minimal 10 ribu pengikut dan menyediakan konten berkualitas.

Rektor UPNVJ Erna Hernawati mengatakan kebijakan ini dijalankan untuk menyesuaikan kampus dengan semangat revolusi industri 4.0. "Kami ingin mahasiswa-mahasiswa di sini itu termotivasi agar lebih kreatif. Makanya kami beri penghargaan khusus Youtube Creator melalui jalur prestasi," ujarnya kepada Tirto. Asshhiap.

Erna menambahkan, pendaftar jalur ini akan melewati proses kurasi konten ketat oleh tim internal yang dibentuk kampus. Hanya YouTuber dengan konten-konten berkualitas, edukatif, dan berguna bagi masyarakat yang akan dipertimbangkan.

“Tidak ada konten yang abal-abal,” ujar Erna. Apakah konten prank dan pamer kekayaan akan dimasukkan ke dalam kelompok konten abal-abal? Erna tidak menjelaskan sampai sejauh itu.

Menurut We Are Social, per Januari 2019 YouTube adalah website paling banyak diakses sedunia setelah Google. Menurut riset Google di 2018 tentang perilaku pengguna Internet Indonesia, 92 persen dari 1.500 responden menjadikan YouTube tujuan pertama dalam mencari konten video baru. Ketika ditanya intensitasnya, 53 persen menyatakan mengakses YouTube setiap hari.

Sebagai perbandingan, 57 persen responden menyatakan masih menonton televisi setiap harinya. Wah, kalau gitu sebentar lagi YouTube secara kuantitas pemirsaakan benar-benar lebih dari tivi sih.

Jumlah pengguna aktif yang semakin besar juga berimbas pada jumlah kreator konten YouTube Indonesia yang berlipat ganda. Pada 2016 hanya ada dua orang YouTuber Indonesia yang mendapatkan Gold Play Button, penghargaan YouTube untuk kreator dengan subscriber di atas sejuta. Mereka adalah Raditya Dika dan Edho Zell. Setahun kemudian angka itu bertambah menjadi 15 akun, salah satunya atas nama Atta Halilintar. Terakhir, pada 2018, nominal tersebut naik signifikan ke angka 85 akun.

Memang ada kekhawatiran terhadap kebijakan yang mendefinisikan jumlah follower YouTube sebagai bentuk prestasi akademik. Pendiri Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK) Najeela Shihab misalnya, belum melihat argumentasi kuat mengapa YouTuber bisa diijinkan masuk oleh UPNVJ lewat jalur prestasi.

Menurut putri ulama Quraish Shihab ini, seperti dikutip Tirto, jalur prestasi seharusnya diberikan kepada calon mahasiswa dengan prestasi yang berhubungan dengan jurusan atau fakultas yang diinginkan karena lebih berpotensi mendukung keberhasilan kegiatan perkuliahan si mahasiswa. Saya bayangkan Atta Halilintar mungkin bisa juga sih diterima di Jurusan Desain Interior mengingat hobinya menggerebek rumah selebritas.

Hal ini memang bikin pro kontra. Kalaupun benar-benar diterapkan, ya setidaknya langkah ini bikin YouTuber remaja terdorong memperbaiki kualitas kontennya.