Serikat Kerja

Pekerja Seks di Berbagai Negara Mulai Berserikat Demi Industri yang Lebih Adil

Pekerja seks di Britania Raya sudah membentuk serikat resmi karena merasa layanan mereka setara dengan profesi lain.

oleh Jake Hall
28 April 2019, 10:56am

Foto unjuk rasa pekerja seks di Inggris oleh Wiktor Szymanowicz / Barcroft Media via Getty Images 

Memulai serikat di bidang kerjamu adalah upaya sulit, terutama jika sebagian aspek pekerjaan kalian dikriminalisasi aturan negara. Namun, rintangan itu tidak menghentikan pekerja seks di Inggris untuk mulai berserikat, guna memperjuangkan hak-hak mereka. Niat mereka tidak mengendur, sekalipun Britania Raya terhitung memiliki aturan hukum kontradiktif seputar jasa seks, dibandingkan negara-negara Eropa lainnya yang lebih liberal.

Warga negara Inggris diizinkan untuk menukarkan seks dengan uang, tetapi penjaja seks di jalanan sering dikriminalisasi melalui undang-undang yang mengatur ketertiban di ruang publik. Rumah bordil dianggap ilegal, dan hukum di sana akan dengan seenaknya menggerebek dan mempersekusi pekerja seks hanya gara-gara mereka berbagi tempat untuk layanan seks.

Kolektif advokasi dan lembaga swadaya seperti Decrim Now dan SWARM berulang kali menyerukan pentingnya menghapus kriminalisasi layanan seks berbayar. Karena seruan itu diabaikan pemerintah, penari striptis—yang pekerjaannya legal—memutuskan berserikat dengan harapan memicu perubahan secara luas di kawasan UK.

Ide membentuk serikat penari striptis pertama kali dicetuskan pada Women’s Strike 2018. Pekerja seks, terutama di Inggris, memainkan peran penting. "Semua ini dimulai dari obrolan kecil saja," kenang Shiri Shalmy, perwakilan dari serikat buruh United Voices of the World (UVW). "Kami lalu menyadari penari striptis sering diklasifikasikan sebagai wiraswasta, padahal kenyataannya mereka harus datang tepat waktu, melakukan pergantian shift, dan definisi kerja mereka diatur secara rigid oleh pemilik bar tari telanjang."

Para penari juga bisa didenda jika mereka tidak masuk shift. Shalmy pun mendengar ada penari telanjang yang dipecat karena mencoba berserikat.

Shalmy bukan penari telanjang, tetapi dia mendukung berdirinya serikat penari striptis sebagai bagian dari perannya di UVW. "Sebagian besar pekerja seks sangat mandiri, tetapi kalau dilihat dari perspektif serikat pekerja, rasanya masuk akal bila pekerja dapat berorganisasi di tempat kerja yang sebenarnya," terangnya. "Serikat ini sepenuhnya dipimpin kolektif oleh anggota; kami tidak menyuruh mereka melakukan sesuatu, dan kami juga tidak merasa lebih tahu tentang industri ini daripada mereka. Kami hanya bertujuan memberi bantuan hukum dan pengalaman berorganisasi."

"Saya yakin setiap penari pernah mengalami diskriminasi. Sama saja seperti perempuan lainnya di tempat kerja mana pun," kata Louise, penari telanjang sekaligus anggota serikat yang baru terbentuk itu, saat diwawancarai Broadly. Dia menyebut beberapa contoh ketidakadilan yang dialami penari telanjang selama ini: kelab sering menolak penari selain yang berkulit putih dengan alasan "sudah terlalu banyak penari yang mereka pekerjakan"; para penari juga sering menerima body-shaming dari manajer dan pelanggan. (Louise meminta namanya disamarkan karena dia bekerja sebagai penari striptis tanpa sepengetahuan teman-teman dan keluarganya.)

Perlu dicatat, masalah ini umum terjadi di kelab striptis berbagai negara. English Collective of Prostitutes menulis laporan mendalam membuktikan profesi yang biasanya dianggap sebagai pekerjaan perempuan cenderung sangat eksploitatif.

Karena itu, penting bagi mereka berserikat. "Kami berorganisasi karena menginginkan kondisi yang lebih baik bagi sesama penari," kata Louise. Dia menggambarkannya sebagai “sekumpulan perempuan” yang sama-sama memperjuangkan hak. Mereka telah beberapa kali memenangkan pertempuran.

Kabar baiknya lagi, sejumlah kelab striptis tampaknya mendengarkan perjuangan mereka secara aktif. Manajemen kelab malam akhirnya sering berkonsultasi dengan pekerja, dan merekrut staf untuk menangani masalah penari striptis.

Pekerja seks di Skotlandia juga memutuskan berserikat. Mereka didukung serikat buruh GMB Scotland. Rhea Wolfson selaku juru bicara serikat, menyatakan undang-undang di Skotlandia yang lebih ramah serikat adalah katalis utama. "Para pekerja seks bergabung untuk mengorganisir sesama pekerja untuk melawan undang-undang yang membahayakan keselamatan mereka. Tujuan kami yaitu untuk menunjukkan bahwa pekerjaan seks tak ada bedanya dari pekerjaan lain, dan juga memperjuangkan kerangka kerja legislatif yang memberikan para pekerja hak-hak yang sama yang dapat diandalkan," urainya.

Pekerja seks Megara Furie juga percaya pentingnya pekerja seks berserikat, agar perlindungan lebih maksimal. "Permintaan layanan seks tidak akan berakhir apabila kamu mengkriminalisasi pelanggan,” katanya dalam sebuah wawancara bersama Evening Times. "Kebijakan kriminalisasi seks komersial malah meruntuhkan perlindungan kami."

Pekerja seks mengeluh sering dianggap sebagai wiraswasta, meskipun mereka secara legal tidak jatuh pada kategori itu. "Mereka merupakan tenaga kerja yang tidak dianggap sebagai tenaga kerja,” ujar Shalmy, yang memberi contoh pengemudi Uber dan Deliveroo. "Pandangan diskriminatif itu bukan kebetulan. Ini tindakan politik yang dilakukan secara sengaja demi menolak hak-hak pekerja. Ini bagian dari gerakan neoliberal yang berupaya menghancurkan komunitas kami."

Serikat pekerja seks mulai muncul di seluruh dunia. OTRAS merupakan contoh yang paling menonjol. Pendaftaran serikat pekerja asal Spanyol ini pada awalnya disahkan pemerintah, tetapi kemudian dicabut karena pekerjaan seks secara legal tidak tergolong sebagai pekerjaan (OTRAS sedang menantang keputusan ini). Serikat pekerja seks di Belanda, PROUD, kini berupaya mendemonstrasi larangan tur-tur distrik lampu merah. Di luar Eropa sudah terdapat serikat pekerja seks di Argentina sejak dulu. Namun, di Amerika Serikat, penelitian terkini mengusulkan bahwa sejumlah upaya pekerja seks untuk berserikat telah gagal. LSM SWOP (Sex Workers’ Outreach Project) terus berjuang untuk keadilan dan keamanan bagi pekerja seks.

Serikat pekerja di Inggris mempunyai sejarah sangat spesifik. Mereka berupaya bertahan setelah diserang menteri perdana konservatif Margaret Thatcher, yang membenci buruh yang berserikat. "Banyak serikat secara sengaja dibubarkan selama masa kekuasaan Thatcher," tutur Shalmy, "maka itu, serikat pekerja besar lambat laun berubah menjadi paguyuban pekerja, dan retorika politiknya lebih bernuansa ‘duduk bersama bos-bos dan berbicara soal pekerjaan mereka'."

“Serikat pekerja baru sudah mulai berhasil dan bertumbuh dengan cepat,” lanjut Shalmy, sembari menceritakan bahwa UVW menambah 124 anggota baru bulan lalu. “Kami telah menciptakan jenis politik baru dalam serikat kami. Kami bukan sekadar meminta perubahan kecil. Kami ingin mengatakan: ‘Kami telah dirampok dan ditipu, bukan hanya dengan gaji kami, tetapi juga daya negosiasi kolektif.’ Jadi kami bukan lagi meminta kondisi kerja kami diperbaiki. Kami menuntut negara menjamin itu."

Artikel ini pertama kali tayang di Broadly