Iklan
Kebodohan Manusia

Ingin Cepat ke Akhirat? Makan Ikan Buntal Campur Kokain Kayak Lelaki Bodoh Ini Dong

Peristiwa tolol di Florida, AS ini mengingatkan kita bahwa kebodohan manusia memang tidak ada batasnya.

oleh Jelisa Castrodale
08 Juli 2019, 8:02am

Ilustrasi ikan buntal dan kokain dari  Getty Images 

Departemen Kesehatan Florida, Amerika Serikat, pekan lalu menampilkan presentasi PowerPoint tentang bahaya konsumsi ikan buntal. Ada beberapa halaman presentasi, tapi hanya perlu satu slide untuk menegaskan intin pesannya: “MAKAN IKAN BUNTAL MEMBUATMU MENDERITA!"

"Walau ikan buntal disajikan sebagai makanan populer di beberapa daerah, ikan buntal berisiko besar membuatmu keracunan," demikian bunyi pernyataan lain dalam presentasi tersebut.

Paling sedikit sembilan spesies ikan buntal dapat ditemukan di perairan. Artinya, secara akal sehat saja ada sembilan spesies ikan buntal yang tidak layak dikonsumsi atas alasan apapun. Ikan buntal mengandung neurotoksin mematikan yang sanggup menyebabkan mati rasa, pusing, dan kesulitan bernapas bagi manusia dewasa. Selain itu, masih ada pula kemungkinan kamu mati. Komisi Margasatwa dan Ikan Florida melarang perburuan ikan ini, karena berpotensi menyebabkan kematian kalau si pemancing bodoh sekali memakannya.

Nah, seorang laki-laki tampaknya mengabaikan semua peringatan tersebut (atau memang tidak pernah menemukan teknologi bernama perpustakaan atau Internet) sehingga hampir mati karena mengkonsumsi hati ikan buntal. Pengalaman laki-laki ini tercatat dalam sebuah laporan berjudul " Blow: a case of pufferfish intoxication in South Florida."

Sehabis makan ikan buntal, dia muntah-muntah, mati rasa di bagian kaki, tidak bisa berbicara secara jelas, dan mengalami rasa sakit di dada dan lambung. Empat jam kemudian, dia terpaksa dilarikan ke ruang gawat darurat. Para dokter mendapati sang korban juga menderita tekanan darah tinggi dan gagal ginjal.

Saat mulai stabil dan diinterogasi dokter, laki-laki tersebut mengaku baru saja mengkonsumsi kokain. Narkoba itu memicu tekanan darah tingginya. Namun, gejala-gejala sakit lainnya disebabkan tetrodotoxin, sejenis racun yang ditemukan dalam beberapa spesies ikan buntal. Tetrodotoxin, biasa disebut TTX, seribu kali lebih beracun daripada sianida. Seramnya lagi, racun ini tidak ada penangkalnya. Di tubuh ikan buntal, konsentrasi TTX tertinggi terdapat di kulit, indung telur, dan hati.

Dokter merawat lelaki bodoh itu dengan arang aktif, antibiotik, dan respirator untuk memastikan dia tetap bisa bernapas meskipun TTX melumpuhkannya. "Andai keracunan ini tidak menimbulkan kematian, pasien seharusnya pulih dari gejalanya dalam waktu 24 jam, seperti yang terjadi dengan pasien kami ini," tulis Dr. Patricia Almeida dalam laporannya. (Nenek laki-laki ini juga dirawat karena pusing dan mengalami kelemahan otot. Si nenek ternyata ikut mengkonsumsi sedikit ikan buntal anaknya, sehingga gejalanya tidak terlalu parah.

Walau kesehatannya membaik, fungsi hati laki-laki ini tidak pulih dari dampak TTX atau kokain; Ia harus menjalani cuci darah selama sisa hidupnya. Laki-laki ini tidak mau mengaku dari mana dia dapat ikan buntal.

"Ikan buntal tidak sering dikonsumsi di Amerika Serikat," tulis Patricia. "Namun, para konsumen dan dokter harus mengetahui risiko-risikonya yang mematikan [...] Untuk sekarang, kami akan memperingati publik terlebih dahulu mengenai bahayanya makan ‘fugu.’”

Salah satu spesies ikan buntal, biasa disebut fugu, tergolong makanan lezat di Jepang. Di Negeri Matahari Terbit, koki-koki harus berlatih selama dua tahun untuk menguasai cara menyajikan fugu secara aman. Koki-koki ini juga harus lulus ujian keahlian dan melamar lisensi untuk memasaknya. Dengan semua pelatihan dan persiapan itu pun, risiko masih membayangi.

Pada Desember 2014, seorang laki-laki 30 tahun, dan kakaknya membeli fugu dari pedagang di New York City. Mereka membawanya pulang ke Minnesota sebagai “suguhan.” Keduanya mengkonsumsi ikan tersebut, dan beberapa jam kemudian masuk ruang gawat darurat. “Gigiku enggak kerasa,” ujar sang korban kepada dokter yang merawatnya. Menurut NBC News, kakak beradik ini meninggalkan rumah sakit sebelum diperbolehkan, lalu menghilang sebelum polisi sempat bertanya ikannya diperoleh dari mana.

Setidaknya mereka tidak mencampurnya dengan kokain karena efeknya bisa bikin hati rusak.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US