Iklan
Privasi Internet

Di Masa Depan, Dokter Bisa Tahu Penyakit Kita Lewat Postingan Facebook

Hasil penelitiannya membuktikan penyakit bisa didiagnosis dari postingan media sosial.

oleh Madeleine Gregory
20 Juni 2019, 6:18am

Bruno Glätsch/Pixabay

Tampaknya penyedia layanan kesehatan sebentar lagi bisa mendiagnosis dan mengobati pasien dari postingan Facebook mereka.

Para peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Pennsylvania telah mengembangkan sistem yang bisa menemukan bukti penyakit dari postingan media sosial. Penelitian baru, yang diterbitkan Senin di PLOS ONE, menunjukkan data media sosial mengungguli data demografis dalam memprediksi penyakit, seperti diabetes, kecemasan, depresi, dan psikosis. Mereka berharap data media sosial bisa membantu dokter lebih tepat mendiagnosis dan menangani penyakit umum.

Postingan Facebook memberikan informasi pribadi yang tidak mungkin bisa diakses oleh dokter. Beberapa di antaranya seperti perilaku, gaya hidup dan kondisi mental seseorang. Kata-kata dalam postingan Facebook dijadikan sebagai gejala. Peneliti mengaitkan penggunaan kata tertentu dengan penyakit.

“Sebelum ada media sosial, kita tak bisa dengan mudah melihat bagaimana kesehatan memengaruhi kehidupan sehari-hari dan sebaliknya,” ungkap penulis Andrew Schwartz dalam wawancara telepon. “Ini adalah jenis data lain yang bisa ditambahkan ke strategi perawatan kesehatan.”

Para peneliti menganalisis keseluruhan riwayat postingan Facebook dari sekitar 1.000 pasien dengan persetujuan mereka. Guna mengembangkan model prediktif berdasarkan postingan Facebook, peneliti menghubungkan kelompok kata dengan penyakit. Mereka menguji tiga model penentu penyakit—yang pertama hanya mengandalkan bahasanya, yang kedua menggunakan data demografis seperti usia dan jenis kelamin, dan yang terakhir bergantung pada campuran keduanya. Setelah itu, mereka mengecek kebenarannya dengan rekam medis pasien.

Beberapa istilah yang diteliti ternyata memang ada hubungannya dengan masalah kesehatan tertentu. Penggunaan kata “drink” secara berulang kali, misalnya, menandakan penyalahgunaan alkohol. Sementara itu, kaitannya dengan yang lain tak terlalu kentara. Contohnya, pasien yang menggunakan bahasa lebih religius seperti “God” dan “pray” cenderung 15 kali lebih mungkin menderita diabetes.

Mereka mengevaluasi 21 kondisi berbeda yang paling sering didiagnosis pada peserta di Philadelphia, mulai dari penyakit paru-paru hingga kecemasan. Peneliti menemukan ke-21 diagnosis itu berhasil diprediksi hanya dengan data Facebook. Ketika dikombinasikan dengan data demografis, postingan Facebook meningkatkan ketepatan prediksi 18 dari 21 penyakit. Data Facebook sendiri mengungguli data demografis dalam 10 kasus, dan sangat efektif dalam memprediksi kondisi diabetes dan kesehatan mental.

Peserta studi merupakan pasien suatu rumah sakit, yang 76 persen dari mereka adalah perempuan dan 71 persennya lagi orang kulit hitam. “Ini baru langkah pertama dalam melakukan jenis diagnosis macam ini,” ujar Schwartz. “Kami harap jenis analisis serupa sama kuatnya pada populasi lain.”

Walaupun bahasa media sosial tak selamanya menunjukkan penyebab penyakit dengan tepat, hal ini dapat menginformasikan pengobatan dan pencegahan. Schwartz menekankan bahwa jenis penelitiannya masih dalam tahap dasar, tetapi intervensi media sosial bisa sangat membantu pasien kesehatan mental. Facebook bahkan telah menandai postingan yang sarat keinginan bunuh diri dan memberikan informasi pencegahan kepada pengguna tersebut.

Terlepas dari hasil yang menjanjikan, beberapa khawatir gagasan ini dapat mengancam kerahasiaan informasi pasien.

“Mengaitkan postingan media sosial dengan informasi pribadi, termasuk alamat dan riwayat kesehatan, dapat menimbulkan risiko privasi,” tulis Amy Shepherd, pejabat hukum di organisasi nirlaba hak-hak digital Open Rights Group, dalam emailnya.

Shepherd menilai penelitian ini melindungi privasi data dengan baik karena memperoleh persetujuan secara eksplisit, dan memastikan tak ada satupun dari mereka yang bisa diidentifikasi dari hasilnya. Berhubung penelitiannya berhasil, ada risiko efek bola salju yang tidak terkendali.

“Jika riwayat kesehatan dan data media sosial jadi lebih sering dikaitkan, risiko privasinya bisa jauh lebih signifikan,” tutur Shepherd.

Dokter masih harus mengikuti pedoman data kesehatan ketat, yang berarti mereka harus mendapatkan persetujuan dari setiap pasien sebelum mengakses dan membagikan data media sosial mereka. Walaupun begitu, akan sulit memindahkan perawatan kesehatan otomatis semacam ini ke yurisdiksi lain dengan undang-undang privasi yang lebih ketat, seperti negara-negara di Uni Eropa.

Apabila postingan media sosial menjadi bagian dalam riwayat kesehatan, itu berarti perusahaan asuransi juga bisa mengaksesnya. Mereka bisa memanfaatkan data itu untuk menyesuaikan premi sesuai dengan gaya hidup yang dilihat dari media sosial. Di New York, misalnya, perusahaan asuransi bisa menggunakan media sosial seseorang untuk mengatur premi, selama mereka menunjukkan tidak mendiskriminasi kelompok tertentu.

Yang patut dipertanyakan: Apakah saya mengizinkan dokter membaca postingan Facebook-ku? Belum jelas seberapa banyak orang yang akan mengambil tawaran ini, terutama saat mengingat betapa kacaunya masalah privasi data belakangan ini.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US.