Ubah Cara Kerjamu

Mereka yang Lelah Dengan Jakarta

Tak semua anak muda merasa Jakarta sebagai jawaban menata masa depan. Kota lain menawarkan prospek menjanjikan. Pindah ke Yogyakarta atau Bali, kenapa enggak?

oleh Ananda Badudu
10 April 2019, 1:00am

Ilustrasi pindah dari Jakarta oleh Yasmin Hutasuhut

Keputusan bekerja dan tinggal di Jakarta datang bersama banyak konsekuensi, apalagi kalau kalian harus kerja kantoran. Kalian harus siap menghadapi rutinitas harian yang monoton. Merasakan kemacetan jalanan saban pagi atau pulang kerja. Kehidupan sosial lama-lama makin terasa kian sempit. Mau ketemuan atau main sama temen kok rasanya lebih susah. Beda dari zaman kuliah dulu.

Belum lagi membicarakan masalah kerjaan lembur, yang sebenarnya agak malas digarap di luar jam kerja. Sayangnya, mau bagaimana lagi. Atas nama deadline ya harus dikerjakan. Lama-lama mereka yang jenuh berpikir: "hidup kok gini banget yah…"

Bulan demi bulan berjalan hingga tak terasa sudah bertahun-tahun saja hidup dan kerja dengan ritme seperti itu. Mengulang pola yang sama. Lama-lama kita masuk ‘zona nyaman’ (walaupun sebenernya enggak nyaman-nyaman banget). Agak susah membayangkan bahwa ‘another life is possible’.

Pengalaman macam itu ternyata tak berlaku bagi Steffi Stefani. Meski tumbuh besar di Jakarta, dia tak terlalu suka tinggal di ibu kota. Steffi, yang kini menetap di Yogyakarta, sempat menjalani karir selama tiga tahun di Jakarta, sepanjang 2011-2014 lalu.

Ia bekerja di bagian pemasaran Kompas Gramedia Group. Rutinitas sehari-hari yang ia lakoni di antaranya berangkat kerja pagi-pagi betul dari rumah di daerah BSD Tangerang; Bekerja hingga malam hari di kantor di daerah Jalan Panjang, Jakarta Barat; Pulang ke rumah, menuntaskan lemburan hingga tengah malam, tidur, lalu begitu lagi keesokan harinya.

Setelah tiga tahun menjabani rutinitas seperti itu, rasa jengah menghampiri Steffi. “Rasanya kok hidup gua gini banget ya?" Akhirnya ia ungkit lagi pada atasan di kantor perihal keinginannya yang sudah lama ia pendam untuk sekolah di Yogyakarta mempelajari manajemen seni.

"Sudah sejak tahun kedua kerja bilang mau resign karena mau sekolah, tapi belum disetujui," kata Steffi. Baru pada tahun ketiga keinginan itu dikabulkan. Segeralah Steffi meluncur ke Yogyakarta.

"Setelah dipertimbangkan mateng-mateng, ya sudah gue resign aja berbekal tabungan gaji yang tidak seberapa itu [tertawa]," katanya.

Awal-awal tinggal di Yogyakarta, ia segera merasakan perbedaan. Dari segi biaya hidup, Yogya jauh lebih murah dibanding ibu kota. Rutinitas? Tak lagi mengenaskan karena macet di Jogja tak ada apa-apanya dibanding Jakarta. Kehidupan sosial? Tuntutannya tak setinggi Jakarta. Misalnya saja soal cara berpakaian, di Yogyakarta tak ada masalah sama sekali ke mana-mana pakai sendal jepit, sementara kalau di Jakarta kadang bisa memancing pertanyaan dari banyak orang.

"Hidup di Jogja itu gue jadi jauh lebih sederhana, karena orang Jogja juga jauh lebih sederhana, lebih down to earth lah begitu," kata Steffi.

Dalam kondisi adaptasi seperti yang dialami Steffi, mengubah cara kerja adalah sebuah keharusan. Ruang kreatif yang dapat membuatmu jadi diri sendiri sangat dibutuhkan. Ruang kreatif ini, biasanya berbentuk coworking space, adalah solusi paling masuk akal. Pekerja dari latar belakang apapun bisa berkantor di dalamnya.

Perbedaan itu pula yang dirasakan oleh seniman Agan Harahap. Sekitar lima tahun lalu, ia memboyong istrinya yang sedang hamil pindah ke Yogyakarta. Proses pindahannya, menurut Agan, tak rumit. Malah cenderung spontan.

"Tiba-tiba aja istri gue nyeletuk 'Eh, pindah Yogya aja yuk? Kalau di sini terus kita akan berantem terus deh kayaknya'. Dan gue pun langsung mengiyakan," kata Agan. "Gue langsung kontak temen-temen Gue buat nyariin kontrakan, cari angkutan barang-barang. Dan dua minggu kemudian pindah aja gitu."

Sejak pindah ke Jogja, Agan merasa kehidupannya lebih waras dan sejahtera. "Kehidupan di sini lebih masuk akal," katanya. Secara finansial, lingkungan Jogja lebih bagus buat keluarganya, kendati Upah Minimum Regional di sana tak sampai Rp2 juta per bulan.

Yang paling terasa beda adalah soal singkatnya waktu tempuh dari satu tempat ke tempat lain yang membuat di Jogja ke mana-mana terasa dekat. Hal itu ternyata berpengaruh banyak terhadap proses berkarya Agan. Kesempatannya bertemu orang di lingkaran kesenian pun bertambah, sehingga lebih banyak kesempatan datang.

"Misal ada kurator dateng ke rumah temen, biasanya gue ditelepon 'Eh lu ke sini dong. Ada temen gua nih pengen gua temuin sama loe’ dan enggak pakai pikir panjang sih langsung berangkat. Kalau di Jakarta mah mana bisa kayak gitu. Harus janjian dulu lah, atau apa lah. Ribet!"

Bagi pekerja lepas seperti Agan atau Steffi, menemukan lingkungan untuk tetap produktif bukan perkara sulit. Coworking space yang tersedia di Yogya tak kalah dibanding Jakarta, misalnya CoHive yang sudah membuka layanan di Hartono Mall.

Ruang kreatif seperti CoHive dapat meningkatkan produktivitas para pekerja lepas. Sebab CoHive mengedepankan kolaborasi antar komunitas kreatif. Pekerja kreatif bisa bertemu koneksi baru, termasuk dari mereka yang sekilas jauh dari bidang yang ditekuni. CoHive sangat mendorong setiap penyewa agar berkolaborasi satu sama lain.

Jogja pun bukan satu-satunya tempat untuk hijrah dari keruwetan Jakarta. Banyak orang memilih Bali sebagai pelabuhan baru untuk tinggal dan bekerja. Salah satunya adalah Banyu Bening. Ia diuntungkan punya pekerjaan yang fleksibel dari segi lokasi. Di manapun ia berada, selama ada meja, laptop, dan wifi, Banyu bisa bekerja dan terhubung dengan kliennya di Kuala Lumpur, Malaysia.

"Waktu itu memilih Ubud untuk tempat tinggal baru karena mikirnya suasananya lebih friendly," kata Banyu. "Beda kalau di Jakarta, nuansa kerja itu harus kayak ‘kerja banget’ gitu, padahal beban pekerjaannya sebenarnya sama aja."

Suasana 'kerja banget' yang dimaksud Banyu adalah rutinitas menjepit. Dulu, ketika masih tinggal di Jakarta, berhubung rute sehari-hari dari rumah di Rempoa, Tangerang Selatan, ke kantor di Antasari. Rute itu selalu macet, ia harus betah-betahan menjabani waktu tempuh dua jam sehari hanya untuk menuju kantor. Belum lagi perjuangan pulang ke rumah. "Kalau misalnya pulang jam 5, sampai rumah bisa jam 7 atau 7.30 malam," katanya.

Ketika pindah ke Ubud, rutinitas harian Banyu berubah total. Pagi-pagi ia akan bangun jam 07.30 untuk berenang selama setengah jam. Setelah beres-beres dan sarapan, ia bisa langsung mulai kerja jam 08.30 tanpa harus pergi ke mana-mana. Sore-sore jam 16.00 ia selesai kerja, berangkat ke supermarket untuk belanja bahan makanan. Sesampainya di rumah ia masak, makan, lalu melakukan apapun yang ia mau sebelum tidur malam.

"Kalau tinggal di Jakarta kan kita paling bisa ngelakuin 2-3 kegiatan per hari. Kalau di Ubud bisa sampai 5-6 aktivitas," kata Banyu. "Gue ngeliatnya ngelakuin 5-6 aktivitas sehari itu bikin kita jadi lebih happy."

Bisa dibayangkan, fleksibilitas kerja seperti yang diharapkan Banyu akan semakin maksimal dengan keberadaan coworking space. Apalagi lanskap industri kreatif saat ini harus dihadapi dengan pendekatan baru. Layanan coworking space, seperti CoHive, mendorong setiap orang bisa memiliki hidup yang seimbang dan produktif.

Sementara Gemala, yang memboyong istri dan anaknya tinggal di Denpasar, punya kesan berbeda dengan Banyu. Ia akui pada saat mensurvei-survei tempat tinggal baru, ia punya sejumlah ekspektasi tertentu tentang Bali. Terutama karena dia jalan-jalan ke tempat-tempat pariwisata yang turistik. Ternyata cara macam ituk tak sepenuhnya akurat untuk mensurvei tempat tinggal baru, sebab bisa jadi orang menaruh ekspektasi terlalu tinggi.

"Ekspektasinya sama kenyataannya ternyata rada beda," katanya. "Soalnya pas lagi ke Bali kan kondisinya liburan, jadi tinggal di hotel, datengin tempat yang enak-enak. Jadinya mikir kayaknya enak banget tinggal di sini. Ternyata setelah tinggal, enggak gitu."

Hal-hal yang membuatnya terasa kurang enak, kata Mala, misalnya saja saat hendak belanja interior rumah, beberapa barang tak bisa langsung dibeli di tempat. "Harus nunggu kiriman dari Jawa dulu," katanya.

Kecuali si pembeli mau membeli barang display yang kadang warnanya tak cocok dengan keinginan. Apapun itu, tinggal di Bali buat Gemala jauh lebih enak dibanding di Jakarta karena ke mana-mana relatif tak ada macet hebat. "Ya memang mau nyobain juga, minimal dua tahun lah di sini,” katanya.

Untungnya, untuk urusan infrastruktur pendukung yang bisa mendukungnya terus bekerja maksimal, Gemala tak perlu khawatir. CoHive sudah melebarkan sayap ke Bali, lewat cabang di Artotel Sanur. Ekspansi ini dilakukan CoHive setelah melihat tren masa kini, di mana anak muda mendambakan kehidupan yang seimbang sekaligus produktif.

Dari pengalaman yang berbeda-beda tadi, bisa disimpulkan kebahagiaan ada di manapun. Apalagi jika berbagai prasarana untuk membuat kalian tetap produktif sudah tersedia.

Jika kalian lelah dengan rutinitas dan kepadatan ibu kota, jangan mengeluh terus. Pindah demi hidup yang lebih seimbang bukan lagi sekadar angan-angan.


Artikel ini adalah kolaborasi 'Ubah Cara Kerjamu' antara VICE dan CoHive, yang telah memperluas layanan coworking space-nya di Bali dan Yogyakarta. Tujuannya agar anak muda terus produktif dan siap melakukan kolaborasi kreatif di manapun mereka berada.