Iklan

Meski Dikecam Pakar Kesehatan, Mengapa Orang-Orang Masih Menjalankan Diet Keto?

Alasan jenis diet ini sangat populer mungkin karena mereka masih bisa makan daging. Yang terpenting buat mereka, hindari konsumsi karbohidrat berlebih.

oleh Hannah Smothers; Diterjemahkan oleh Annisa Nurul Aziza
19 Januari 2020, 3:00am

Lauri Patterson via Getty

Ini sudah ketiga kalinya secara berturut-turut, laporan tahunan U.S. News and World Report menempatkan diet ketogenik atau keto pada posisi dua terbawah, alias salah satu diet yang sangat tidak dianjurkan. Peringkatnya tidak dibuat sembarangan karena disusun berdasarkan jurnal kesehatan dan data pemerintah, serta masukan dari pakar kesehatan dan ahli gizi. Sejak 2018, diet keto selalu berada di posisi paling bawah. Anehnya, orang-orang seakan ndableg dan tetap menerapkan diet ini. Pola makan mereka tinggi lemak dan protein, tetapi rendah karbohidrat. Mereka sampai sakit saking sedikitnya karbohidrat yang masuk ke dalam tubuh.

Tujuan utama diet ini yaitu untuk membuat tubuh berada dalam kondisi “ketosis”, yang berarti lemak menggantikan peran karbohidrat sebagai sumber utama energi tubuh. (Padahal, ya, tubuh masih bisa membakar lemak tanpa perlu melakukan ini.) Untuk mencapai ketosis, maka asupan kalorinya harus berasal dari lemak. Kalian juga harus mengonsumsi makanan berprotein tinggi, dan membatasi jumlah karbohidrat per hari yang tidak melebihi 20-50 gram. Meski efektif untuk menangani anak-anak penderita epilepsi dan diabetes, studi menunjukkan diet ini tidak bagus bagi orang sehat.

Para dokter dan ilmuwan sudah bertahun-tahun mengutuk diet keto, tapi tampaknya baru kali ini media membicarakan keto sebenarnya tidak bagus, lho! Pada “ National Keto Day” (hari nasional yang dimulai oleh Vitamin Shoppe), CNN menerbitkan artikel yang mempertanyakan: Mengapa diet keto yang sangat tidak dianjurkan pakar kesehatan justru populer di masyarakat? Menurut CNN, “Pakar mengatakan diet keto mendapatkan popularitasnya karena orang-orang ingin menurunkan berat badan secara instan, tanpa memperhitungkan kemungkinan risiko jangka panjang.” Kepada New York Times, Whitney Linsenmeyer selaku juru bicara Akademi Nutrisi dan Diet mengaitkan popularitas keto dengan “fobia karbohidrat” pada orang Amerika; pakar lain memperingatkan agar penyembah keto sadar akan efek jangka panjang diet ini, seperti peningkatan risiko penyakit kardiovaskular.

Alasan diet keto sangat digandrungi yaitu masih bisa makan daging sebanyak mungkin. Kalian tidak perlu pantang makan keju, bistik, atau hamburger. Kurang enak apalagi, tuh?! Namun, kita semua perlu mengetahui bahwa rendahnya asupan karbohidrat per hari sangat tidak sehat dan berkelanjutan, menurut David Katz—founding director Yale University Prevention Research Center—kepada CNN. (Kisaran rata-rata yang direkomendasikan yaitu 225–325 gram karbohidrat per hari.) Kurangnya asupan karbohidrat tak jarang membuat pemula mengalami “ keto flu”.

VICE sudah sering banget memperingatkan pembaca akan bahaya keto, dan akhirnya semakin banyak media lain yang mengikuti jejak kami. Katakan tidak pada keto!

Follow Hannah Smothers di Twitter.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US

Tagged:
diet
kesehatan
keto
ketosis
Menurunkan Berat badan