Sepakbola

Berakhirnya Mitos Stadion Premier League Selalu Semarak dan Penuh Suporter

Harga tiket harian maupun musiman semakin mahal, tak terjangkau kebanyakan fans. Penggemar sepakbola Inggris menolak diperas manajemen klub, mengancam nilai jual liga di masa mendatang.

oleh VICE Sports
28 Maret 2017, 1:20am

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Sports.

Oleh: Paul Walker-Emig

Premier League adalah liga sepakbola paling gemerlap dan bergelimang uang di seluruh dunia. Semua kekayaan ini bersumber dari mitos terus menerus dipertahankan. Saya menyadari adanya mitos ini saat bertemu seorang kawan yang baru pertama kali menjadi pemegang tiket musiman Arsenal. Dia sangat bersemangat nonton klub dari kota saya itu. Dia bilang harus datang ke stadion demi merasakan atmosfer agung Premier League secara langsung di stadion. Saya lantas membayangkan dia akan kecewa—terlanjur menghabiskan banyak uang supaya bisa masuk Stadion Emirates—karena bakal menyaksikan sendiri situasi di dekat lapangan hijau tak semegah kelihatannya.

Banyak klub di Inggris mengalami persoalan serupa Arsenal. Suasana stadion di televisi yang tampak riuh, tertib, tapi tetap penuh semangat saat mendukung klub kesayangannya, jauh panggang dari api. Kursi-kursi stadion klub besar Inggris sebetulnya makin lama makin kosong saja. "Harus diakui ada penurunan angka penonton yang hadir di stadion. Semua klub menyetujui tren tersebut," kata Jay McKenna, Ketua Kelompok Suporter Spirit of Shankly yang loyal mendukung Liverpool FC. McKenna menyatakan Asosiasi Sepakbola Inggris (FA) maupun manajemen Premier League tak pernah mau mengakui penurunan jumlah penonton di stadion itu. "Karena dampaknya bisa merusak reputasi liga, produk utama yang mereka jual."

Premier League berhasil meninggalkan rival-rivalnya seperti La Liga, Bundesliga, atau Serie A, berkat polesan citra-citra yang dirancang sejak bertahun-tahun lalu. Manajemen liga bersama klub kompak memoles mitos tertentu mengenai loyalitas suporter serta suasana pertandingan yang semangat sebagai tambang uang utama. Premier League mengkapitalisasi ide sepakbola sebagai ritual yang jauh lebih penting dibanding agama, meminjam akar sejarah olahraga ini yang panjang dalam sejarah Inggris. Ditopang tingkat keterisian stadion yang diklaim selalu penuh sepanjang musim, serta iklim kompetitif antar tim, Premier League menangguk untung besar. 

Ambil contoh Manchester United, yang sanggup bertahan dalam status peringkat klub terkaya di seluruh dunia. Firma akuntan Deloitte mencatat sepanjang 2016, Manchester United meraih pemasukan kotor US$645 juta (setara Rp8,5 triliun). Dari total pendapatan tersebut, Rp4,5 triliun berasal dari iklan, baru sisa Rp2,3 triliun disokong hak siar televisi. Bisa dibilang 80 persen pemasukan Manchester United bersumber dari pencitraan klub pemegang rekor juara Premier League ini (walaupun faktanya empat musim terakhir, MU tertatih-tatih akibat ditinggal sosok pelatih legendaris Sir Alex Ferguson). Branding brilian itu, yang mempertahankan kesan MU merupakan klub papan atas di Inggris, mendorong fans dari luar negeri—misalnya Cina—membeli kaos dan pernak-pernik merchandise resmi MU. Polesan citra itu pula yang membuat MU masih mampu meraih kontrak iklan minuman ringan di Nigeria, serta memperoleh pendapatan besar saat menjadi bintang iklan permen di Thailand. MU dicitrakan klub yang suporternya sangat loyal di stadion, kendati kini paceklik prestasi sedang mereka alami. 

"Kamilah yang sebenarnya menjadi duta utama memasarkan Premier League kepada penonton luar negeri," kata McKenna. "Manajemen Klub Liverpool tahu betul fakta itu. Makanya mereka memasang iklan-iklan bernilai paling besar di tribun khusus untuk suporter The Kop. Karena di titik itu stadion tidak mungkin kosong. Foto suporter di atas iklan itu akan jadi nilai jual utama pada perusahaan pengiklan," urainya. "Beginilah jualan utama klub-klub Liga Inggris. Mereka ingin mengesankan puluhan ribu orang mengumandangkan chant, dukungan, mengenakan syal klub, berdiri di atas spanduk 'You'll Never Walk Alone', lalu di sekitar para suporter yang loyal, berdiri papan iklan Standard Chartered and New Balance. Itulah yang dijual Premier League."

Suporter Liverpool melakukan aksi protes atas kenaikan harga tiket musim 2015/2016. Sumber foto: PA Images

Para suporter asli merasa terpinggirkan dalam kemasan gebyar-gebyar Premier League. Mereka tidak sanggup membeli tiket musiman. Kini, pemilik tiket semacam itu justru orang-orang kaya, dari dalam maupun luar Inggris, yang belum tentu hadir di stadion setiap laga kandang. Mckenna sebagai suporter bangkotan menyebut suasana di Anfield, stadion Liverpool, setiap pekan semakin sepi saja. Mungkin kursi penuh, tapi penonton yang hadir tidak punya semangat setangguh suporter asli. Pentolan suporter klub lain yang saya hubungi memberi keterangan serupa. "Faktor utama tentu saja harga tiket," kata Raymond Herlihy, Ketua Kelompok Suporter REDaction Gooners yang fanatik mendukung Arsenal. "Banyak fans senior yang kini tidak bisa hadir di stadion gara-gara tak sanggup membeli tiket."

Pendukung klub garis keras khawatir harga tiket yang semakin melambung akan memberi dampak buruk di masa mendatang: klub tak lagi memiliki basis suporter lokal dari generasi muda. "Perhatikan saja usia orang-orang yang datang ke stadion sekarang," kata Herhily. "Di Emirates, kebanyakan suporter yang saya lihat adalah pria usia 50-an. Katakanlah, mereka benar-benar tulus ingin mendukung Arsenal. Bisa seramai apa sih polah bapak-bapak umur segitu di stadion? Beda lah kalau yang banyak datang anak-anak muda usia 20-an. Masalahnya, remaja kebanyakan tak bisa membeli tiket musiman Arsenal pakai uang jajan mereka."

Di Inggris, kondisi ekonomi beberapa tahun belakangan semakin tidak ramah bagi anak muda untuk menyisihkan uangnya demi hobi. Generasi muda dibebani utang biaya pendidikan, harga sewa rumah yang semakin mencekik, serta jam kerja padat mendekati perbudakan. Jawabannya tentu saja sederhana: makin sedikit saja anak muda mau menyisihkan uang (dan waktunya) datang ke stadion. Keputusan Inggris memilih Brexit saat referendum lalu, dipastikan membuat situasi ekonomi dalam negeri bertambah sulit. Cepat atau lambat, industri sepakbola Inggris akan mengalami persoalan kehadiran penonton yang selama ini belum pernah dialami pihak manajemen.

Selain harga tiket, masalah lain yang muncul adalah hubungan suporter dan industri bola Inggris yang makin lama makin tidak akur. Suporter sejati merasa dianaktirikan. "Kami datang ke stadion bukan demi menyaksikan 90 menit pertandingan Premier League yang seru, seperti dipromoskan SKY TV atau manajemen Premier League," kata McKenna. "Kami datang demi mendukung Liverpool. Kami tak peduli pertandingannya seru atau tidak."

Ketika semakin banyak pemegang tiket musiman yang bukan dari basis suporter asli, atmosfer pertandingan ikut terpengaruh. Penonton kaya semacam itu hanya mau menonton laga yang menarik. Orientasi itu tentu berbeda dari mereka yang datang demi mendukung klub, menang ataupun kalah. "Banyak penonton di stadion sekarang datang karena ingin pengalaman sepadan dengan harga tiket yang mereka tebus. Ibarat  adegan di film Gladiator, saat si tokoh utama bilang 'apa kalian terhibur sekarang?', jawabannya sebagian orang tidak terhibur."

Efek lainnya, mentalitas transaksional antara suporter dan klub mulai terjadi di klub-klub Inggris. Pendukung datang ke stadion hanya demi menyaksikan prestasi. Herhily bilang, dia terpaksa mengeluarkan dana setara Rp16 juta untuk tiket musiman. "Itupun tiket yang paling murah," ujarnya. "Dengan harga tiket semahal itu, saya tidak bisa menyalahkan jika beberapa suporter ada yang berharap Arsenal selalu menang atau meraih prestasi setiap musim," kata Herlihy. Arsenal merupakan klub dengan dilema tekanan fans paling parah dibanding klub Premier League lainnya. Musim ini semakin kencang tekanan agar pelatih Arsene Wenger mengundurkan diri. Arsenal terakhir kali meraih trofi juara Premier League pada musim 2003/2004. Pemilik Arsenal, Stan Kronke, berusaha meredam ketidakpuasan fans. Dia bilang Arsenal tidak dibangun untuk membeli gelar. Ucapan Kronke semakin membuat marah suporter, mengingat harga tiket Arsenal adalah yang paling mahal di Liga Inggris. Jika Arsenal tidak ingin 'membeli' gelar, artinya manajemen hanya ingin terus memeras uang suporter.

Banyak fans Arsenal sekarang berpikir, kenapa mereka harus membayar tiket lebih mahal dibanding pendukung klub yang prestasinya lebih mentereng? "Menurut saya, manajemen Arsenal sebetulnya ingin meraih hasil maksimal dengan pengeluaran semurah mungkin. Itu tentu tidak adil, karena manajemen memaksa suporter membayar sangat mahal untuk datang ke stadion," kata Herlihy.

Suporter garis keras semakin yakin hubungan klub dan penggemar tidak akan sama seperti dulu. McKenna mengaku sangat menghormati sosok pelatih Jürgen Klopp. Kadang, ketika Liverpool bermain jelek sekali dan kalah, dia merasa gondok melihat Klopp meminta para suporter tetap mendukung tim yang sedang jatuh mentalnya. "Mau gimana lagi bung, mereka sudah bayar nyaris Rp1 juta untuk satu tiket harian dan mereka dipaksa nonton pertandingan taek kayak gitu."

Lihat, yang ribut cuma segelintir aja di tribun. Atmosfer Liga Inggris benar-benar sulit diselamatkan. Foto dari: PA Images

Manajemen liga dan pemilik klub sepertinya sadar mulai muncul persoalan tiket yan berdampak pada kurangnya kehadiran suporter sejati di stadion. Sekarang sudah ada tiket berdiri, yang belum lama ini diperkenalkan, menggambarkan betapa klub sadar tanpa kehadiran suporter sejati maka atmosfer stadion tidak lagi sama. Kebijakan lain berusaha mengurangi kesenjangan ini adalah diskon tiket bagi suporter yang mengikuti laga tandang. Manajemen Premier League, dalam keterangan tertulis, menyatakan upaya diskon harga ini dimaksudkan supaya suporter klub tetap memperoleh akses ke stadion. "Kami yakin kebijakan [diskon] akan mendorong para penonton laga kandang mencoba merasakan suasana laga di stadion lawan. Hal ini akan membedakan Premier League dari liga-liga sepakbola profesional lainnya."

Bagi suporter bangkotan seperti Herlihy, atmosfer tribun yang penuh semangat akan segera berakhir di Inggris. Dia merasa manajemen Premier League, yang sudah seperti korporasi raksasa, sedang berusaha menemukan cara memanipulasi pertandingan supaya terkesan meriah, walaupun suasana aslinya di stadion sebetulnya tidak menarik. "Semua tradisi suporter lama itu tinggal kenangan," ujarnya.

Perkara tiket ini memperparah situasi di tribun sepakbola Inggris yang sebetulnya sudah terjangkiti masalah. Proses pembersihan tukang onar dari tribun oleh kepolisian pada era 80-an pelan-pelan membuat polah suporter Inggris lebih kalem dibanding penggemar sepakbola di Eropa lainnya. Dalam kondisi semacam itu, bisakah diperoleh jalan tengah, agar stadion sepakbola di seantero Inggris tidak hanya dipenuhi ribuan orang duduk anteng sepanjang pertandingan?

Satu hal yang pasti. Persoalan harga tiket yang terlampau mahal ini harus segera diatasi. Jika pemerintah Inggris enggan bersikap—saat ini tak ada tanda-tanda ke arah sana—maka perubahan Premier League sepenuhnya berada di tangan para suporter. Perubahan akan terjadi bila semakin lama penggemar bola merasakan kesenjangan ekstrem antara citra Premier League di televisi, dengan yang sebetulnya terjadi dekat lapangan hijau. Bila kondisi sekarang terus berkelanjutan, Premier League tak lagi punya komoditas untuk diperdagangkan. 

Seandainya skenario terburuk terjadi, saat para fans sejati pergi, menarik untuk menebak mitos apalagi yang akan dipakai manajemen Premier League buat mempertahankan pundi-pundi uang mereka.

Follow penulis artikel ini di akun @contentbot