Iklan
GAMES

Begini Rasanya Menjadi Gamer Sekaligus Syiah di Arab Saudi

Dia mengalami tekanan sosial dan diskriminasi. Siapa sangka, koleksi game-game bajakan justru berhasil membantunya melalui masa-masa sulit itu.

oleh Hussain Almahr
18 November 2016, 6:38am

Artikel ini pertama kali tayang di situs baru VICE yang mengulas game: Waypoint

Ketika pintu Euromarche (sebuah mall di Ibu Kota Riyadh) terbuka, aroma dalam ruangan menguar sampai ke hidung saya. Ini adalah jalan-jalan rutin yang kami lakukan setiap kamis, awal akhir pekan di Arab Saudi. Kios-kios toko berderet dalam lorong-lorong padat, sebuah supermarket nyempil di tengah, dan outlet Burger King bisa anda temukan di pojok kiri lorong. Namun, bukan itu tujuan saya. Tiap minggu keluarga saya menyerbu toko-toko game yang memiliki rak-rak penuh game Playstation 2 berbungkus plastik murahan. Bau yang keluar dari bungkus plastik ini bikin kepala pening. Semua game ini, jelas, bajakan semua.

Harga setiap game di toko ini berkisar 20 Riyal, atau setara Rp70 ribu. Untuk memainkan game-game ini, kita cuma butuh modal 100 Riyal saja (sekitar Rp130 ribu) untuk merombak mesin konsol playstation agar bisa memainkan game bajakan. Barang tentu, game-game bajakan yang dijajakan di toko tak dilengkapi sampul orisinalnya. Sebagai gantinya, ada sampul-sampul photoshop kacrut. Kadang, pembuat sampul seenaknya saja mengambil gambar dari website game, lalu di-print, tanpa mau repot-repot menghapus watermark yang tertera. Masa bodoh lah, sebab ini yang paling penting: saya bisa memborong banyak game baru.

Saya masih kecil waktu itu. Jadi, perkara-perkara etis praktik pembajakan tak begitu penting. Yang beginian boro-boro kepikiran. Dalam seminggu, saya bisa mendapatkan lima judul game baru seharga tak lebih dari Rp70 ribu! Kala itu, orang-orang di Saudi tak terlalu mengenal game "orisinal", kecuali mereka memainkan game-game berbasis catrigde. Alhasil, saya selalu menunggu hari kamis, hari kami berkunjung ke Euromarche, kemudian berbagi temuan-temuan baru bersama teman-teman.

Cuplikan adegan Metal Gear Solid, dimuat seizin Konami

Di sekolah, sebelum kelas pertama dimulai, saya dan beberapa teman ngobrol habis-habisan tentang game-game yang kami beli akhir pekan sebelumnya. Meski kami baru berusia 10 atau 11 tahun, kami berani bicara tentang hal-hal aduhai yang kami lakukan dalam Grand Theft Auto, hingga adegan-adegan syur dalam Metal Gear Solid 2 saat tubuh polos Raiden nongol. Malah pernah, suatu hari, seorang teman bersemangat 45 datang ke sekolah pagi-pagi sekali cuma untuk membajak mesin fotokopi sekolah, melakukan hal paling heroik bagi anak berumur 11 tahun: menggandakan kode cheat GTA, membagikannya pada semua anak di kelas.

Kami menjadi akrab karena game-game yang kami mainkan. Tak jarang kami saling meminjamkan game-game kesayangan masing-masing, keputusan yang kadang kami sesali kemudian.

Sebagai seorang anak yang besar di Saudi,n selain menghabiskan waktu bermain game, hidup saya dipenuhi segela tetek bengek agama. Peranan agama dalam kebudayaan Arab sangat penting. Tak aneh kalau kami sampai punya empat kelas pelajaran agama dalam satu hari, tiap kelas membahas aspek agama yang berbeda. Tak ada satupun pelajaran lepas dari agama. Bahkan, agama mempengaruhi cara kami bermain game.

Di kelas, kami kerap ngobrol ngalor ngidul tentang game, gulat dan film (di luar dugaan High School Musical ternyata sangat populer di sekolah saya). Namun, obrolan ini tak akan terjadi di kelas agama. Mayoritas teman sekelas saya tiba-tiba memperhatikan pelajaran dengan seksama atau malah mengajukan pertanyaan, hal yang jadi barang antik di kelas-kelas lainnya. Kerap kali, guru-guru agama kami menceramahi tentang berbagai macam hal—masalah game juga tak luput jadi sasaran ceramah mereka.

Guru-guru, misalnya, panjang lebar menceramahi kami tentang betapa bejatnya game Pokemon yang menurut mereka sangat anti-Islam. Para ulama percaya bahwa nama-nama monster dalam Pokemon sejatinya adalah nama-nama setan. Kami harus berhenti bermain atau menonton Pokemon karena ada fatwa yang menyatakan Pokemon adalah game anti islam. Jika kami tetap melakukannya, anak-anak lain di kelas akan bergosip tentang dosa-dosa kami.

Beberapa game seperti God of War dan baru-baru ini Bayonetta 2 juga dilarang. Fatwa-fatwa ini sangat berpengaruh, sampai-sampai sering dibahas dalam kelas agama di sekolah dan diterapkan di toko-toko game original.

Cupilkan adegan Devil May Cry 3, dimuat seizin Konami

Pernah suatu hari, saya kedapatan membahasDevil May Cry 3 oleh seorang guru. Dia meminta saya menjelaskan apa itu DMC. Selidik punya selidik, pak guru ini kalang kabut cuma karena satu hal: ada kata "Devil" dalam judulnya. Saya tenang saja menjawab pertanyaannya "Jadi gini Pak, ini game berburu setan. Karakternya ada dua: manusia dan setan." Wajah guru saya langsung tegang. Dia buru-buru meminta saya membawa kaset gamenya besok agar bisa dihancurkan di kelas, tentunya semua itu dilakukan atas nama agama.

Saya tak sependapat dengan guru saya. Malah, sejatinya saya tak peduli-peduli amat dengan kelas agama di sekolah, salah satunya karena tak seperti teman sekelas dan guru-guru di sekolah, saya adalah seorang muslim Syiah.

Arab Saudi adalah kerajaan mayoritas Sunni. Mazhab Sunni dan Syiah adalah dua sekte Islam yang berseteru sejak mangkatnya Nabi Muhammad. Sebelum pindah ke Riyadh, keluarga kami bermukim di provinsi timur Arab Saudi, kantong muslim syiah di Negeri Petro Dollar itu.

Saya tak pernah mengaku sebagai seorang Syiah karena jauh-jauh hari orang tua saya berpesan agar merahasiakannya. Awalnya, saya tak memahami kenapa harus melakukannya. Namun, seiring bertambahnya usia, saya mulai mengerti alasannya. Guru-guru di sekolah sering berbusa-busa menceramahi kami tentang kebejatan kaum syiah, berusaha membuat syiah terlihat jelek di depan teman-teman sekelas saya. Singkatnya, orang Syiah jauh lebih berbahaya dari kaum kafir.

Konflik Sunni-Syiah merembes ke semua aspek kehidupan di ruang publik, di kantor, dan sekolah. Di tempat-tempat ini hierarki dan hubungan sosial banyak dipengaruhi oleh dikotomi Sunni-Syiah. Perbedaan ini makin mempengaruhi pergaulan kami ketika kami beranjak dewasa. Suatu hari, teman-teman saya akhirnya tahu saya syiah gara-gara salah satu ayah teman yang dengan ayah saya. Saya langsung menyangkalnya ketika mereka mulai memojokkan, saya takut mereka akan meninggalkan saya. Setelah insiden itu, jumlah teman saya berkurang drastis. Teman-teman di kelas mulai menjauhi saya.

Hidup saya berantakan. Itu adalah masa-masa berat dalam hidup. Puncaknya saya rasakan saat duduk di kelas 5 dan 6 SD. Saya membuat berbagai alasan untuk tidak pergi sekolah, mulai dari pura-pura sakit sampai sengaja bikin kaki cedera. Saya sering bolos kerena tak mau jadi pesakitan di sekolah. Saya tak mau disisihkan oleh teman dan guru.

Seorang guru pelajaran Al Qur'an mengancam tak meluluskan saya karena satu alasan brengsek: saya Syiah. Teman-teman mengancam akan mengeroyok saya lagi-lagi dengan alasan serupa. Ketika saya melaporkan hal ini ke petugas administrasi sekolah, mereka malah minta saya berhenti bikin onar. Nilai-nilai saya anjlok. Selepas sekolah kelar, saya langsung pulang dan bermain game sampai bosan, lalu tidur sampai esok harinya. PR? Saya terlalu malas menyentuhnya. Untungnya, dalam masa-masa berat ini, saya punya sedikit teman yang setia—tanpa mereka, hidup mungkin terasa lebih pahit.

Bermain video game jadi modal saya melewati masa-masa berat itu. Bagi saya, game selalu setia, tak pernah berubah, memusuhi, atau meninggalkan saya. Game jugalah yang membuat saya dan teman-teman bisa saling memahami sekte masing-masing, baik itu syiah atau sunni. Kami semakin akrab karena game menyediakan ranah dan hobi yang bisa dilakukan bersama.

Adegan dari Counter-Strike, dimuat seizin Valve.

Beberapa memori paling indah dalam hidup saya terekam melalui game Counter-Strike yang kami mainkan sepulang sekolah. (Saya masih takjub jika ingat game itu saya mainkan di PC kacrut saya. Saya tak tahu siapa dulu yang nekat menginstalnya di komputer sekolah yang punya koneksi dial up). Kawan-kawan sesama pemain CS sangat majemuk. Beberapa berasal dari keluarga terhormat atau bahkan keluarga bangsawan Saudi, beberapa lainnya dari keluarga yang kurang mampu. Lalu tentu saja ada saya, wakil kaum paria di sekolah. Seiring kami beranjak dewasa, semuanya menjadi lebih baik. Orang-orang mulai bisa menerima saya.

Lewat lingkup perkawanan saya yang kecil ini, saya akhirnya menemukan beberapa kawan lama. Beberapa dari mereka masih keki karena saya syiah. Lagi-lagi, yang membuat kami kembali berteman adalah kecintaan kami pada game.

Memainkan game—entah itu bajakan atau orisinal—membuat kami bisa menghidupi fantasi kami dan menantang struktur kolot masyarakat Arab—terutama kalau kami kumat bermain game yang dilarang. Tentu saja, saya tidak mengatakan bahwa pembajakan game itu suatu yang mulia. Namun, saya harus mengakui bahwa tanpa game bajakan kami tak akan seakrab ini.

Saya bahkan bisa menyatakan beragam game bajakan memungkinkan kami merasakan kultur gaming yang sangat luas dan terbuka, sesuatu yang berlawanan dengan kultur beragama di Arab yang diskriminatif. Pembajakan game memungkinkan hampir semua orang—berapapun pendapatan keluarga mereka—di sekolah kami bisa memborong game dengan harga yang bersahabat. Semua orang sepertinya bermain game. Tak ada satupun yang tersisihkan.

Gambar Katamari Damacy dimuat seizin Namco-Bandai

Pembajakan juga memungkinkan saya melakukan sedikit eksperimen: menyakinkan teman-teman untuk bermain game seaneh Katamari Damacy karena harganya cuma 20 Riyal. Tanpa pembajakan game, saya mungkin tak bisa sedikit nakal, bermain game-game terlarang seperti GTA. Dan tentu saja, game-game ini dengan setia menemani saya melewati masa-masa berat saat remaja. Game-game itu juga yang membuat saya dan beberapa teman begitu lengket.

Suatu hari, pada semester terakhir sebelum saya pindah ke Amerika Serikat, saya berkumpul bersama teman-teman terdekat. Saat itu jam makan siang. Kami kabur ke mushola. Saya akhir membuka kartu. Saya bilang pada mereka, saya seorang syiah.

Saya tak tahu mereka akan bereaksi seperti apa. Saya takut pertemanan kami akan berakhir runyam. Ada senyap yang menggantung pasca pengakuan itu. Saya mulai menyesalinya. Perut saya mulai mual. Saya kembali mengulangi ucapan dengan gemetar bahwa teman main game mereka itu seorang syiah. Setelah beberapa saat, teman-teman saya akhirnya mau membuka mulut "yaelah, kami sudah tahu. Kami tak peduli." "Kita berteman. Itu yang penting," sahut yang lain.

Dan tentu saja, diimbuhi ucapan, "kita ini bersaudara!"