Tekno

Robot Segera Mengambil Alih Mayoritas Pekerjaan Manusia di Negara Berkembang

Dampak negatif hilangnya lapangan pekerjaan di negara maju, gara-gara otomatisasi, tak seburuk negara berkembang seperti Indonesia. Selain itu, pemenang utama tentu saja mereka yang punya robot.

oleh Jordan Pearson
11 November 2016, 10:12am

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard.

Ada semacam keyakinan buruh-buruh bergaji rendah paling terancam oleh kehadiran robot sebagai tenaga kerja. Padahal jika dilihat dari kacamata global, laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan yang paling menderita dari skema otomatisasi alat produksi adalah pekerja-pekerja dari negara berkembang.

Menurut laporan Konferensi PBB mengenai Perdagangan dan Pembangunan, otomatisasi bakal mengurangi sebagian kesempatan kerja para buruh bergaji rendah di Amerika Serikat dan Kanada. Sedangkan di negara berkembang, termasuk Indonesia, ancaman ragam pekerjaan hilang digantikan mesin jauh lebih tinggi.

Menurut laporan yang sama, negara-negara berkembang bisa kehilangan "sekitar dua per tiga dari seluruh mata pencaharian penduduk." Ini adalah angka yang sangat tinggi, melebihi angka estimasi hilangnya pekerjaan akibat otomatisasi di negara-negara Barat.

Kondisi tersebut dipicu banyaknya perusahaan-perusahaan multinasional memindahkan operasi bisnis mereka ke negara-negara berkembang, dengan alasan biayanya rendah dan profitnya tinggi.

"Meningkatkanya penggunaan robot berisiko mengikis tenaga-tenaga kerja manual yang murah di negara berkembang," tulis laporan tersebut. "Ini akan sangat merugikan negara-negara berkembang."

Biarpun laporan PBB tersebut hanya membahas dampak dari penggunaan robot di tempat kerja, masalah sesungguhnya adalah perilaku perusahaan yang semata mencari profit. Dan di ekonomi global, pergeseran tenaga kerja tidak hanya mempengaruhi negara-negara kaya, tapi juga seluruh dunia. Contohnya, di Cina, para pemilik pabrik memanfaatkan rencana otomatisasi sebagai amunisi meyingkirkan buruh-buruh yang bermasalah, terutama yang berani membangkang pada perintah manajemen serta aktif berserikat.

Laporan ini menyebutkan bahwa negara-negara yang paling banyak menggunakan robot akan meningkat pesat produktifitasnya. Cina merupakan negara pembeli robot terbanyak saat ini. Namun dilaporkan juga bahwa negara-negara yang tidak mempunyai dana untuk membeli robot masih bisa bersaing...dikit.

Negara-negara dengan banyak pekerja kelas rendah (bergaji rendah) bisa unggul di area-area yang belum dikuasai robot. Contohnya, pembuatan kain. Dengan kata lain, biaya untuk pengembangan dan penggunaan robot mungkin lebih tinggi daripada sekedar membayar gaji murah manusia yang sudah terbiasa membuat kain.

"Teknologi baru selalu membawa keuntungan dan resiko secara bersamaan," jelas laporan tersebut. Memang, pemikiran berbasis pasar menyatakan bahwa apabila perusahaan mulai menggunakan robot, maka ekonomi akan meminta robot-robot tersebut mengerjakan pekerjaan yang membutuhkan tingkat keterampilan yang lebih tinggi. Ujung-ujungnya, keseimbangan pasar akan tetap terjaga.

Laporan ini juga menganjurkan pelatihan teknologi bagi anak-anak agar mereka bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan yang belum terjarah oleh robot.

PBB memperkirakan masa depan industri tenaga kerja akan suram. Negara-negara maju akan kehilangan banyak pekerjaan. Negara-negara berkembang akan kehilangan lebih banyak lagi mata pencaharian. Tapi paling enggak ada pihak-pihak yang meraup uang dari semua ini.

Tagged:
Motherboard
robot
kapitalisme
Vice Blog
Negara Berkembang
Otomatisasi
PBB
Buruh
Perburuhan