Cerita Bad Brains Menciptakan Album Funk Metal Terbaik 30 Tahun Lalu

I Against I adalah album pertama meleburkan genre funk dan metal yang bertolak belakang, menjadi musik seksi, berat, sekaligus terkesan modern.

|
13 Desember 2016, 4:27am

HR beraksi di salah satu konser Bad Brains pada 1990 di Wetlands, New York. Foto oleh Steve Eichner/WireImage

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US.

Saat seseorang menyebut Bad Brains berpengaruh terhadap perkembangan musik rock Abad 20, maka pernyataan itu sama mubazirnya dengan orang yang tiba-tiba nyeletuk Nabi Ibrahim berjasa besar bagi perkembangan agama samawi. Henry Rollins tidak akan membentuk band, jika tak pernah tertimpa tubuh vokalis Bad Brains yang melakukan stage dive di sebuah pertunjukan pada 1985; Beastie Boys tidak akan pernah berani melakukan transisi dari sebuah band punk menjadi grup hip-hop seandainya mereka tidak pernah tahu ada grup hardcore seperti Bad Brains yang seluruh personelnya berkulit hitam; Tentu saja, trivia lain yang populer adalah betapa berbedanya suara drum 'Smells Like Teen Spirit' bila Dave Grohl tidak meminjam beberapa ritem dan isian khas milik Earl Hudson, drummer Bad Brains. Bad Brains berpengaruh bagi setiap musisi yang tahu rekam jejak band hardcore asal Washington D.C itu. Lalu untuk apa lagi menambah artikel mengulas Bad Brains?

Dari berbagai genre yang dipengaruhi kiprah band hardcore itu, ada satu aliran musik yang sekarang sekilas tak berhubungan dengan Bad Brains: funk metal. Padahal Bad Brains berjasa mempopulerkan sound funk metal saat karir mereka masih jaya.

Di pertengahan 80-an, Bad Brains menggeber tempo musik-musiknya dalam dua gaya yang sangat kontras. Yakni tentu saja irama punk ngebut berkecepatan tinggi dan musik proto dub.

"Mereka memainkan musik hardcore superkencang, lalu tiba-tiba saja di lagu berikutnya mereka seakan membalik halaman dari buku yang berbeda dan lagunya berubah jadi reggae," kata Ron Saint Germain, sosok yang memproduseri album ketiga Bad Brains pada 1986: I Against I.

Album itu dikenal berkat kekayaan sound di dalamnya. Kesepuluh lagu yang tampak berasal dari genre berbeda-beda dapat melebur satu sama lain tanpa kendala di telinga. Bad Brains mengoplos sound bas yang sangat lentur dan dinamis, ritem-ritem penuh sinkopasi, riff gitar yang sangat menyerupai tradisi hair metal, setelan bunyi snare drum yang meruang, dan vokal yang sangat berkarakter dari H.R. Kombinasi itu semua jelas terpengaruh tradisi funk.

"Kami berasal dari D.C, jadi wajar bila musik funk mempengaruhi kami," kata Dr. Know, gitaris utama Bad Brains. "Memasukkan unsur funk dalam lagu-lagu kami adalah cara meneguhkan identitas dari mana kami berasal."

I Against I bukan album pertama yang menggabungkan hard rock dengan elemen funk atau soul. Funkadelic sudah melakukannya lebih dulu pada era 1970-an. Meski demikian, I Against I adalah yang pertama meleburkan genre sekilas bertolak belakang itu menjadi sebuah musik yang seksi, berat, sekaligus terkesan modern.

Funk metal terhitung genre musik yang banyak dibenci sekaligus agak terlupakan di masa sekarang. Genre ini melahirkan band-band semacam 311, Sugar Ray, Incubus dan banyak peniru lainnya yang kurang dikenal. Mulai dari personel tukang headbang yang membetot bas menggunakan teknik slapping, serta nama-nama band yang serupa tapi tak sama: Style Monkeez, Psychofunkapus, Guano Apes, SuperJunky Monkey. Jika didengarkan lagi, lagu-lagu funk metal terdengar sangat ketinggalan zaman. Genre oplosan ini hanya bertahan beberapa tahun saja di industri musik arus utama. Tapi, dalam masa hidup yang singkat, funk metal berjasa melahirkan subgenre lain yang banyak dikecam: nu metal.

Pada 1986, Bad Brains adalah satu dari sedikit band yang merobohkan batasan genre antara funk dan metal. Selain Bad Brains, yang melakukan eksperimen musik serupa adalah Living Colour dan Fishbone. Dua nama yang disebut belakangan lebih mendekati perkawinan hard rock dengan ska penuh bunyi terompet. Walaupun agak berbeda dari sound Bad Brains, namun dua band itu merasa menjadi bagian pergerakan funk metal yang sama. "Saat itu masa-masa menyenangkan," kata Vernon Reid, penulis lagu sekaligus gitaris Living Colour.

"Aku membentuk band itu beberapa tahun sebelumnya, tapi baru pada 1986, setelah Corey Glover bergabung sebagai vokalis, semua hal mulai menemukan bentuk idealnya. Bad Brains saat itu sudah mulai berpengaruh di kancah underground. Ketika I Against I dirilis, semuanya menggila. Album itu dirilis tepat saat demam funk metal melanda banyak orang," kata Vernon.

Glover menyatakan Living Colour bukan kolektif musisi yang memahami akar musik funk. Sehingga, bagi mereka, I Against I memberi pelajaran penting.

"Ada bagian-bagian di album itu yang terasa familiar, karena kita berasal dari kancah yang sama dan memainkan musik yang tidak jauh berbeda. Kami menggabungkan hard rock, mengisinya dengan nuansa funk serta musik-musik Karibia. Tapi, jujur saja, tidak ada yang memainkannya sebaik Bad Brains," kata Glover.

Vokalis Fishbone, Angelo Moore, menyatakan Bad Brains berhasil menggabungkan musik ekstrem dengan genre yang sekilas tidak cocok jika dimainkan bersamaan. "Funk dan hardcore tidak cocok dilihat dari sisi manapun, termasuk segi tempo atau attitude-nya, tapi nyatanya di tangan Bad Brains eksperimen semacam itu berhasil." Moore menambahkan, bahwa album ketiga Bad Brains adalah bentuk evolusi bunyi yang belum pernah dia dengar sebelumnya dari kancah hardcore. Faktor penting lainnya bagi Moore adalah status para personel Bad Brains sebagai warga kulit hitam AS yang memainkan musik punk di hadapan penonton yang rata-rata kulit putih. "Mereka sangat membuat saya merasa terbebaskan. Album [I Against I] seakan mengatakan 'kami akan melakukan apapun tak peduli yang orang katakan', itulah perasaan yang saya dapat ketika mendengar album tersebut," kata Moore.

Bad Brains saat tampil di Nightclub 9:30, Washington, DC, pada 1983. Sumber foto dari kontributor Wikimedia Commons Malco23

Red Hot Chili Peppers, pada pertengahan 80-an, masih memainkan musik rock yang sangat didominasi bunyi funk. Kemudian album I Against I dirilis. Semua personel RHCP langsung jatuh cinta. Flea menyatakan musik Bad Brains sebagai "the core of the real shit."

John Frusciante setidaknya pernah membuat cover dua lagu Bad Brains, sedangkan Anthony Kiedis mengungkapkan secara terbuka kekagumannya pada band itu saat diwawancarai sebuah dokumenter pada 2012. Chad Smith, drumer RHCP, belum pernah mendengar Bad Brains ketika bergabung pada 1988. Smith ingat sekali Kiedis berkukuh memberinya nasehat untuk mengubah gaya menggebuk drum mengikuti contoh Bad Brains. "Dengarkan Bad Brains bung, itu band paling gahar sepanjang masa!"

Intinya, kita tidak bisa mengabaikan pengaruh penting I Against I atas terbentuknya musik khas sebuah era. "Pada masa itu, tidak ada band lain yang punya sound seperti Bad Brains," kata Reid. Saint German yang beberapa tahun kemudian bekerja bersama Sonic Youth, 311, Tool, dan banyak band ikonik 90-an lainnya, menyatakan jasa Bad Brains sangat besar kepada musisi-musisi yang besar satu dekade setelah mereka mencapai puncak kejayaan.

"Selama 46 tahun berkecimpung di dunia rekaman, saya bisa bilang tanpa ragu bahwa pujian yang paling banyak saya terima sebagai produser justru datang dari I Against I, dibanding album-album lainnya," kata Saint German.

"Saya pernah dipertemukan dengan Billy Corgan. Tiba-tiba saja Corgan berlutut, mencium kaki saya. Dia memuja hasil kerja saya di album I Against I yang menurutnya agung."

Saat ini, I Against I memang kalah populer dibanding debut album mereka di kalangan pendengar muda. Alasannya, album itu sempat mengalami penolakan dari komunitas punk. Keterangan itu disampaikan Darryl Jenifer, basis Bad Brains.

"Banyak fans Bad Brains saat itu protes, merasa album [I Against I] mengkhianati akar musik kami. 'Itu bukan Bad Brains sejati' kata sebagian dari mereka. Bagi mereka, musik Bad Brains yang pantas didengar hanya bisa dinikmati oleh mereka yang tinggal di D.C sepanjang kurun 1979 -1980," imbuhnya.

Faktor lain yang membuat album ini tak lagi populer adalah kesan tidak keren yang muncul dari genre funk metal. Setiap kali bicara funk metal, orang-orang lebih sering mengasosiasikannya dengan Incubus, Faith No More, atau RHCP. Band-band itu dikenal menghasilkan karya bermutu lebih baik, justru setelah menjauhi sound khas funk metal yang terkesan norak. Sebenarnya, anak ideologis funk metal banyak yang oke. Living Colour dan Fishbone jelas band-band yang revolusioner pada masanya. Deftones sempat menggunakan sound yang mirip untuk menyegarkan kembali kancah nu metal. Bahkan ada elemen funk metal yang bisa kita dengarkan di album-album R.E.M penghujung dekade 80-an.

Jenifer mengakui, apa yang dilakukan Bad Brains memang sulit dicari pembandingnya. "Pada masa itu, musisi kulit hitam sepertiku di D.C dianggap hanya akan memainkan funk, musisi Jamaika hanya memainkan reggae, lalu orang kulit putih akan memutar lagu-lagu Zeppelin... Bad Brains tidak mempedulikan pengkotak-kotakan semacam itu. Hasilnya, saya melihat banyak band terdorong melakukan hal yang sama. Setelah kami tampil, Beastie Boys mulai nge-rap, Chili Peppers berani bermain lebih funky. Barangkali dalam pandangan mereka saat itu, 'jika musisi kulit hitam dari D.C saja tak ragu memainkan punk rusuh, berarti saya orang kulit putih juga harus yakin bisa menjadi rapper keren'."

Sebetulnya sulit memetakan seutuhnya warisan estetik Bad Brains yang mempengaruhi band-band sesudahnya. Kalian bisa mendengarkan lagu durasi dua menit dari mereka, pisahkan dalam 10 bagian, dan masing-masing riff-nya bisa menjadi inspirasi membuat band dengan genre berbeda-beda. Satu yang pasti, rapper kulit putih tidak akan muncul tanpa Bad Brains. Sedangkan tanpa I Against I, sangat mustahil membayangkan musik era 90-an yang menampilkan band metal diiringi DJ atau Korn bisa lahir. Kalaupun ada band nu metal tanpa Bad Brains, vokalis metal yang memanjangkan rambut ala dreadlock pasti sulit ditemukan. Tentu saja, pada hakikatnya musik selalu berkembang karena benturan antar genre serta kontribusi dari semua ras. Tapi kita harus jujur, tanpa Bad Brains, proses munculnya genre-genre baru di era 90-an dan selanjutnya, sepertinya akan berlangsung lebih lambat.

"Kami tidak pernah memikirkan 'kita harus bikin lagu seperti ini' atau 'kayaknya ini sound khas kita'," kata Dr. Know. "Kami hanya memainkan musik yang kami suka, dan bila musik kami ternyata berpengaruh bagi orang lain, maka Puji Tuhan."

Follow Patrick di akun Twitter-nya.