Garam di Asia (Termasuk Indonesia) Punya Kandungan Mikroplastik Terbanyak Sedunia

Bisa jadi terdapat 2.000 biji mikroplastik dalam tempe goreng favoritmu.

|
22 Oktober 2018, 7:57am

Sumber foto: sampah di pantai oleh Jorge Silva/Reuters

Perang melawan plastik jadi memiliki tantangan baru setelah peneliti di Korea Selatan menemukan fakta mengejutkan. Menurut mereka, mayoritas produk garam dapur yang dijual di Benua Asia mengandung mikroplastik—partikel plastik yang pecah dalam laut. Jadi, untuk setiap taburan garam yang kamu tambahkan ke tempe goreng, semangkuk mi, ataupun sayur asem yang segar itu, berarti kamu sekaligus memakan plastik. Surem ya.

Kita semua tahu plastik ada di mana-mana. Penelitian lain telah menemukan bukti kandungan mikroplastik di dalam 90 persen air kemasan dan 83 persen air keran di seluruh dunia (bukannya kita mau minum air keran juga). Mikroplastik telah mengontaminasi kelautan, perikanan, dan sekarang garam kita. Tetapi adanya mikroplastik di garam dapur membuat permasalahan ini terasa jauh lebih parah.

“Penelitian terbaru telah menemukan mikroplastik di seafood, air keran, dan kini di dalam garam," ucap Mikyoung Kim, juru kampanye di Greenpeace Asia, yang mensponsori penelitian tersebut. "Jelas kita tidak bisa melarikan diri dari krisis plastik ini, terutama saat plastik terus menembus ke saluran air dan kelautan kita."

Penelitian terbaru dari Korsel memeriksa 39 merek garam yang dijual di seluruh dunia dan menemukan kandungan mikroplastik di 90 persen sampelnya. Menurut Seung-Kyu Kim, profesor ilmu kelautan di Universitas Incheon anggota penelitian sekaligus penulis penelitian ini garam yang dijual di kawasan Asia mengandung tingkat mikroplastik tertinggi. Terutama garam yang dijual di Indonesia. Jika rata-rata orang Indonesia mengonsumsi 10 gram garam per hari, dalam setahun kita berpotensi mengonsumsi 2.000 mikroplastik.

Ada hubungan yang jelas antara jumlah sampah plastik yang diproduksi oleh sebuah negara dan level mikroplastik di garam yang dijual di supermarket, ujar Seung-Kyu Kim.

"Temuan ini menunjukkan bahwa konsumsi mikroplastik melalui produk-produk kelautan sangat berhubungan dengan produksi sampah plastik di daerah tertentu," katanya. "Untuk membatasi dampak dari mikroplastik, kami butuh tindakan pencegahan seperti mengontrol pembuangan sampah plastik dan lebih penting lagi, mengurangi pembuangan plastik secara umum."

Indonesia merupakan kontributor sampah plastik terbesar kedua di dunia setelah Cina. Dalam satu tahun, Indonesia memproduksi lebih dari 3 juta ton metrik sampah plastik dan setengah darinya masuk ke laut.

Semua plastik ini bertanggung jawab atas pemandangan laut yang penuh sampah yang mengambang—ikonik sekaligus menyedihkan. Pulau Bali di Indonesia sering muncul dalam cerita “ laut plastik” karena pulau tersebut a) penuh turis dan b) tidak memiliki sistem pemungutan sampah yang resmi.

Bahkan lingkungan laut di Indonesia yang terlihat bersih seperti pulau Sumba, nyatanya penuh mikroplastik. Peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia telah menemukan “kelimpahan” mikroplastik di kelautan Sumba, yang dengan jelas menyatakan bahwa masalah ini jauh lebih besar dari beberapa pantai bersampah di Bali.