Iklan
Jamal Khashoggi

Erdoğan Blak-Blakan Ungkap Detail Pembunuhan Jamal Khashoggi, Pangeran MBS Tak Disinggung

"Pembunuhannya sangat sadis," kata Presiden Turki sambil menuntut pelaku yang menewaskan jurnalis Arab Saudi dari latar Ikhwanul Muslimin itu diadili. Turki belum mau menuduh putra mahkota Saudi terlibat.

oleh David Gilbert
24 Oktober 2018, 10:33am

Sumber foto Erdoğan via Getty Images

Sejak pekan lalu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan berjanji akan mengungkap semua fakta dan kebenaran seputar pembunuhan jurnalis Arab Saudi Jamal Khashoggi di Kota Istambul.

Erdoğan benar-benar menepati janjinya pekan ini. Politikus gaek itu membeberkan kepada anggota parlemen di Ankara pada Selasa kemarin, bahwa 15 orang berkebangsaan Arab Saudi—termasuk satu jenderal, ahli forensik, dan anggota intelijen—telah merencanakan "pembunuhan yang amat kejam terhadap Khashoggi."

Keterangan yang disampaikan Erdoğan merujuk laporan intelijennya. Ini keterangan resmi perdana dari pemimpin Turki, setelah perkembangan kasus pemubunuhan ini selama berminggu-minggu di media hanya bersumber pada sosok anonim dari pemerintah. Erdogan mengungkapkan kalau ada tiga anggota intelijen Saudi tiba di Kota Istambul sehari sebelum pembunuhan, untuk mengawasi kawasan hutan dekat kota.

Turki merasa pihak Saudi sejak awal berusaha menutup-nutupi kejahatannya dengan mengeluarkan hard disk dari sistem CCTV konsulat. Erdoğan mengungkapkan staf lokal konsulat menelepon Khashoggi pada pukul 11.50 siang waktu setempat untuk memastikan dia sendiri datang pada 2 Oktober mengambil dokumen untuk melangsungkan pernikahannya.

Kendati cukup blak-blakan, Presiden Turki rupanya tidak mau langsung menuduh keluarga kerajaan sebagai dalang di balik pembunuhan jurnalis berlatar Ikhwanul Muslimin tersebut. Erdoğan hanya menyerukan penyelidikan internasional independen dan menuntut Riyadh agar mengizinkan para pelaku yang bertanggung jawab diadili di Turki. Artinya, Turki masih berhitung untuk tidak langsung merusak hubungan diplomatik dengan Saudi yang kini dipimpin Putra Mahkota Pangeran Muhammad bin Salman, biasa dijuluki MBS.

Sang putra mahkota, anak Raja Salman, setahun belakangan sering dicitrakan sebagai pembaharu kerajaan Petro Dollar itu dengan mengizinkan modernisasi, investasi asing, membebaskan perempuan menyetir, bahkan memperbolehkan bioskop buka lagi. Pembunuhan Khashoggi tak dinyana mencoreng reputasi MBS sampai nyaris lebur di mata negara-negara demokratis. Kasus ini juga membuat lawan politik MBS punya amunisi menyerang sang putra mahkota. MBS naik ke tampuk kekuasaan dua tahun belakangan dengan menangkapi sepupu-sepupunya sendiri memakai dalih pemberantasan korupsi.

"Saya tidak meragukan kejujuran Raja Salman," kata Erdoğan dalam pidatonya di hadapan parlemen. "Kendati begitu, investigasi independen perlu dilakukan. Kasus ini jelas pembunuhan politik."

Erdoğan menambahkan bahwa Khashoggi, jurnalis yang beberapa tahun ini menetap di Amerika Serikat dan menulis untuk the Washington Post, adalah "korban pembunuhan yang paling sadis." Khashoggi berteman dengan banyak lingkaran pejabat ring 1 Turki karena latar belakangnya di organisasi ikhwanul muslimin. "Kemanusiaan akan rusak dan dirugikan apabila kita menutup-nutupi kekejaman seperti ini," imbuh Erdogan.

"Sekarang sudah jelas memang terjadi pembunuhan—bahkan kesimpulan ini sudah jelas dari awal —lalu kenapa ada pernyataan yang membingungkan sebelumnya dari Saudi? Di mana jasadnya? Kenapa jasadnya belum ada juga?" tanyanya.

Erdoğan menghargai Kerajaan Saudi setidaknya sudah berani mengambil "langkah signifikan" dengan mengakui terjadi pembunuhan. Namun mewakili pemerintah Turki, dia mengeluarkan enam pertanyaan kepada Riyadh agar direspons segera:

  • Kenapa 15 orang tersebut berkumpul di Istanbul pada hari pembunuhan?
  • Siapa yang memerintahkan mereka membunuh Khashoggi?
  • Mengapa gedung konsulat tidak segera dibuka setelah Khashoggi menghilang?
  • Mengapa pemerintah Saudi sesudah hilangnya Khashoggi merilis banyak pernyataan yang tidak konsisten?
  • Mengapa jasadnya tidak kunjung ditemukan atau diserahkan pada otoritas Turki?
  • Siapa kolaborator lokal yang disebut-sebut oleh pejabat Saudi telah mengambil jasad Khashoggi?

Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu sebelumnya mengatakan negaranya bersedia membantu proses penyelidikan independen oleh badan internasional seperti PBB atau Mahkamah Pidana Internasional untuk menuntaskan kasus pembunuhan Khashoggi.


Tonton dokumenter VICE News saat mendatangi kantor media Turki yang mengungkap data seputar pembunuhan sadis Jamal Khashoggi oleh belasan intel Saudi:


Seruan internasional agar penyelidikan independen dilibatkan dalam kasus pembunuhan Khashoggi terus meningkat. Sementara pihak Saudi susah payah memberikan penjelasan yang bisa dipercaya tentang apa yang terjadi di konsulatnya pada 2 Oktober lalu. Sekutu dekat Saudi, seperti Amerika Serikat, pelan-pelan tidak mau ngotot membela. Presiden AS Donald Trump menugaskan direktur CIA Gina Haspel ke Turki membantu proses penyelidikan yang sedang berlangsung di sana. Trump berjanji akan "mengupas tuntas seluruh detail kejadiannya."

Trump mengaku tidak puas dengan penjelasan Saudi akhir pekan lalu, tetapi dia enggan menyalahkan Putra Mahkota MBS, yang menghadapi banyak tekanan akibat dugaan keterlibatannya dalam merencanakan pembunuhan sang jurnalis. Sebelumnya Riyadh mengumumkan bahwa raja telah memecat Jenderal Ahmed al-Assiri, wakil kepala intelijen Saudi dan penasehat MBS. Sang jenderal kemungkinan otak di balik pembunuhan Khashoggi. Namun, upaya politik ini tampaknya tak mampu memuaskan para pengkritik pangeran dari berbagai negara.

Menteri Luar Negeri Saudi Adel al-Jubeir, berbicara di Indonesia, menyatakan Kerajaan berkomitmen melakukan “penyelidikan komprehensif” demi mengungkap kebenaran dari kematian jurnalis yang dulu dekat dengan keluarga kerajaan Saudi tersebut. Negeri Petro Dollar itu mengklaim sudah mengirim tim ke Turki.

Putra Mahkota MBS sendiri dijadwalkan berbicara dalam konferensi investasi di Riyadh, berlangsung 23-24 Oktober 2018 bertajuk 'Davos in the Desert'. Gara-gara ramainya kasus ini, MBS memutuskan tidak menghadiri acaranya. Konferensi ini jadi anjlok pamornya, gara-gara aksi boikot beberapa pejabat negara mitra Saudi setelah terkuaknya skandal pembunuhan Khashoggi. Termasuk yang batal hadir di antaranya Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin dan Kepala Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde. CEO Softbank Masayoshi Son ikut membatalkan rencana berpidato di depan tamu konferensi yang harusnya jadi forum diplomasi ekonomi andalan Saudi.

Di tengah investigasi yang masih berlangsung, kantor berita Reuters mendapat laporan terbaru soal detail pembunuhan Khashoggi. Laporan ini pasti membuat pendukung Sang Pangeran Saudi makin kalang kabut. Mengutip intelijen Turki dan sumber terpercaya yang memiliki akses ke pengadilan kerajaan Saudi, Reuters mewartakan kalau Saud al-Qahtani, penasehat MBS, memerintahkan pembunuhan Khashoggi lewat Skype. Qahtani dilaporkan berkomunikasi langsung dengan para pelaku yang beraksi dalam ruangan konsulat Saudi di Istambul. Qahtani bahkan menghina mendiang jurnalis itu sebelum menyuruh salah satu pembunuh beraksi dengan seruan, "penggal kepalanya."

Laporan Reuters didasarkan pada informasi narasumber pejabat Saudi berpangkat tinggi yang tidak disebut namanya tapi memiliki akses kepada data intelijen, ditambah pengakuan anggota pengadilan kerajaan Arab Saudi. Pejabat intelijen Turki yang mengklaim memiliki rekaman suara dari pembunuhan tersebut juga dihubungi untuk verifikasi.

Qahtani mungkin nanti dihukum tanpa kasusnya sampai menyeret putra mahkota, tapi pernyataan sang pejabat kepercayaan MBS itu akan terus menghantui pihak kerajaan Saudi.

"Kamu kira saya akan membuat keputusan tanpa perintah atasan? Saya bekerja untuk raja dan putra mahkota, dan akan mengikuti seluruh perintah mereka sampai kapanpun," demikian bunyi twit Qahtani tiga bulan lalu.

Qahtani juga dituduh mendalangi penangkapan ratusan pangeran dan keluarga kerajaan di Saudi atas dasar pemberantasan korupsi. Dia pun mengatur penculikan singkat Perdana Menteri Lebanon Saad al-Hariri pada 2017 lalu. Keping puzzle pembunuhan Khashoggi mulai tersusun lengkap. Kini keping yang masih hilang tinggal alasan sang jurnalis pelarian dibunuh dan bagaimana nasib politik MBS, sang putra mahkota, di masa mendatang.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News

Tagged:
News
erdogan
Berita
Reccep Tayyip Erdogan
Timur Tengah
Turki
Pembunuhan Politik
Kerajaan Arab Saudi
Politik Luar Negeri
Putra Mahkota Saudi
Muhammad bin Salman
Pembunuhan Khashoggi
Pembunuhan Jurnalis