Kalian Wajib Peduli: Makin Banyak Serangga Terancam Punah, Dampaknya Buruk Bagi Bumi

Lebih dari 40 persen serangga di seluruh planet terancam punah. Keseimbangan ekosistem pasti terganggu.

|
15 Februari 2019, 8:43am

Kupu Kupu Ratu di alam liar. Foto oleh Simon Koopman 

Populasi serangga di berbagai negara menyusut drastis. Macam-macam jenis serangga, mulai dari kupu kupu, kumbang, ataupun lebah, diprediksi segera punah kurang dari satu abad.

Data penelitian anyar dalam Jurnal Biological Conservation itu amat mengkhawatirkan. Pasalnya, lebih dari 40 persen jenis serangga diperkirakan bakal punah di sepanjang Abad 21. Pemicunya bervariasi. Faktor utama tentunya ekspansi lahan oleh manusia, membuat habitat serangga terancam. Faktor lain yang berperan adalah polusi pestisida dan perubahan iklim.

"Kecuali manusia mau mengubah cara kita memproduksi pangan, maka akan lebih banyak serangga punah dalam sekian dekade ke depan," begitulah kesimpulan Francisco Sánchez-Bayo, ahli serangga dari University of Sydney yang menulis penelitian tersebut bersama Kris Wyckhuys, dari the China Academy of Agricultural Sciences. "Kita tidak bisa meremehkan dampak punahnya berbagai varian serangga terhadap keseimbangan ekosistem di planet Bumi."

Serangga adalah hewan yang berperan besar dalam rantai makanan di dunia. Bahkan, sebelum ditemukan proses pertanian modern, kesuksesan manusia bercocok tanam dipengaruhi keberadaan serangga di satu kawasan. Tanpa lebah, semut, kupu kupu, ataupun kumbang, maka proses penyerbukan tanaman mustahil bisa berlangsung. Serangga adalah agen yang membawa serbuk sari sehingga bisa jatuh di kepala putik. Kalau tak ada penyerbukan, otomatis panen beberapa jenis tanaman tidak terjadi.

Itu baru satu aspek manfaat serangga. Jangan lupa, serangga adalah nutrisi utama bagi burung, ikan, dan beberapa mamalia. Sebagian binatang yang makan serangga sebagai asupan gizi hariannya, juga dikonsumsi manusia. Kalau jumlah serangga berkurang, otomatis banyak binatang kehilangan rantai makanan yang normal. Tinggal tunggu waktu sampai manusia ikut merasakan dampaknya.

Ilmuwan sebetulnya sejak jauh-jauh hari sudah memperingatkan bahaya penyusutan jumlah serangga secara global. Sánchez-Bayo adan Wyckhuys hanya memperbarui data dari 73 penelitian sejenis yang sudah diterbitkan berbagai jurnal ilmiah sebelumnya, tentang ancaman kepunahan serangga secara massif.

Dari data terbaru, laju kepunahan serangga mencapai 2,5 persen per tahun. Artinya, tingkat kepunahan serangga delapan kali lebih cepat dibanding populasi mamalia, burung, dan reptil. Jika tak ada kebijakan konkret dari berbagai negara untuk mencegahnya, bukan tidak mungkin 100 tahun lagi mayoritas serangga musnah dari Planet Bumi. "Kemungkinan tersebut tentu saja mengkhawatirkan," seperti dikutip dari kesimpulan penelitian tersebut.

"Kami ingin semua orang sadar betapa bahayanya kondisi ini bagi umat manusia," kata Sánchez-Bayo saat diwawancarai the Guardian.

Kepunahan massal serangga disinyalir mulai terjadi pada Abad 20, dipicu oleh industrialisasi dan perluasan lahan pertanian sepanjang periode Revolusi Hijau. Manusia banyak membangun pabrik yang memakai energi fosil, memicu polusi udara. Sawah-sawah juga tak lagi memakai metode organik, melainkan pestisida. Serangga yang paling pertama kena akibatnya. Penelitian Sánchez-Bayo menyoroti pemakaian pestisida sebagai biang kerok terbesar mempengaruhi habitat serangga.

Beberapa famili dalam taksonomi serangga yang paling cepat punah di daratan adalah Lepidoptera (ngengat dan kupu kupu), Hymenoptera (mencakup lebah dan semut), dan Coleoptera (kumbang tahi). Kondisi tak jauh beda dialami serangga yang hidup di kawasan pesisir laut, ataupun daerah rawa dan danau. Capung dan serangga air dari golongan Ephemeroptera ikut anjlok populasinya sejak 1950-an di berbagai negara.

"Intensifikasi lahan pertanian ternyata merusak lingkungan jauh lebih buruk dibanding perkiraan awal," kata Sánchez-Bayo. "Selain karena pemakaian pestisida, kebutuhan lahan pertanian yang terus meluas membuat pohon-pohon dan semak alami di berbagai kawasan menghilang drastis. Padahal kawasan macam itu adalah habitat serangga."

Biang kerok lain tentu saja perubahan iklim, yang jika dirunut lagi penyebabnya balik ke umat manusia. Suhu bumi menghangat akibat aktivitas manusia memasuk karbon monoksida ke atmosfer tanpa henti. Karbon-karbon tadi berasal dari aktivitas pabrik, kendaraan bermotor, dan semua jenis proses pembakaran energi fosil—alias Bahan Bakar Minyak. Solusinya ada, tapi tak pernah diseriusi. Negara besar macam AS, Tiongkok, ataupun Indonesia tak nampak serius berusaha beralih memakai energi terbarukan: listrik dari energi surya, angin, hingga geotermal.

Ketika suhu bumi menghangat, cuaca jadi kacau. Jangan mengira Indonesia tidak terdampak ya. Perhatikan saja, sekarang musim hujan dan kemarau tidak berlangsung normal seperti zaman dulu. Banjir lebih sering terjadi. Begitu pula longsor. Nah, kerakusan manusia mengorbankan serangga bisa panjang akibatnya.

Ingat, serangga sudah ada di Planet Bumi selama 400 juta tahun lamanya. Keberadaan mereka membuat rantai makanan global berlangsung normal selama ini. Minimal, menyepelekan nasib serangga sama dengan mengabaikan masa depan industri pertanian, yang ironisnya menghabisi populasi hewan tersebut selama ini.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard