LGBTQ di Indonesia

Pengalamanku Sebagai Queer di Indonesia yang Punya Hubungan Rindu-Dendam Sama Kondangan

Kesetaraan pernikahan bagi semua orientasi seksual mustahil terjadi di Indonesia. Aku pun tak berani berkhayal bisa menikah suatu saat.

oleh Bintang Lestada
28 Maret 2019, 9:10am

Ilustrasi oleh Yasmin Hutasuhut 

Semasa kecil dulu, aku paling suka diajak kondangan sama orang tuaku. Aku enggak terlalu kenal mempelai, karena biasanya kami datang hanya untuk makanan lezatnya yang selalu gratis. Namun, aku diam-diam terkesan dengan kemegahan pesta pernikahan. Aku menyukai semua detailnya; mulai dari rangkaian bunga, taplak meja pastel hingga para tamu undangan yang berpakaian glamor. Segala sesuatu di pesta pernikahan jadi tampak istimewa.

Aku dulu selalu memimpikan hari pernikahanku. Tapi sekarang, di usia ke-24, aku enggak yakin semua itu bisa menjadi kenyataan. Apalagi mengingat aku seorang gay yang mengidentifikasi diri sendiri sebagai nonbiner. Kemungkinan menikahi sesama jenis di Indonesia terasa sangat mustahil.

Kira-kira sejak dua tahun lalu, aku mulai menerima undangan pernikahan dari teman-teman sebaya. Awalnya jarang, tapi lama-lama semakin tambah sering. Saking banyaknya undangan yang kuterima, aku bisa menghadiri satu kondangan tiap akhir pekan. Aku tetap senang sih diundang ke pesta pernikahan.

Masalahnya, aku enggak bisa memungkiri jauh di lubuk hati aku merasa amat sedih. Aku sadar kalau di kalangan queer seperti aku enggak akan mungkin mendapat kesetaraan pernikahan di Indonesia. Kesadaran ini membuatku merasa terasing dari teman-temanku yang kebanyakan heteroseksual.

Tiga minggu lalu, aku diundang datang ke kawinan teman satu SD. Dia mengirim undangannya lewat grup chat. Aku senggang sih pas hari pernikahannya, jadi aku merasa harus datang. Aku mengajak teman perempuan sebagai pasangan kondangan supaya enggak terlihat menyedihkan.

Saat aku dan temanku itu salaman dengan pengantin, dia berteriak kegirangan melihatku datang bareng perempuan. "Ih!!! Ini calon istrinya, ya?" tanyanya sambil menunjuk ke arah temanku.


Tonton dokumenter VICE soal pengalaman menjadi LGBTQ di Pakistan:


Pertanyaan macam “Kapan nikah?” bukan hal yang aneh di Indonesia. Seiring kamu beranjak dewasa, kamu pasti dapat pertanyaan seperti itu atau pertanyaan lain yang menjurus urusan pribadi saat menghadiri macam-macam acara. Teman-teman dekatku sudah tahu apa orientasi seksualku, jadi kami enggak pernah nanya begituan.

Aku jelas kaget mendengar pertanyaan itu dari orang yang sudah lama enggak ketemu. Untungnya, pasangan kondanganku yang super baik ini tertawa untuk menyelamatkanku. Perasaanku terlanjur campur aduk sepulang dari kondangan.

Kejadian ini menyadarkanku bahwa selama ini aku hidup di duniaku sendiri. Aku punya banyak teman heteroseksual, tapi mereka yang mengerti diriku seutuhnya hanyalah queer sepertiku. Sejak enam tahun terakhir, aku kadang lupa kalau sebagian besar orang Indonesia melakukan hal serupa saat dewasa.

Mereka wisuda, kerja, menikah, beli rumah, mengurus keluarga, dan pusing memikirkan cicilan dan biaya sekolah anak. Sementara aku, cuma bisa berharap setiap pagi dapat bertahan di negara yang semakin enggak ramah sama kalangan queer ini.

Bulan lalu, Taiwan mengusulkan UU pernikahan sesama jenis pertama di Asia. Walau agak telat, tetapi seenggaknya Taiwan sudah satu langkah lebih maju dalam mengakui hak-hak dasar kami sebagai queer. Meski demikian, aku merasa semakin sedih setiap kali menonton berita. Hal itu enggak akan pernah terjadi di sini. Seenggaknya selama aku masih hidup.

Banyak orang Indonesia yang enggak mau menerima homoseksualitas sebagai orientasi seksual yang sah. Mereka bahkan enggan mengakui keberadaan kami, atau menyadari kenyataan jika kehidupan yang kami jalani tak banyak berbeda dari mereka. Enggak ada masa depan bagi legalisasi pernikahan gay di Indonesia.

Hubungan sesama jenis dianggap menyimpang dan dosa karena nilai-nilai “ketimuran” dan agama begitu mengakar dalam budaya Indonesia. Meskipun kami sebenarnya sama saja seperti manusia lainnya, kami selalu dicap “sampah masyarakat.” Bagaimana mungkin kami bisa menuntut kesetaraan pernikahan kalau pemerintahnya saja ogah menganggap kami?

Sepekan lalu, seorang teman memintaku jadi fotografer buat proses persalinannya. Dia rencananya ingin membagikan foto-fotonya ke media sosial. Selama pemotretan, aku enggak bisa berhenti memikirkan kenapa kehidupan kami amat berbeda. Dia bisa melakukan banyak hal berkat seksualitasnya. Saat sedang istirahat, dia menanyakan soal kehidupan percintaanku. Aku tergagap karena tak tahu apa yang harus kuceritakan kepadanya.

Aku enggak mungkin dong menjelaskan soal teman kencan Grindr-ku. Ada orang-orang yang meng-ghosting aku, juga ada terlalu baik dan yang terlalu jahat kepadaku. Tak peduli bagaimana sikap mereka kepadaku, kami enggak punya masa depan yang nyata. Sederhananya, hubungan percintaanku tak akan pernah sama seperti mereka yang heteroseksual. Sepulangnya dari pemotretan, aku merasa semakin kesepian. Aku merenungkan pertanyaan yang sama berulang kali:

"Tujuan akhir orang dewasa adalah menikah. Lalu apa yang akan kamu lakukan jika kamu enggak mungkin mendapat kesempatan yang sama?"

Aku belum bisa menemukan jawabannya sampai sekarang. Namun, satu hal yang pasti, aku akan tetap menerima semakin banyak undangan pernikahan beberapa minggu ke depan. Musim kawinan di Indonesia biasanya paling banyak terjadi sebelum atau sesudah puasa. Jadi aku harus siap-siap kondangan terus.

Sakit hati yang kurasakan semakin parah setiap kali menghadiri pesta pernikahan. Satu-satunya yang bisa kulakukan sementara ini untuk menyenangkan diri adalah belanja kemeja batik. Minimal supaya aku enggak pakai baju yang sama tiap kondangan.