Iklan
Eksperimen Sosial

Aku Pura-Pura Jadi Tokoh Komunis Joseph Stalin di Tinder, Hasilnya Wow Banget

Jadi orang cakep itu enak, gampang dapat match di aplikasi kencan. Tapi bagaimana kalau dirimu meminjam wajah diktator Uni Soviet semasa muda? Apakah hasilnya akan sama? Berikut pengalamanku.

oleh Paul Schwenn; Diterjemahkan oleh Annisa Nurul Aziza
01 Februari 2020, 7:00am

Semua foto oleh penulis. 

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Jerman

Dari semua pengguna Tinder yang match sama sosok Joseph Stalin semasa muda, aku berhasil mengajak kencan Sofia. Waktu yang kami habiskan berdua sangat menyenangkan. Kami minum bir, sama-sama suka buku, dan kesal dengan orang Amerika yang menghabiskan lantai dansa. Aku sampai membatalkan rencana berhenti merokok ketika Sofia menawarkanku sebatang.

Aku terkesan dengan Sofia, tapi enggak bisa berharap lebih. Kencan kami murni untuk eksperimen, dan dia mengenaliku sebagai Joseph Stalin. Begini kronologinya:

Lima Hari Sebelumnya

Orang atraktif bisa melakukan apa saja di aplikasi kencan, dan masih banyak yang menyukai mereka. Aku jadi penasaran, apakah hal ini juga berlaku bagi diktator paling terkenal di dunia? Aku memikirkannya sambil mengamati kotak korek api oleh-oleh dari teman yang mengunjungi Georgia, tempat kelahiran mantan penguasa Soviet Joseph Stalin. Dia konon mengatakan, “Kematian satu orang adalah tragedi; kematian juta orang adalah statistik.”

Di satu sisi, Stalin digambarkan seperti yang ada di buku sejarah. Berwajah bulat, berkumis tebal, dan memiliki gaya rambut klimis. Foto Stalin di sisi lain masih tampak muda; tanpa kumis dengan rambut hitam legam. Stalin muda sekilas lebih mirip anak band indie, tapi sebenarnya dia adalah komunis totaliter yang tampan dan gagah.

Aku akhirnya membuat profil Tinder Stalin untuk melihat apakah tampangnya mampu mengelabui orang. Aku mendaftar sebagai Josef, 27 tahun.


Sialnya, Stalin lebih suka membahas kematian daripada masalah percintaan. Aku jadi kebingungan harus memakai kutipan yang mana biar pengguna Tinder tertarik dengan Stalin gadungan. Akhirnya, aku memutuskan untuk memoles sedikit penggalan pidato Stalin. Dari “Hitler bisa datang dan pergi, tapi Jerman dan penduduknya akan terus bertahan” ( “Hitlers come and go, but Germany and the German people remain”), aku ubah menjadi “Kekasih datang dan pergi silih berganti, tetapi cinta sejati bertahan untuk selamanya.” ( “Relationships come and go, but love remains.”)

Bikin profil Stalin relatif gampang, tapi kok ya… susah banget dapat match. Aku menghabiskan 15 menit buat swipe right orang-orang, tapi enggak ada satupun yang nyantol jadi match. Apakah ini artinya orang-orang menyadari kalau akun ini palsu? Apakah keterangan “FCK NZS” dan “selalu anti-fasis” kurang meyakinkan?

Aku mengatur urutan foto profil supaya lebih menarik, tapi tetap enggak ada hasil. Akhirnya aku berlangganan Tinder Plus demi fitur “super-like” dan menambahkan laki-laki sebagai preferensi. Joseph Stalin kini menjadi biseksual. Fitur ini ternyata ada faedahnya! Dalam satu jam, HP-ku ngehang sampai 15 kali karena banyak yang match. Aku swipe kanan seorang pengguna Tinder, dan tiba-tiba saja muncul pesan: “It’s a match, you and Simon like each other.”

Aku lalu mengutip Karl Marx untuk membuka percakapan. “Hei, kamerad, you’ve got nothing to lose but your chains!” Dia kemudian menjawab: “Rantai apa, nih, maksudnya? ;)”

Rantai yang dimaksud tentu saja kekuatan kapitalis yang membelenggu kelas pekerja, tapi kayaknya ini enggak cocok buat dijadikan pick-up line. Aku lalu membalas, “kamu bebas nentuin rantainya dipakai di mana ;)”.

Das Stalin-Profil unseres Autoren auf Tinder
Seperti inilah profil Tinderku yang menyamar jadi Stalin muda.

Sejak pakai Tinder Plus, kotak masuk selalu dibanjiri pesan. Orang-orang yang match denganku bisa dibagi dalam tiga kategori. Pertama, mereka benar-benar percaya aku Joseph Stalin. Mereka suka memujiku. Kedua, mereka mulai menyadari ada yang enggak beres setelah kami ngobrol.

Ada yang mengirim pesan kayak gini kepadaku: “Aku baru sadar ngobrol sama diktator. Aku harusnya rajin baca bio orang sebelum swipe.” Ketiga, mereka penggemar Stalin atau pakar sejarah. Dengan orang-orang ini, aku bisa membahas Perjanjian Lenin, pembunuhan Trotsky dan menggunakan emoji arit sesuka hati.

Sedikit sekali yang terganggu dengan ulahku mengambil identitas seorang tiran, seenggaknya tak ada orang yang mengonfrontasi aku tentang ini. Alex malah nge-chat, “Aku siap kok berbagi Gulag sama kamu ;)” Cailah!

Stalins Tinder-Chats mit mehren Usern
Siapa sangka, sosok Stalin muda ternyata laku banget di aplikasi kencan ini.

Selanjutnya, aku match dengan Sofia berkat super-like. Menurut profilnya, perempuan 30 tahun itu ingin “bertukar pikiran sebelum ena-ena” ( “exchange thoughts before bodily fluids”).

Dia memulai percakapan dengan bahasa Rusia, menanyakan “Lho, kamu masih hidup?” dan lanjut bertanya apakah aku bangkit dari kuburan untuk mengembalikan komunisme. Aku mengandalkan Google Translate dan kemampuan bahasa Rusia semasa sekolah dulu untuk membalas, “Di manapun aku berada, di situlah letak komunisme.”

Stalin gadungan terus mendapat match dan pesan baru. Pada Senin, profilku mendapat 100 match. Dua hari kemudian, aku mencapai angka 200. Aku chatting menggunakan bahasa Rusia, Inggris, dan Jerman dengan pengacara, mahasiswa, dan seniman tato. Saking sibuknya membalas pesan orang lain, aku sampai lupa menanggapi Sofia. Dia mengirim pesan kalau aku jarang ngomong.

Aku mencari bahan omongan tentang Uni Soviet yang enggak bisa melakukan industrialisasi tanpa bantuan penguasanya. Aku beralasan Stalin yang parnoan enggak gampang memercayai orang dan harus melakukan semuanya sendiri. Sofia meyakinkan kalau aku bisa memercayainya karena dia bukan mata-mata. Dia menjebakku, makanya aku membalas: “Aku baru bisa mengetahuinya kalau sudah bertatapan mata.”



Aku mengajaknya bertemu di bekas sektor Soviet di Berlin timur, dan Sofia setuju. Aku bilang akan mengenakan jaket timnas Jerman Timur vintage, karena itu satu-satunya pakaian yang cocok yang aku temukan di lemari.

Awalnya aku mengira Sofia enggak akan menemuiku. “Udah di sana?” bunyi chatnya pada pukul 8 malam. Aku yakin dia ngechat kayak gitu cuma untuk memastikan aku menunggunya kayak orang bego di tengah guyuran hujan. Mungkin ini caranya balas dendam. Mengerjai orang yang bikin akun palsu dan berpura-pura sebagai tiran yang bertanggung jawab atas kematian yang tak terhitung jumlahnya. Lagi pula, lelucon ini enggak lucu sama sekali.

Tapi ternyata, dia beneran datang. “Sofia,” katanya mengenalkan diri. “Aku Joseph,” jawabku sambil membalas jabatan tangannya.

“Oh, nama aslimu Joseph?” tanyanya. Dia mengisap puntung terakhir, lalu menginjaknya sampai mati. Sofia lebih tinggi dariku, dengan rambut cokelat sebahu. Tak seperti Sofia, penampilanku jauh dari profil Tinder Stalin. Aku sama sekali enggak mirip dengan sang diktator. Aku juga lebih percaya diri di internet. Aslinya aku sangat pemalu.

Die Chatprotokolle von Sofia und Stalin
Begini cuplikan percakapanku dengan Sofia. Silakan dibaca, kalau kalian bisa bahasa Jerman hehehe...

Sofia tampaknya bersyukur aku bukan perwira Stasi, dan aku lega dia bukan anggota The Association of Victims of Stalinism yang mengiyakan ajakan kencan untuk menyerangku.

Berhubung Prassnik—bar remang-remang di Berlin-Mitte—sedang penuh, kami terpaksa duduk di luar kehujanan. Sebelum kami mencari minum, aku bertanya: “Kenapa kamu setuju ketemuan sama orang yang pura-pura jadi Joseph Stalin?”

Mustahil kalau Sofia enggak punya pilihan lain, karena cewek satu ini sangat cantik, cerdas dan jenaka. “Kayaknya seru gitu,” jawabnya. Sofia bilang lebih menarik daripada berkencan dengan cowok yang suka memamerkan six-pack.

Setelah mendapat tempat duduk kosong dan kering, Sofia bercerita tentang dirinya. Dia guru bahasa Jerman, dan tumbuh besar di dekat perbatasan Jerman-Polandia. Dia menceritakan seperti apa rasanya merantau ke Moskow setelah lulus kuliah, sedangkan dia enggak bisa bahasa Rusia sama sekali. Akhirnya, dia memutuskan untuk mengambil studi Slavia.

Aku mulai melupakan peranku sebagai Stalin saking keasyikan ngobrol. Aku juga enggak sengaja menyebut nama asli. “Paul siapa?” tanya Sofia.

Saat Sofia pergi ke kamar kecil, aku mengecek HP dan melihat ada lusinan notifikasi dari Tinder. Aku mencoba menahan keinginan untuk membalasnya, tapi gagal. Setiap 30 detik sekali, ada saja lelaki yang jatuh cinta dengan Stalin. Emre memujinya “magical”. Egion, lelaki botak dengan jenggot beruban, minta nomor WhatsApp. Katanya dia mau jadi yang mengatur suasana saat kita ngeseks. Dia enggak tertarik dengan saranku buat ciuman persaudaraan sosialis.

Sekembalinya Sofia dari kamar kecil, aku langsung meletakkan kembali ponsel dan menjelaskan maksudku sebenarnya. Aku mengaku bekerja sebagai penulis, dan eksperimen kecil-kecilan ini untuk bahan tulisan. Sofia berusaha mencernanya, dan kurang antusias saat mendengarnya. “Jadi kamu diam-diam merekam pembicaraan kita?” tanyanya, setengah bergurau. Entah mengapa, Sofia enggak pergi. Kami mulai membayangkan akan dibawa ke mana hubungan ini kalau kencannya sungguhan. Kami juga membayangkan kamar Sofia penuh poster dan memorabilia Stalin.

Saat kami kencan, Sofia enggak bisa minum berat karena keesokan harinya dia harus memberikan ujian. Kami hanya menonton orang-orang yang sibuk ajojing di lantai dansa, sebelum akhirnya kami berpisah. Kami mengucapkan selamat tinggal, dan bikin rencana nonton teater bareng.

Keesokan paginya, aku berterima kasih kepada Sofia untuk “kencan yang sangat menyenangkan” dan menanyakan soal ujiannya. Di hari yang sama, aplikasi Tinder memberikanku peringatan karena memposting konten sensitif di profil. Nomor Rusia juga menghubungiku tanpa henti.

Setiap diangkat, yang aku dengar cuma suara dengungan saja. Aku rasa ini waktunya aku menutup akun Tinder Stalin. Tapi sebelum dihapus, aku mengirim nomor asliku ke Sofia. Sayangnya, aku enggak pernah mendengar kabar darinya sejak saat itu.

Tagged:
Tinder
Features
Sejarah Dunia
Joseph Stalin
Diktator
Kencan
Aplikasi Kencan
Ideologi
Uni Soviet
Sosialisme