Travel

Mengikuti Ojek Ekstrem Bertaruh Nyawa, Mendaki Gunung Lewati Lembah

Kontributor VICE, Iqbal Lubis, mengikuti para pengendara ojek dari Masamba menuju Rampi, lokasi terpencil di jantung Sulawesi Selatan. Tarif naik ojek ini konon termahal di Indonesia, sekali jalan Rp1,5 juta.

oleh Iqbal Lubis
28 Januari 2019, 8:48am

Pengendara ojek berusaha melewati jalan tanah berlubang dan menanjak yang menguras tenaga. Semua foto oleh penulis.

Perjalanan belum setengah jalan, baru 10 dari total 86 kilometer yang harus dijajal. Tapi Syam Anggi Saputera, 21 tahun, merasa sudah waktunya para pengendara ojek beristirahat. Ia duduk di atas batu besar sembari menghindari sengatan matahari yang berhasil menembus kanopi kayu hutan.

Sembari melepas lelah, mata Syam melihat sekitar. Hanya ada pohon-pohon tinggi menjulang, tebing yang nyaris berdiri vertikal, serta gundukan tanah bercampur batu di sana-sini jejak longsor kecil yang terjadi entah berapa hari lalu.

Betapa terjal dan tak masuk akal jalanan yang baru saja ia lalui dari Masamba, Sulawesi Selatan, ke tempat ia berada sekarang. Umpatan sekaligus pertanyaan begitu saja meluncur dari mulutnya. "Apa yang dipikirkan nenek saya dulu? Kenapa bisa bangun rumah dan tinggal di Rampi?" katanya dengan dialek Bugis kental.

1548659436599-Ojek-Rampi-Menantang-Maut-29
Pengendara ojek menuju Rampi wajib dibantu agar bisa lepas dari jeratan lumpur tebal.

Syam dan beberapa pengojek lainnya sedang berjalan menuju Rampi, sebuah kecamatan terpencil di Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Jika ada yang bertanya di mana Rampi berada, orang biasa menjawab tepat di tengah Pulau Sulawesi, oleh sebab itu ia sering disebut jantung Sulawesi.

Meski letaknya tepat di tengah, tak berarti ia jadi tempat yang strategis. Untuk menuju ke sana hanya ada dua alternatif: naik pesawat kecil Susi Air yang berangkat dua kali seminggu atau ojek-ojek tangguh yang rela bermalam di hutan untuk mengantar apapun atau siapapun yang mereka angkut.

Syam tergiur menjadi ojek Rampi karena biaya sekali mengangkut tidak main-main. Untuk mengangkut 1 kilogram barang Syam dibayar Rp 7 ribu-Rp10 ribu. Jika hendak mengantar orang, maka ongkosnya adalah Rp800 ribu pada musim kemarau dan Rp1,5 juta saat musim hujan buat layanan pulang-pergi. Tak heran beberapa media pernah menjuluki tarif layanan ojek di Sulsel ini sebagai yang termahal di Indonesia.

Beberapa kali ia dan beberapa teman menjungkalkan motor ke jurang, tapi ia tak pernah mengalami kecelakaan fatal. Pengalaman-pengalaman itupun tak membuatnya ia kapok jadi ojek Rampi. “Meski capek dan penuh bahaya saya tetap mengojek untuk anak dan istri di rumah” ujar pria asli Rampi yang sudah tiga tahun belakangan menekuni bisnis ojek,

1548659704110-Ojek-Rampi-Menantang-Maut-15
Sebgaian besar jalur pengojek Rampi adalah pinggiran tebing dan jurang yang terjal. Foto oleh Iqbal Lubis
1548663644494-Ojek-Rampi-Menantang-Maut-35
Jalur motor di tanah yang terbelah. Foto oleh Iqbal Lubis

Berbeda dengan Syam yang belum berapa lama jadi sopir ojek, Hambi Jani, 38 tahun, sudah makan asam garam jadi ojek Rampi. Sudah delapan tahun ia bergelut jadi pengojek di sana, membuatnya jadi lebih senior dibanding sopir-sopir lainnya. Hambi dan beberapa rekannya baru saja melakukan perjalanan ojek mengantar barang dari Rampi menuju Masamba. Hari mulai gelap sehingga ia tidak bisa melanjutkan perjalanan menuju Masamba dan memilih beristirahat di sebuah pos yang dikenal dengan nama pos atap seng.

Beberapa kali ia berhadapan dengan guyuran huja saat hendak menuju Masamba, oleh sebab itu mantel di badannya tak pernah lepas. "Saat hujan jalurnya akan semakin sulit, makanya kami jarang jalan sendiri, terkadang kami harus saling membantu untuk mendorong motor yang terjebak di lumpur dan longsor," katanya.


Tak ada jalur mulus dalam perjalanan menuju rampi semua jalur punya kesulitan dan tantangan masing-masing. Saat perjalanan 10 km dari masamba para pengojek akan mendapatkan jalur sempit di tengah hutan dan perkebunana yang rapat. Melewati beberapa anak sungai.

Selanjutnya pengojek bakal bertemu jalan tanah pasir licin dan berlubang. Lubang-lubang itu membentuk terowongan bekas ban motor. Andai setir salah berbelok, maka motor dijamin tidak akan bisa berjalan.

Lepas dari tempat peristirahatan kilometer 10, para pengojek harus kembali menghadapi rintangan yang makin ekstrem. Di beberapa ruas, ada jalan-jalan yang hanya bisa dilalui oleh satu motor. Jadi para pengojek harus antri menunggu motor di depannya tuntas menyusuri ruas baru bisa jalan kembali.

"Saya pernah terjatuh di jalur itu, mungkin 10 meter motornya terguling ke bawah. Motor saya lepaskan dan syukur saya baik-baik saja tidak mati," kata Moli, pengendara ojek yang kini berusia 27.

1548659498761-Ojek-Rampi-Menantang-Maut-3
Hambi Jani berfoto di dekat motornya saat berada di posko peristrahatan menuju Masamba. Foto oleh Iqbal Lubis

Dekat Desa Leboni, desa pertama memasuki Kecamatan Rampi, ada jalan yang wujudnya seperti terowongan, terbentuk secara alami karena tanahnya terbelah. Ruas itu hanya bisa dilalui satu motor, dan untuk menyusurinya butuh waktu setidaknya satu jam karena tanah begitu licin.


Tonton dokumenter VICE Indonesia bersama Tipi Jabrik memburu motif tato klasik di Filipina yang terancam punah naik motor:


Rintangan-rintangan seperti ini yang membuat para pengojek menghabiskan waktu belasan jam di jalan menuju Rampi, bahkan kadang harus sampai menginap.

Harga barang-barang dan kebutuhan pokok di Rampi juga mahal akibat susahnya akses transportasi darat. Harga sembako di sana lebih mahal Rp5 ribu-Rp10 ribu dari harga pasaran, sementara bensin mencapai Rp25 ribu per liter.

1548659681596-Ojek-Rampi-Menantang-Maut-38
Para pengojek melintas di jalur padang rumput yang becek saat tiba di kecamatan Rampi. Foto oleh Iqbal Lubis

Tak semua pengojek Rampi-Masamba adalah sopir penuh waktu. Ada pula yang menjadi ojek untuk mengisi waktu, seperti Ikram, 17 tahun. Pemuda yang masih duduk di bangku SMA kelas 2 ini memanfaatkan waktu lowong ketika jadwal sekolah sedang tak tentu.

"Karena tergantung gurunya ada atau tidak," katanya. "Daripada saya kosong saat tidak sekolah karena guru jarang masuk, lebih baik saya mengojek dan dapat uang buat menabung," ujar Ikram yang belum setahun menjajal jadi pengendara ojek.

1548659740136-Ojek-Rampi-Menantang-Maut-27

Meski tak ada catatan pasti, saat ini diperkirakan ada 200-an tukang ojek yang melayani rute ekstrem Masamba-Rampi. Beberapa tahun belakangan ini ada wacana pembangunan dan perbaikan jalur di ruas yang berbahaya ini. Pemerintah provinsi Sulawesi Selatan rencananya bersiap mengerjakan pembangunan jalan aspal mulai 2019.

Penduduk Kecamatan Rampi, yang jumlahnya sekitar 3.000-an jiwa, berharap mereka mendapat akses transportasi yang lebih baik di masa mendatang. Walau tak jelas kapan bisa tercapai, namun mereka memilih terus berharap. Termasuk para pengendara ojek yang tiap hari harus bertaruh nyawa.

"Kalau jalanannya sudah bagus saya sudah tidak akan mengojek lagi," kata Syam. "[Saya] akan mengurus lahan perkebunan saya di Leboni."