Demam Beatboxing Menjalar di Timur Laut India, Bikin Ibu-Ibu Kalang Kabut

Komunitas di Bangalore menggelar kompetisi beatbox, menandai tren menguatnya subkultur ini di kalangan anak muda setempat. Bagaimana bisa?

|
Jan 3 2019, 8:30pagi

Revolusi kultur Beatbox sedang menyebar dari kawasan timur laut India

Rupanjali Mahanta, seorang ibu rumah tangga di Kota Guwahati, kalang kabut ketika putranya mengunci pintu kamar suatu pagi, dua tahun lalu. Dia ingat mendengar “suara aneh” dari e kamar anaknya. Dev Darshan Mahanta, 21, akhirnya keluar kamar sejam kemudian. Waktu itu, Mahanta sedang sibuk latihan vokal untuk ikut kompetisi India Beatbox Championship di Kohima. Acara ini adalah kompetisi beatbox nasional pertama di India.

Mahanta, atau yang lebih dikenal sebagai Spyro di arena beatbox, masih geli sekaligus tegang setiap mengingat peristiwa itu sekarang. Dia tegang karena mau tampil di acara beatbox terbesar di India pekan lalu. Mahanta mewakili Assam dalam kompetisi yang diselenggarakan BBX India, platform untuk para beatboxer India, pada 14-16 Desember 2018 di Bengaluru. Pesertanya datang dari berbagai daerah, seperti Rajasthan, Kashmir, Tamil Nadu, Delhi, Maharashtra, Benggala Barat, hingga Karnataka, untuk memenangkan kompetisi. Kejuaraan ini nantinya akan membawa mereka ke nominasi World Beatbox Championship di Berlin tahun depan (kami masih menunggu detail acaranya).

Beatbox awalnya muncul sebagai bagian dari hip-hop pada masa 1980-an di Amerika. Jenis musik ini mulai menarik perhatian orang India selama beberapa tahun terakhir, terutama di wilayah Timur Laut India. Faktanya, kompetisi Indian Beatbox Championship r es e e s d baru diakui internasional setelahfe d fffffff d f Fu acarad tersebut,” kata salah satu penyelenggara Otto Yeptho.

1544549427069-FB_IMG_1543498765535
Dev Darshan Mahanta, dikenal dengan julukan Spyro, dia jago fluteboxing.

Mahanta awalnya melakukan beatbd dox sebagai hobi saja. Dia mulai berkecimpung di dunia ini tidak sengaja sejak masih sekolah dulu. Remaja laki-laki tersebut, yang saat ini sedang terus melatih kemampuan main seruling sambil menciptakan beat lantas bertemu Panda, pendiri North East Beatbox Community (NEBC). Komunitas NEBC beranggotakan 150 beatboxer dari wilayah Timur Laut. Ada sejumlah beatboxer lain yang bergabung, misalnya Assam, dan Mizoram), NEBC menjadi kelompok terbesar yang memungkinkan para seniman lokal saling terhubung.

"Di sini, tiap anggota akan mengunggah video beatbox mereka dan mendukung satu sama lain untuk meningkatkan keterampilan dan tekniknya. Informasi komunitas kami menyebar dari mulut ke mulut, dan sekarang sudah semakin berkembang,” kata Yeptho, seorang anggota asal Nagaland. "Siapapun bisa bergabung di komunitas kami lewat undangan. Seniman akan merekomendasikan komunitas kami ke beatboxer lain di daerah mereka," lanjut Beat Panda. "Para beatboxer muda punya semangat yang besar. Tapi mereka kurang mendapat sorotan ketika membuat musiknya sendiri. Saya rasa kami butuh platform yang bisa mendukung beatbox di sini, makanya saya jadi terinspirasi untuk membentuk komunitas ini."

1544549491604-IMG-20170405-WA0006
Zonimong Imchen dari Nagaland adalah beatboxer senior di kawasan Naga.

Menurut Yeptho, para beatboxer muda menganggap semua tempat sebagai panggungnya, tak peduli mereka sedang di kantin kampus atau kelas. Kebanyakan dari mereka belajar secara otodidak. “Awalnya cuma buat senang-senang dan membuat teman terkesan saja. Tapi sekarang semuanya sudah berubah. Mereka menganggapnya serius, dan ingin menjadikan beatboxing sebagai profesinya,” lanjutnya.

Media sosial menjadi perantara penting, terutama bagi mereka yang tinggal di tempat jauh. “Anak muda dari Arunachal Pradesh dan Mizoram berinteraksi dengan beatboxer lain lewat WhatsApp,” kata Sinha. “Mereka mengirim video beatboxingnya pada grup WhatsApp NEBC. Kalau memang diperlukan, beatboxer senior akan memberi saran kepada mereka supaya bisa lebih baik lagi. Kami saling belajar satu sama lain.”

Meskipun India Timur Laut terkenal dengan perkembangan musiknya, beatboxing masih berupa komunitas yang perlu mengambil alih panggung. “Beatboxer masih dianggap sebagai pelengkap, bukan sebagai seniman yang berdiri sendiri. Kami perlu mengubah anggapan ini, dan perubahannya akan terjadi secara perlahan,” kata Mahanta. Semangat mereka semakin terpacu setiap kali ada anggota baru. “Kami senang tiap ada beatboxer baru yang bergabung dengan komunitas ini. Saya harap kami bisa terkenal suatu saat nanti,” kata Zonimong Imchen, beatboxer Naga yang masih 18 tahun. Imchen adalah salah satu beatboxer yang masuk ke posisi delapan teratas di India saat kompetisi di Kohima dulu.

Raj Kamal alias Raka Vee adalah IT profesional yang banting setir jadi musisi. Penyelenggara Indian Beatbox Championship di Bengaluru ini berujar, "Kami sangat bangga kalau para seniman ini bisa berkembang dan berkarier sebagai beatboxer."

Mereka menjadikan pertemuan dan kompetisi sebagai batu loncatan untuk menghadapi masa depan yang lebih besar. “Kami sering mengadakan pertemuan, dan merasa tergerak karenanya. Kami bisa melancarkan teknik dan meningkatkan keterampilan dengan memerhatikan gaya satu sama lain,” kata Gavin Lotha dari Mizoram. Mereka berharap para beatboxer di daerah tersebut bisa membuat dampak yang besar di Indian Beatbox Championship.

“Saya berjanji akan mengubah kancah beatboxing di India Timur Laut kalau menang kejuaraan ini. Beatboxer berhak masuk ke panggung mainstream. Beatbox harus bangkit. Tidak boleh jadi musik underground terus-terusan,” tutup Mahanta.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE India

More VICE
Vice Channels