Unfollow Me

Haruskah Kita Mengingatkan Pacarnya Mantan Kalau Dia Mengencani Pelaku KDRT Brengsek?

Berkat media sosial, makin gampang mengawasi perilaku mantan yang kita putusin karena ringan tangan. Masalahnya, perlu enggak sih kita kasih tahu pacar baru mantan kita, kalau orang yang dia pacari itu bajingan?

oleh Kate Lloyd
21 November 2018, 1:40pm

Ilustrasi oleh Calum Heath 

Setiap tahun, perempuan dibunuh oleh tukang stalking dan pelaku kekerasan dalam rumah tangga—bahkan setelah korban melaporkan kasusnya pada pihak berwajib. Unfollow Me adalah sebuah kampanye dari Redaksi Broadly demi menyeroti kasus-kasus penguntitan dan KDRT yang jarang dilaporkan korbannya. Baca semua artikel Unfollow Me di sini.


Mantan pacar Rachel, Dan, menguntit Rachel selama berbulan-bulan semenjak mereka putus. Lalu, September lalu, Dan berhenti menguntit Rachel. “Awalnya, aku pikir. Bagus deh kalau begini,” ujar perempuan 27 tahun asal London itu. "Tapi temanku melihat di Instagram Dan sudah punya pacar baru. Mendadak, aku merasa khawatir."

Sebelum putus bulan Mei tahun ini, Rachel dan Dan berpacaran dua tahun. (Semua nama penyintas dalam cerita ini diganti untuk melindungi keselamatan mereka). Dan sering mencaci maki Rachel dan mengatakan jika Rachel bikin dia malu setelah keduanya jalan berdua. Bahkan, pernah suatu kali, Dan menghantamkan tubuh Rachel ke tembok. "Dia jago sekali bikin aku berpikir tak ada opsi lain (selain pacaran dengan Dan) dan perlakuan buruknya padaku adalah salahku," katanya. “Jika kamu dibilang bodoh terus menerus, ujung-ujungnya, kamu bakal mikir 'Gue memang bodoh kok.'"

Akhirnya, Rachel berhasil mengakhiri hubungan yang tak sehat itu. Tak terima, Dan terus-menerus menguntitnya, menelepon tanpa henti dan mengontak atasan serta semua kerabat Rachel yang dia kenal. Dia juga log in ke akun Facebook Rachel lalu mengancam akan menyerang semua orang yang diajak ngobrol Rachel lewat fitur messenger. Dan pernah mengirimkan permintaan paypal palsu sehingga Rachel harus memilih antara membalas pesan dan atau membayar sejumlah uang padanya. Rachel sempat melaporkan tindakannya ke polisi agar Dan bisa dikenai pasal harassment order. Lalu, tiba-tiba, Dan tak lagi muncul.

Rachel menduga Dan berhenti menguntitnya karena satu alasan: Dan menemukan perempuan lain sebagai korbannya. Rachel ingin memperingatkan perempuan itu. Dia mulai merancang pesan yang akan dia kirim via DM Instagram. "Pesan yang pertama membeberkan segala hal yang dilakukan bajingan itu pada saya. Aku ngomong panjang lebar dan isinya jelek banget lah," katanya. "Pesan yang nyaris aku kirimkan lebih halus dari itu. Intinya, aku bilang jika mantankumulai bertingkah dan mengeluarkan perkataan yang merendahkan, dia tak sendirian. Aku pernah mengalami hal yang sama."

Pesan tadi tak pernah dikirim Rachel. "Temanku bilang rencanaku berbahaya. Dan akan meledak dan mulai menghubungi saya lagi,” katanya. “Mereka tak mengerti. Aku merasa ini bagian dari tanggung jawabku. Aku punya informasi yang bisa menyelamatkan dirinya dari pengalaman buruk yang menimpaku."

Kendati teman-teman Rachel gagal memahami tanggung jawabnya pada pacar baru Dan, kebanyakan penyintas kekerasaann dalam rumah tangga dan korban penguntitan paham betul posisi Rachel saat ini. Rasa bersalah penyintas tetap menghantui meski trauma mereka mulai menghilang. Mereka merasa keselamatan pasangan baru mantannya berada di tangan mereka. Sejumlah penyintas penguntitan mengaku pada Broadly bahwa emosi yang mereka rasakan mencakup rasa bersalah, kegamangan dan bahkan rasa pusing. Mereka memaparkan bahwa perasaan-perasaan ini menambah lapisan trauma baru pada rasa rendah diri dan malu yang disebabkan pelecehan yang mereka alami.


Tonton dokumenter VICE mengenai para perempuan di Kenya yang belajar tinju demi melawan balik maraknya kekerasan seksual:


Mudah sekali memahami kenapa para penyintas merasa memiliki kewajiban menjadi penjaga keselamatan pacar baru mantan mereka kendati hubungan asmara mereka sudah lama berakhir—dan jelas-jelas itu bukan tanggung jawab mereka. Berkat kehadiran medsos, kini kita lebih mudah melacak tingkah polah mantan pasangan kita yang bajingan. Lebih jauh, kita kini bisa mengetahui kapan mantan kita kembali menjalin hubungan asrama (baca: menemukan korban baru). Ingin mengontak pacar baru mantan? Gampang.

Kamu cuma perlu menekan satu tombol saja kok. Laporan pemerintah Inggris tahun 2015-2016 menaksir ada sekitar 25.000 pelaku KDRT dan penguntit di seantero Inggris. Saat ini, pihak berwenang tak bisa berbuat banyak untuk memperingatkan calon korban bajingan-bajingan ini. Hal ini terjadi karena pihak berwenang belum secara proaktif mengenali dan mengawasi tindak tanduk mereka.

Sejauh ini, pihak berwenang hanya bertumpu pada laporan individu dari satu korban ke korban lainnya. Alhasil, korban harus memilih satu dari dua opsi yang sama-sama tidak menguntungkan: mempertaruhkan keselamatan mereka demi memperingatkan pacar baru mantannya atau hidup dibayangi rasa bersalah karena tak angkat suara.

Jika Rachel masih berusaha berdamai pelecehan yang pernah dia alami, Grace sudah lebih setaahun ini berusaha memahami perasaan bersalah yang kerap dimiliki para penyintas. Perempuan berusia 25 tahun asal London pernah menjalin hubungan dengan atasannya, Jason. Saat itu, usianya baru 21 tahun sementara Jason 15 tahun lebih tua. Awalnya, Jason terkesan mencintai dan menyayangi Grace Namun, lamban laun Jason mulai mengontrol segalanya hingga apa yang dimakan Grace dan kerap melakukan pelecahan seksual.

Ketika hubungan itu berakhir pada 2016, Jason terus meneror Grace lewat email dan pesan sms. “Akhirnya dia bilang akan mengiris nadinya jika aku tak menghubunginya. Aku panik dan langsung memanggil ambulan,” Katanya. “Petugas ambulan datang ke rumah Jason bersama beberapa anggota polisi. Di dalam, Jason ternyata sedang asik main videogame. Dia ditangkap dan diperingatkan agar tak menggangguku. Aku tak lagi mendengar kabarnya setelah itu.”

Tatkala tahu Jason punya pacar baru, Grace berusaha tak memikirkannya barang sedikit pun. Konseling cukup membantu kekalutannya. Namun, bagaimanapun, itu tak membantu menghilangkan rasa bersalah seorang penyintas dalam diri Grace. “Setahun ke belakang, aku selalu merasa gelisah akan keselamatan pacar baru Jason. Aku sering memikirkannya,” kenang Grace. “Aku mengemban tanggung jawab untuk bercerita tentang kelakuan bajingan Jason karena polisi tak bisa melakukannya. Dan aku tahu Jason tak akan menceritakan pengalamannya denganku.”

Di sisi lain, Grace khawatir apa yang dilakukan akan memperburuk keadaan sebab bisa saja pacar baru Jason sudah terlalu terbius oleh tipu daya Jason dan menganggap hubungan asrama mereka paripurna. Hal yang sama juga dikemukakan oleh Rachel. "Aku akan merasa lebih lega jika pacar Dan menghubungi aku duluan. Tapi aku sangsi juga sih. Dulu waktu kami baru jadian, Dan bilang dia putus dengan pacarnya karena perilaku ceweknya kelewatan."

Grace dan Rachel berhak khawatir akan konsekuensi yang keduanya tanggung gara-gara memperingatkan pacar baru mantan mereka. Belum lagi, tak ada jaminan apa yang diungkapkan keduanya bakal langsung dipercaya pasangan baru mantan mereka. Laura Richard dari Paladin, sebuah organisasi dana sumbangan anti stalking memperingatkan akan hak ini: "Bahaya yang paling inheren adalah kita tak akan dipercaya oleh pasangan baru mantan kita dan kita akan menanggung akibatnya. Kita selalu berhadapan dengan risiko yang besar jika berhadapan dengan para bajingan seperti ini karena mereka termasuk orang-orang yang paling berbahaya."

Tentu saja, bakal menjadi sebuah pengalaman yang traumatis jika seorang penyintas berusaha menghubungi pacar baru mantan kekasih mereka dan ternyata mereka tak dipercaya sama sekali. Lauren, perempuan yang kini berusia 47 tahun dan menetap wilayah barat Inggris, pernah mencoba memperingatkan pacar baru mantan pasangannya James tentang 11 tahun penuh kekerasan dalam rumah tangga yang pernah dia dan anak-anaknya alami.

Pertama kali James dan Lauren berpacaran, James tampil bak seorang pacar yang sempurna. Semua berubah saat dirinya hamil. "Suatu malam dia mendorongku dari kasur sampai jatuh ke lantai," katanya.

Suatu hari, pada 2015, James memberitahu Lauren bahwa dirinya punya pacar baru. Saat itu, Lauren tengah berkukuh mengakhiri hubungannya dengan James. Dan, dia sedang berusaha mengusir James.

Lauren lantas mengontak pacar baru James. Niatnya sih untuk memperingatkan agar nasib perempuan itu tak berakhir seperti dirnya. “Kami ngobrol di telepon. Aku bilang James pernah diberi peringatan karena melakukan kekerasaan dalam rumah tangga,” ujar Lauren. “Dia meremehkan apa yang aku sampaikan. Katanya James sudah menceritakan semuanya dan menurutnya Jason sangat jujur. Jason bilang aku yang kelewatan dan mengingatkan jika aku akan menelepon dirinya.”

Tara (21) dari Cambridge, mengaku pernah menganggap enteng peringatan bekas pasangan pacarnya tentang kelakuan pacarnya yang berengsek. “Aku cuma ketawa saja sih,” tuturnya. “Pacarku bilang mantannya cemburuan dan terus mengontak dia untuk minta balikan. Aku percaya saja waktu itu. Kami putus setahun kemudian. Aku akhirnya paham apa yang perempuan itu katakan. Dia jelas bukan mantan yang sinting. Dia cuma ingin memeringatkan aku tentang kecenderungan pacarku mengatur-ngatur semuanya dan sifatnya yang cenderung ringan tangan.”

Sadar dengan reaksinya saat itu, Tara jadi enggan membeberkan tingkah bajingan mantannya. “Aku merasa tak berdaya karena aku tak bisa membantu atau setidaknya memperingatkan pacar baru mantanku,” kata Tara. “Aku tak punya alasan kenapa dia tak akan mendengarkan dan mempercayaiku.”

Lalu. apa ada solusinya untuk mendobrak dilema penyintas kekerasan dalam pacaran atau rumah tangga? Mereka yang kerap mengadvokasi para penyintas kekerasan seksual kerap menegaskan bahwa semestinya tanggung jawab menjembreng kebrengsekan seseorang tak terletak pada para penyintas. "Jika kamu ingin memperingatkan orang lain pikir-pikir lagi," ujar Richard. "Kamu pasti menginginkan cara yang lebih aman dan dalam forum yang di dalamnya mencakup keterlibatan polisi."

Richard percaya hanya kebijakan pemerintah yang bisa menggeser tanggung jawab dari bahu penyintas ke polisi. Sebuah daftar penguntit bisa dibuat oleh polisi untuk mengawasi gerak-gerak pelaku kekerasan seksual berantai dan memperingatkan pasangan baru mereka atas tingkah polah para pelaku di masa lalu. Daftar semacam ini tak hanya akan melindungi calon korban sebelum benar-benar menjadi korban kekerasan, tapi juga membuat para penyintas tak lagi merasa terbebani dengan kewajiban yang jika dipenuhi akan membahayakan mereka.

Lagipula, daftar para penguntit, kata Richard, barangkali akan mencegah perempuan seperti Lauren dan Grace menjalani hubungan dengan lelaki bajingan pelaku kekerasaan seksual. Di samping itu, daftar itu juga akan meringankan rasa bersalah para penyintas. Lauran misalnya tak akan sudi mengontak pacar baru mantannya jika polisi punya kewajiban yang sama. Bagi Grace, daftar penguntit "akan melenyapkan rasa tanggung jawabku pada pacar baru Jason. Daftar itu akan membebaskanku sepenuhnya."

Saat ini, yang bisa dilakukan semua penyintas adalah berharap pacar baru mantan mereka tak harus mengulangi penderitaan mereka. Rachel sampai ini masih memikirkan keselamatan pacar Dan saat ini.

"Aku masih merasa bersalah. Mungkin, aku harus ngomong sesuatu."

Artikel ini pertama kali tayang di Broadly