Iklan
Pertanyaan Para Pemalas

Bisakah Kita Menganggap Seks Sebagai Pengganti Olahraga?

Kalau kamu pernah pakai alasan udah 'bobok enak' tadi malam biar enggak lari pagi atau olahraga di gym, maka ini artikel yang tepat buatmu.

oleh Leila Ettachfini
06 Desember 2018, 8:52am

Foto ilustrasi oleh Broadly

Bagi banyak orang, olahraga itu sesuatu yang dilakukan bukan karena mereka mau, tapi lebih seringnya gara-gara terpaksa. Ada sih orang yang menikmati rasa puas setelah mengalami kelelahan fisik, tapi kebanyakan manusia mah malas. Yakali kita mencari rasa puas dari kecapekan dengan cara bangun pagi sebelum kerja, pergi ke gym, lalu sibuk mempersiapkan pakaian (belum termasuk mandi dan ganti bajunya) sebelum lari. Ribet bos.

Intinya, olahraga tuh salah satu aktivitas yang bikin malas manusia buat melakukannya. Gimana kalau olahraga bisa enak dari awal sampai akhir, dengan keuntungan fisik yang sama? Atau, dengan kata lain, bisakah seks yang jelas lebih menyenangkan dihitung sebagai olahraga. Kalau diajak lari pagi sama temen kan males, tapi coba ajakannya diganti ngews, cowok-cewek pasti semangat.

Broadly ngobrol bareng Dr. Christopher Vincent, dokter spesialis olahraga dan salah satu pendiri pusat kesehatan di Santa Monica, Altus Sports Institute, untuk mencari tahu apakah seks bisa dihitung sebagai aktivitas pengganti olahraga.

Menurut Dr. Vincent, rangkaian seks—dari foreplay hingga intercourse—sebenarnya bisa dihitung sebagai olahraga, tapi enggak selalu punya manfaat setara. Ada tiga faktor yang harus dipertimbangkan demi menjawab pertanyaan ini katanya. Pertama, apakah aktivitas seksnya mempengaruhi denyut jantung, otot, dan otak.

"Jika hubungan seksmu penuh gerak tubuh dan pasanganmu juga sering bergerak, ya itu sudah pasti bisa dianggap olahraga," kata Dr. Vincent. Namun, jangan lupa, dalam hubungan seks kalau satu orang lebih aktif daripada pasangannya dan lebih banyak bergerak, berarti cuman satu orang yang mendapatkan keuntungan fisik olahraga.

"Dari sisi fisik, ada dua bagian yang harus terjadi untuk dianggap olahraga, yaitu adaptasi kardiovaskular dan otot," ujar Dr. Vincent. "Semakin banyak kamu melelahkan sekian bagian otot spesifik, semakin banyak keuntungannya. Secara kardiovaskular, semakin tinggi denyut jantungmu untuk waktu yang lebih panjang, makin banyak pula keuntungan kardiovaskularnya."

Penelitian menunjukkan durasi rata-rata hubungan seks manusia dewasa antara 5,4 dan 9 menit, dengan keseluruhan pengalaman seksual antara pasangan heteroseksual berdurasi rata-rata 19 menit—jauh lebih pendek daripada sesi gym. Kalau melihat hasil penelitian lainnya, pasangan lesbian menghabiskan waktu "jauh lebih banyak pada pengalaman seksual individu daripada laki-laki dan perempuan dalam hubungan sesama atau berbeda jenis."

"Jika hubungan seksmu penuh gerak tubuh dan pasanganmu juga sering bergerak, ya itu sudah pasti bisa dianggap olahraga."

Ketika tekanan darahmu naik dengan stimulasi seksual, otot ikut bekerja. Apakah gerak otot saat ho'oh cukup dianggap sebagai olahraga? Tergantung pada beberapa faktor. Menurut Dr. Vincent, logika dari pertanyaan-pertanyaan berikut bisa membantumu menentukan apakah seks yang kamu lakukan bersama pasangan sudah cukup setara olahraga:

  • Kamu menggunakan posisi apa saja saat bercinta?
  • Seberapa rumit gerakanmu dan pasangan ketika melakoni seks?
  • Seberapa capai/tersengal-sengal napasmu dan pasangan sesudah bercinta?
  • Seberapa sakit ototmu sesudah seks?

Menurut Dr. Vincent, jika posisi seksual yang kamu gunakan menantang daya tahan fisikmu, jika kamu menjadi tersengal-sengal, atau jika kamu sakit dan pegal setelah melakukan seks, “kemungkinan kamu mendapatkan keuntungan fisik.” (Saat aku menulis cerita ini, teman laki-lakiku mengatakan ketika dia lagi melakukan foreplay, seperti fingering, "benar-benar kerasa di otot."

Kesamaan antara seks dan olahraga bukan hanya seputar fisik—tetapi juga berlaku pada otak. "Ada korelasi antara olahraga dengan otakmu dalam hal pelepasan hormon," kata Dr. Vincent. "Kalian mungkin pernah mendengar konsep ‘runner’s high,’ atau rasa euforia yang ditimbulkan hormon dan endorfin yang dilepas sesudah olahraga. Sensasi itu mirip banget sama yang terjadi sama hormon yang dilepaskan tubuh saat melakukannya, setelah seks, atau ketika orgasme. Semua aktivitas itu memicu pelepasan prolactin, oksitosin, epinephrin, dopamin, testosteron, dan serotonin."

Pendek kata, kamu bisa menganggap seks sebagai olahraga dan mengubah pengalaman seksual kamu menjadi pengganti nge-gym. Tapi belum tentu ambisi itu ide bagus. Sekalipun kamu sering banget bercinta sama pasangan, kemungkinan kamu bisa mendapatkan keuntungan-keuntungan seakan kamu juga pergi ke gym, asal geraknya heboh banget. Kalau kalem-kalem bae mah, enggak cukup memadai buat menggantikan semua kebutuhan tubuh untuk berolahraga. Apalagi ketika kegiatan bercinta kalian malah batal gara-gara satu dan lain hal. Sedih, deh. Yang enak-enak memang tidak bisa memenuhi semua kebutuhan kita.

Artikel ini pertama kali tayang di Broadly