Politisasi Makanan

Tes Sederhana Menguji Kemampuan Kita Stop Impor Pangan: Bedah Bahan Masakan Warung

Di musim pemilu, makanan jadi alat ampuh politikus Indonesia membakar gelora nasionalisme dengan retorika anti-impor. Mungkinkah kita berhenti mengimpor bahan baku dari luar negeri?
12 November 2018, 8:50am
​Contoh makanan khas Indonesia. Tapi berapa banyak bahan bakunya yang tidak dari impor?
Contoh makanan khas Indonesia. Tapi berapa banyak bahan bakunya yang tidak dari impor? Foto oleh penulis.

Musim kampanye untuk pemilihan umum 2019 sudah dimulai. Kedua kubu terlihat sudah mulai adu argumen entah di media-media ataupun lewat medsos. Jika tensi sudah mulai panas begini, apapun bisa dijadikan bahan perdebatan bahkan ejekan. Coba saja lihat kolom berita terpopuler di laman politik berbagai media, sekarang pamor 'politikus genderuwo' sedang di puncak, menggantikan posisi 'tampang Boyolali' yang pekan lalu bertengger di posisi teratas berita politik paling banyak diklik.

Satu hal yang pasti, setiap musim pemilu dan kampanye, pasangan calon pasti akan menyinggung isu makanan. Untuk kepentingan kampanye visual, mereka bakal pergi ke pasar, pegang-pegang dagangan orang, lalu tanya-tanya soal harga. Mulai dari harga cabai, tempe, tahu, kedelai, gula, sampai garam tak akan kelewat diabsen satu per satu.

Apa sih yang dicari di pasar oleh para elit negara itu? Tentu saja panganan yang harganya sedang melambung tinggi. Ini senjata ampuh untuk menjatuhkan petahana. Atau kalau harga sedang bagus dan murah, ini jadi preseden baik untuk membicarakan kesuksesan program pemerintah. Biasanya, setelah ngomongin harga, pembicaraan akan berbelok ke arah ketahanan pangan. Lalu selanjutnya sudah bisa ditebak, akan bicara soal swasembada pangan. Dibumbui nilai-nilai nasionalisme, pasangan calon presiden/wapres biasanya mengajak kita mengutuk pangan impor, lantas menyemangati warga satu nusantara dengan retorika mimpi-mimpi swasembada pangan!

Intinya, di Indonesia, makanan itu lebih dari sekadar apa yang masuk ke mulut. Dari kacamata politik eletoral, makanan adalah komoditas politik. Staf redaksi VICE Indonesia sebelumnya pernah mencari tahu penyebab harga cabai jadi parameter menilai kondisi ekonomi negara. Saking pentingnya makanan, paslon manapun dijamin mendulang banyak suara apabila berjanji menurunkan harga pangan pokok seperti beras, tempe, dan daging dalam kampanyenya. (Termasuk tentu saja aksi nyeleneh pasang petai dan mengomentari tempe setipis kartu ATM).

Maka tidak heran ini menjadi kesempatan emas bagi calon presiden Prabowo Subianto, ‘mengekspos’ bobroknya situasi ekonomi negara saat ini. "Impor-impor itu sebetulnya langkah yang menghancurkan rakyat Indonesia, menghancurkan petani kita sendiri dan melemahkan ekonomi Indonesia karena kita kirim devisa yang langka ke luar negeri," katanya saat berpidato di acara deklarasi relawan akhir bulan lalu.

Calon presiden dari Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) ini bahkan berjanji berusaha mengimpor semua produk pangan seminimal mungkin jika terpilih jadi presiden. Para ahli mengatakan kalau gagasannya mustahil bisa diterapkan di Indonesia karena hanya akan mengacaukan tata niaga. Alasannya apalagi kalau bukan karena sebagian besar bahan pangan kita masih diimpor.

Kenapa harus impor? Bukankah politikus kayak Prabowo ada benarnya? Lho justru industri pertanian kita jadi ambyar, dan enggak pernah akur sama sektor riil perdagangan, gara-gara politik kita terobsesi sama swasembada pangan. Akhirnya kebijakan yang ada hanya fokus menggenjot padi, jagung, kedelai, lalu melupakan pangan-pangan lain. Tak ada pula usaha melestarikan bahan pangan pokok lokal yang sekarang digantikan padi dan gandum.

Duh, panjang dan rumit deh kalau bicara soal pangan. Tentu lebih mudah kalau kita teriak, 'stop impor!' daripada membenahi masalah aslinya. Pada lupa sih, harga makanan murah, petani sedih. Kalau petani agak untung, konsumen ngamuk. Jadi, pertanian emang enaknya dipolitisasi saja, tanpa harus dibenahi akar masalahnya.

Eits, jangan dikira VICE media pro-cebong ya. Semua masalah sektor pertanian yang disebut sebelumnya masih muncul, bahkan dalam sebagian aspek lebih terabaikan, sepanjang era kepemimpinan Presiden Joko Widodo.

Tetap saja, menarik sih untuk menguji seberapa realistis janji khas politikus mengurangi habis-habisan impor pangan. Staf redaksi VICE membeli beberapa masakan khas Indonesia dari warung seberang kantor, untuk memeriksa apakah bahan bakunya hasil impor atau tidak.

Berikut hasilnya:

Hidangan Utama: Sop Buntut, Nasi, dan Lauk

Masakan ini khas banget negara kita. Seharusnya murni pakai bahan-bahan asli Indonesia, ya kan? Maaf, ternyata tidak. Pada semester pertama 2018, Indonesia mengimpor lebih dari 1,2 juta ton beras yang nilainya setara dengan Rp7,3 triliun. Jumlah ini jelas lebih tinggi dari biasanya, dan kemungkinan besar pemerintah membuka keran impor beras akibat kekeringan panjang triwulan II tahun ini.

Foto oleh staf VICE

Kita biasanya makan sup didampingi lauk-pauk seperti tahu dan tempe goreng. Tahu dan tempe berbahan dasar kedelai, yang sebagian besar diimpor juga. Sepanjang 2018, Indonesia mengimpor 1,16 juta ton kacang kedelai, yang kebanyakan datang dari Amerika Latin, Argentina, Chile, dan Brasil. Kedelai juga digunakan untuk produksi kecap manis, yang menjadi penyedap rasa favorit orang Indonesia.

Dagingnya sendiri belum tentu dari peternakan lokal, karena Indonesia mengimpor 77.000 ton daging sapi pada 2018 dari Australia, Brasil, dan Amerika. Supaya sayur ataupun dagingnya asin, kita mengandalkan garam lokal kan? Sayangnya tidak. Dalam kurun yang sama, Indonesia juga mengimpor garam sebanyak 1,55 juta ton dari Australia, India, dan Selandia Baru.


Tonton dokumenter VICE soal sejarah kelahiran mi Belitung yang terkait arus migrasi penduduk Tiongkok dan amat bertaut dengan sejarah Indonesia:


Tak ada yang lebih khas di Indonesia selain sambalnya yang pedas, berminyak, dan bikin nagih karena ada terasinya. Baik pakai sambal terasi atau tidak, yang jelas cabainya diimpor. Awal tahun ini, Indonesia mengimpor 19.000 ton cabai dari Thailand, Vietnam, dan Malaysia. Hargai cabai di Indonesia terkenal terus berfluktuasi, meskipun cabai merupakan bahan terpenting untuk sambal. Menjelang Idul Fitri, sekilo cabai bisa semahal Rp 80.000. Harga yang turun-naik ini adalah salah satu alasan mengapa pemerintah Indonesia memutuskan untuk mengimpor cabai.

Enak, kan? Sekarang waktunya menguji kandungan pencuci mulut. Impor juga atau kagak nih?

Minuman+Pencuci Mulut: Roti Bakar dan Es Kopi Instan

Bagaimana kandungan makanan penutupnya? Iklim Indonesia tidak cocok buat menanam gandum. Artinya, sebagian besar produk yang mengandung gandum dibuat dengan tepung impor, termasuk roti bakar ini. Begitu juga Indomie yang kita puja-puja tiap akhir bulan itu.

Foto oleh staf VICE

Gula, bahan utama hampir semua pencuci mulut, tidak berasal dari Indonesia. Ini disebabkan banyak masalah, tapi masalah terbesar adalah kekurangan pertanian tebu.

Krimer kental manis dibuat dengan susu impor dari Selandia Baru. Alasan utamanya karena kita kekurangan peternakan sapi perah. Bagaimana dengan kopi? Seharusnya Indonesia menjadi pemain utama dalam ekspor kopi karena merupakan negara yang sangat luas. Tetapi kopi instan pun tetap hasil impor. Kementerian Industri sudah mendiskusikan ini dan menaruh perhatian terhadap kopi berkualitas rendah yang masuk ke Indonesia.

Kementerian Industri menyatakan kopi berkualitas rendah ini berasal dari negara-negara tetangga. Nyatanya, bahan pangan yang kita tanam di sini pun banyak yang diimpor juga.

Jadi, apa yang tersisa kalau Indonesia menghentikan semua impor makanan? Bersiaplah meminum secangkir kopi hitam tanpa gula. Itu doang yang bebas bahan baku impor. Kurang mantep dong? Ya paling enggak gampang kalau mau begadang mikirin nasib negara ini di tangan politikus yang doyan jualan janji muluk-muluk tanpa program riil sesuai akal sehat.